BENCANA SOLO : Solo Siaga Bencana Sampai Januari 2017

Sejumlah warga mengikuti kegiatan kerja bakti membersihkan Kali Pepe di dekat Taman Parkir Loji Wetan, Pasar Kliwon, Solo, Minggu (30/10/2016). (Irawan Sapto Adhi/JIBI - Solopos)
30 Oktober 2016 19:40 WIB Irawan Sapto Adhi Solo Share :

Bencana Solo, BPBD Solo menetapkan status siaga bencana sampai Januari 2017 dan bisa diperpanjang sampai Maret 2017.

Solopos.com, SOLO -- Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Solo menetapkan status siaga bencana untuk jangka waktu tiga bulan mulai November 2016 hingga Januari 2017.

Namun, BPBD tidak menutup kemungkinan untuk memperpanjang masa status siaga bencana hingga Maret 2017 apabila nanti masih terjadi hujan dengan intensitas tinggi.

Kepala Pelaksana Harian BPBD Solo, Gatot Sutanto, mengatakan penetapan status siaga bencana ini berdasarkan kajian potensi bencana dan laporan prakiraan cuaca dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG).

Dia menyebut curah hujan tinggi diprediksi mengguyur Kota Bengawan hingga Maret tahun depan dan berpotensi mengakibatkan banjir apabila tidak diantisipasi dengan baik.

"Surat [tentang penetapan status siaga bencana] sekarang masih di Bagian Hukum dan HAM Setda Solo. Penetapan siaga bencana biasanya tiga bulan dulu. Nanti bisa diperpanjang kalau dinilai perlu. Selain berpedoman surat edaran Mendagri, kami tetapkan status siaga bencana berdasarkan kajian potensi dan laporan dari BMKG," kata Gatot saat ditemui Solopos.com di sela-sela kegiatan kerja bakti membersihkan Kali Pepe di Taman Parkir Loji Wetan, Minggu (30/10/2016) pagi.

Gatot menyampaikan pada Januari, Februari, dan Maret 2017 diprediksi terjadi curah hujan paling tinggi di antara musim hujan pada tahun tersebut. Apabila nanti terjadi bencana, BPBD Solo baru melakukan kajian cepat untuk menentukan apakah Solo masuk status darurat bencana atau tidak.

Kajian tersebut mengacu skala besaran dan dampak bencana yang terjadi. "Kami baru tetapkan siaga bencana. Belum darurat bencana. Kami tentu berharap tidak terjadi musibah saat curah hujan tinggi nanti mengguyur Solo. Terkait penetapan status siaga bencana ini, kami sudah melakukan koordinasi dengan sejumlah pihak. Kami ingin melakukan antisipasi dampak bencana sebaik mungkin," ujar Gatot.

Gatot membeberkan dalam masa status siaga bencana, BPBD Solo menyiapkan sejumlah persiapan bencana, seperti mengecek sarana prasarana penanganan banjir, mengecek ketersediaan logistik, hingga membuat pos bersama TNI dan Polri maupun kelompok sukarelawan.

Dia menilai persiapan yang baik bisa mencegah dampak bencana lebih besar. BPBD Solo juga akan menggandeng SKPD lain di lingkungan Pemkot Solo dalam menghadapi masa siaga bencana.

"Kami intensifkan komunikasi dengan sejumlah pihak. Apabila nanti dinilai perlu, kami segera mendirikan pos-pos siaga bencana di beberapa lokasi. Kami siapkan sistem piket lintas SKPD dan TNI-Polri untuk bertugas di pos-pos tersebut," jelas dia.

Dia berharap dengan persiapan itu setiap bencana bisa ditangani dengan cepat. Apabila ada berita bencana, petugas bisa langsung membantu. "Rencana ini sudah kami rapatkan pekan lalu bersama perwakilan TNI, Polri, dan camat," jelas Gatot.

BPBD Solo mengimbau masyarakat tidak tinggal diam. Gatot meminta masyarakat mulai bergerak menghadapi curah hujan tinggi yang diprediksi segera mengguyur Solo. Masyarakat bisa mengantisipasi banjir dengan membersihkan drainase di lingkungan masing-masing.

Menurut dia, banyak drainase yang telah dipenuhi sedimen sehingga tidak optimal menampung air hujan. "Masyarakat kami ingatkan untuk menjaga kebersih. Jangan sampai terjadi lagi peristiawa pada 2 Oktober lalu. Hampir semua jalan di Solo tergenang saat hujan lebat. Itu kan mengagetkan. Ternyata Pak Wali Kota juga bilang banyak drainase yang sudah puluhan tahun bahkan ratusan tahun tidak dikeruk. Jangan sampai terjadi lagi," tutur Gatot.

Perwakilan Mahasiswa Pencinta Alam Politeknik Pratama Mulia Surakarta (Maliapala), Shintya Hapsari Primasanti, mengatakan Maliapala siap menerjunkan anggota untuk kerja bakti membersihkan sungai di Solo bersama BPBD setiap dua pekan sekali. Menurut dia, sungai di Solo perlu dikeruk, bukan hanya dibersihkan dari sampah.