KISAH INSPIRATIF : Wong Sragen Ajak Masyarakat Peduli Sungai dan Beternak Gurami

Ketua Kelompok Tani Sendang Mulyo Celep, Widodo (kanan), bersama anggota kelompok tani menangkap indukan gurami di kolam komunal yang terletak di Dukuh Nusupan RT 015, Desa Celep, Kecamatan Kedawung, Sragen, Sabtu (11/3/2017). (Tri Rahayu/JIBI - Solopos)
13 Maret 2017 15:15 WIB Tri Rahayu Sragen Share :

Kisah inspiratif, warga Sragen berdayakan masyarakat untuk peduli sungai dan budidayakan gurami.

Solopos.com, SRAGEN -- Bendung Nusupan yang terletak di wilayah Desa Celep, Kecamatan Kedawung, Sragen, mengairi 280 hektare lahan pertanian. Bendung yang dibangun pada 1995 itu menjadi tangkapan air dari hulu aliran Sungai Mungkung.

Sebelum 2005, bendung yang terletak di perbatasan Sragen dan Karanganyar itu penuh tumpukan sampah dan kotor. Sebagian besar warga Celep, Pengkok, Karangpelem dan sekitarnya sering membuang sampah ke sungai. Kondisi kumuh itu menggelitik Widodo, 55, yang tinggal hanya 100 meter dari bibir bendungan itu.

Widodo mengumpulkan para pemuda di sekitar Nusupan RT 015, Desa Celep, untuk bersama-sama peduli sungai. Dengan pendekatan cukup lama, Widodo berhasil mengetuk hati pemuda Nusupan untuk membersihkan sungai. Bendung yang penuh dengan sampah menjadi bersih. Widodo pun menaburkan bibit ikan gurami, nila, gabus, dan lele sampai puluhan ribu ekor secara bertahap.

“Sekarang kesadaran warga terbangun. Mereka yang memancing juga ikut menjaga kebersihan sungai. Saya kalau malam hari juga kadang di sungai. Ada warga yang buang sampah langsung saya sorot dengan senter dan saya dekati supaya tidak buang sampah ke sungai. Sekarang yang mancing ikan tidak hanya warga Kedawung, dari Solo, Karanganyar, dan Sragen Kota banyak yang mancing di bendungan ini dan pasti dapat ikan. Siapa pun tidak boleh menangkap ikan dengan mengobati atau menembak,” ujar Widodo saat berbincang dengan solopos.com di pinggir bendung, Sabtu (11/3/2017) siang.

Setelah memberdayakan warga untuk program kali bersih, Widodo mencoba untuk memberdayakan warga untuk membudidayakan ikan gurami. Ia memanfaatkan lahan tidak produktif dan berbukit di pinggiran sungai. Ia bersama 10 warga lainnya membangun kolam komunal untuk budidaya ikan gurami sejak 2005.

Jumlah kolam menjadi 24 unit pada 2008 setelah membentuk Kelompok Perikanan Sendang Mulyo Celep. Ia belajar dari buku tentang budidaya gurami. Untuk penangkaran bibit, ia belajar sampai Banjarnegara dan Banyumas.

Awalnya, Widodo yang juga Kepala SDN 3 Celep itu menetaskan 100.000 butir telur gurami. Sebanyak 70% telur itu menetas namun akhirnya mati semua setelah diguyur hujan. Ia tak mau menyerah. Ia menetaskan 50.000 butir telur dan bisa menetap 70%. Percobaan kedua itu berhasil dan terus berkembang menjadi indukan. Kini, Widodo memiliki 150 ekor indukan gurami dan bisa memutus mata rantai bibit gurami dari Banjarnegara dan Banyumas.

“Sekarang, saya bisa mencukupi kebutuhan bibit di Soloraya, Jawa Timur, Blora, Salatiga, dan daerah lainnya secara harian. Bahkan ada kelompok perikanan dari luar Jawa yang mencari indukan ke Sragen. Setiap hari saya harus memenuhi permintaan rata-rata 3.000 ekor untuk semua ukuran,” ujarnya.

Harga bibit gurami bervariasi mulai umur 1,5 bulan sampai empat bulan dengan harga Rp500-Rp5.000/ekor. Kebanyakan bibit berumur dua bulan yang paling diminati sengan harga Rp1.000/ekor. Khusus untuk penangkaran gurami, Widodo menyediakan 10 unit kolam. Sedangkan untuk permintaan konsumsi gurami, ia menyediakan 14 unit kolam.

“Permintaan konsumsi gurami biasanya dari Solo, Sragen, Boyolali, Jogja, dan Semarang. Setiap dua pekan sekali, permintaan 2-3 kuintal dengan harga fluktuatif, Rp32.000-Rp45.000/kg. Semua keberhasilan itu berawal dari hobi,” ucapnya.

Tokoh masyarakat Desa Celep, Kedawung, Suyadi Kurniawan, menyampaikan keberhasilan Kelompok Tani Sendang Mulyo patut jadi contoh dalam pemberdayaan masyarakat khususnya di bidang perikanan untuk mengentaskan kemiskinan. Dia mengusulkan supaya ada kebijakan zonasi pemberdayaan dari Pemkab Sragen.

“Zona itu penting dan bisa menjadi ikon daerah. Populasi gurami di tempatnya Widodo itu sudah mencapai 16.000 ekor bibit berbagai ukuran. Dan populasi ikan konsumsi sampai 2,5 kuintal untuk saat ini,” tambahnya.