TRANSMIGRASI SOLO : Data Sebagian Transmigran ke Takalar Diduga Dipalsukan

Warga Semanggi, Pasar Kliwon, Solo, Setyo Riyanto, 53, menunjukkan foto-foto rumah dan pekarangannya di Takalar, Sulawesi Selatan, Selasa (1/11/2016). (Ivan Andimuhtarom/JIBI - Solopos)
02 November 2016 21:40 WIB Ivan Andimuhtarom Solo Share :

Transmigrasi Solo, data transmigran yang berangkat ke Takalar, Sulawesi Selatan, diduga dipalsukan.

Solopos.com, SOLO -- Data transmigran yang diberangkatkan dari Solo ke Takalar, Sulawesi Selatan, pada Mei 2016 lalu, diduga dipalsukan.

Lima dari delapan keluarga yang diberangkatkan oleh Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Solo adalah warga luar Solo yang dicatat sebagai warga Solo.

Delapan keluarga tersebut diberangkatkan ke Pulau Tanah Keke, tepatnya Desa Maccini Baji, Kecamatan Mappakasunggu, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan. Berbagai masalah timbul sehingga membuat nasib mereka terkatung-katung. http://solopos.com/?p=765510">Baca Juga: Berharap Ubah Nasib, Transmigran Ini Malah Dapat Nestapa

Kini, tinggal tiga keluarga transmigran yang bertahan di pulau tersebut. Kehidupan mereka pun jauh dari layak. Ketua rombongan transmigran asal Solo, Setyo Riyanto, mengatakan tiga keluarga yang bertahan adalah warga asli Solo.

Ia menuding pemalsuan data transmigran itu dilakukan Kabid Transmigrasi Dinsosnakertrans Solo, Miske. Pada rapat di Komisi IV DPRD, Selasa (1/11/2016), Ketua Komisi IV Hartanti sempat menanyakan hal itu kepada Miske.

Namun, Miske menyanggahnya. Ia mengatakan semua transmigran yang berangkat ke Takalar adalah warga Solo.

Namun demikian, saat ditanya data lengkap para transmigran itu, Miske tak bisa menunjukkannya. Ia justru meminta salinan data dari Setyo yang juga hadir di ruangan tersebut.

“Yang kami pikirkan, mereka ingin pulang. Tujuan pulang itu apa? Mereka kan sudah tanda tangani perjanjian. Maksud saya, kalau boleh diizinkan, pulang jadi pengangguran, kan kasihan. Boleh enggak difasilitasi lagi,” kata dia, Selasa.

Sementara itu, Setyo mengatakan salah satu transmigran, Alexander Tallesang, langsung ditolak Pemkab Takalar. Alasannya, Alexander adalah warga Makasar sehingga tak bisa ikut transmigrasi dari Jawa.

Pada data tertulis, Alexander beralamat di Cinderejo Kidul RT 001/RW 007, Gilingan, Banjarsari. “Alexander itu keponakannya Bu Miske. Akhirnya ya sejak awal dia enggak sampai lokasi,” ujar dia saat dihubungi Solopos.com, Rabu (2/11/2016).

Keluarga lainnya adalah Suwardi. Dalam data, Suwardi tercatat sebagai warga Kusumodilagan RT 001/RW 012, Joyosuran, Pasar Kliwon. Menurut Setyo, Suwardi sebenarnya warga Kartasura, Sukoharjo. “Suwardi dan keluarganya batal berangkat entah karena apa,” terang dia.

Keluarga Purwo Trisno dan Yogi tercatat berasal dari Kusumodilagan, Joyosuran, Pasar Kliwon. Padahal, sesuai pengakuan Purwo Trisno kepada Setyo, ia dan Yogi berasal dari Sragen.

Ada pula Slamet Widodo. Dalam data Dinsosnakertrans, keluarga itu berasal dari Gumunggung, RT 001/RW 001, Gilingan, Banjarsari. Padahal, kata Setyo, mereka berasal dari wilayah Boyolali.

“Yang asli Solo cuma keluarga saya, Edi Sugianto, dan Wartono,” kata dia.

Setyo mengatakan pengurusan surat-surat lima keluarga luar Solo agar bisa transmigrasi lewat Solo difasilitasi Miske. Mereka memberikan kompensasi uang untuk memuluskan proses tersebut.

“Keluarga Purwo Trisno dan Yogi itu kan seharusnya dapat pesangon Rp5 juta per keluarga. Tapi kedua keluarga hanya menerima Rp2,5 juta. Kemudian Pak Slamet itu hanya dapat Rp4 juta. Itu semua ulah Bu Miske,” kata dia tegas.

Kepala Dinsosnakertrans Solo, Sumartono, mengatakan Pemkot Solo tetap memfasilitasi transmigrasi sebatas menyukseskan program pemerintah pusat. Menurut dia, berkurangnya lima keluarga di Solo tak terlalu berdampak pada Kota Solo.