Karya Rahayu Supanggah dalam Setan Jawa Jadi Nomine Penghargaan di Australia

Rahayu Supanggah (Ika Yuniati/JIBI - Solopos)
12 Juli 2017 15:56 WIB Ika Yuniati Solo Share :

Mestro gamelan Solo, Rahayu Supanggah menjadi nomine sebuah penghargaan bergengsi di Australia.

Solopos.com, SOLO--Kolaborasi musik Setan Jawa garapan komponis asal Australia Iain Grandage dan maestro gamelan Solo Rahayu Supanggah,68, masuk nominasi Best Original Score Helpmann Awards kategori Industry.

Komposisi musik silent movie karya Garin Nugroho ini bersanding dengan dua nomine dari Australia, Amerika, dan satu musikus Indonesia. Helpmann Awards merupakan penghargaan bergengsi sebuah lembaga di Australia dengan konsentrasi industri pertunjukan.

Ini bukan kali pertama Setan Jawa diapresiasi dunia. Kolaborasi film bisu hitam putih dengan musik gamelan dan orkestra pada penampilan kedua mereka di festival seni budaya Asia-Pacific Triennial of Performing Arts (Asia TOPA) di Melbourne, Australia, Februari, disambut meriah. Sampai sekarang ini mereka telah menyelesaikan tur ke beberapa negara di wilayah Eropa dan Asia.

“Saat menggarap musik Setan Jawa saya tidak berharap sampai sejauh ini. Saya hanya berbuat dengan baik, itu saja. Tapi beberapa karya saya memang banyak dianugerahi penghargaan sebagai masterpiece dunia. Termasuk karya ini, kami dianggap baik oleh mereka [Helpmann Award], saya berterima kasih,” kata Rahayu Supanggah saat diwawancara Solopos.com di kediamannya, Jaten, Karanganyar, belum lama ini.

Tangan dingin dosen senior ISI Solo yang biasa dipanggil Panggah ini tak hanya melahirkan musik Setan Jawa. Karyanya pernah dipentaskan di Royal Albert Hall, Opera Paris, Opera Ravenna, Het Muziektheater Amsterdam, Lincoln Centre, Esplanade, dan beberapa tempat lainnya. Tak hanya Jawa, penerima sejumlah penghargaan bergengsi di dalam maupun luar negeri ini berulang kali mengangkat eksplorasi musik yang bersumber dari kekayaan lokal nusantara seperti Bugis, Padang, dan project Aceh.

Riset

Menciptakan mahakarya bukanlah hal mudah. Panggah membutuhkan waktu hingga tiga tahun untuk satu karya besar. Langkah pertama yang biasanya dilakukan adalah dengan melakukan riset data dan informasi.

Seperti saat menggarap kisah epik masyarakat Bugis dalam I La Galigo beberapa tahun lalu, Ia harus melakukan penelusuran cerita langsung ke Sulawesi Selatan. Proses pencarian data dilakukan berbulan-bulan melalui pembacaan naskah, maupun cerita langsung dari tokoh masyarakat dan warga setempat.

Panggah tak ingin apa yang ia sampaikan kepada penonton berisi pepesan kosong. Semua karya yang disajikan harus sesuai dengan tradisi asli mereka.

“Saya selalu meminimalkan kesalahan terkecil. Jangan sampai apa yang kita angkat berbeda dengan tradisi aslinya. Jangan sampai terjadi misal di tempat asal sebenarnya untuk tradisi pernikahan, kita salah menerapkannya untuk ritual lain,” kata dia.

Penerima penghargaan World Master on Music and Culture Seoul dan Anugerah kekaryaan intelektual dari delapan kementerian ini kenal musik tradisi sejak masih kecil. Ia lahir dan besar dari keluarga dalang. Namun perkenalannya dengan karya kontemporer baru dimulai sekitar 1965 ketika dikirim pemerintah era Presiden Soekarno dalam misi kesenian kepresidenan ke Tiongkok, Korea, dan Jepang.

Saat itu Panggah melihat kehidupan kesenian tradisi di kawasan tersebut tumbuh luar biasa karena mereka selalu menciptakan kebaruan karya.

“Menurut analisa saya waktu itu, tradisi akan bisa dinikmati jika selalu kontemporer, yang artinya selalu kekinian. Baik dari segi wujud, maupun isi yang harus sesuai dengan permintaan zaman. Dan sekarang menurut saya, apa yang saya yakini itu ternyata tidak salah. Saya cukup bangga bisa mempopulerkan gamelan ke masyarakat dunia,” kata dia.