Lumpuh, 3 Nenek-Nenek Bersaudara Dibantu Lazismu Sragen Berobat ke RS

Tim Lazismu Sragen mengevakuasi nenek-nenek ke ambulans di Dukuh Bulakrejo RT 023, Desa Ngangosari, Sumberlawang, Sragen, Senin (21/8/2017). (Istimewa/Sari - Lazismu)
21 Agustus 2017 21:35 WIB Tri Rahayu Sragen Share :

Lazismu Sragen membantu tiga nenek-nenek lumpuh berobat ke rumah sakit.

Solopos.com, SRAGEN -- Mangun Dikromo, 80, kaget ketika ada tiga unit mobil ambulans datang dan berhenti di jalan depan rumahnya yang berdinding papan berukuran 50 meter persegi di Dukuh Bulakrejo RT 023, Desa Ngangosari, Sumberlawang, Sragen.

Rumah kecil berlantai tanah itu dihuni empat orang lanjut usia (lansia) dan seorang pemuda dengan keterbelakangan mental. Ketiga mobil ambulans itu berwarna biru, kombinasi putih-oranye, dan kombinasi putih-hijau.

Mobil ambulans itu milik Lembaga Amil Zakat Infak dan Sedekah Muhammadiyah (Lazismu) Sragen. Lelaki berseragam Lazismu Sragen, Ronny Megas Sukarno, menghampiri Mangun yang duduk di lincak bambu di depan rumah.

Kedatangan Ronny dengan tiga mobil ambulans itu untuk menjemput ketiga nenek-nenek yang lumpuh karena sakit pengapuran dan syaraf kejepit di rumah itu untuk dibawa ke rumah sakit.

Mangun menyilakan rombongan Lazismu masuk ke rumah. Di dalam rumah suasananya seperti bangsal perawatan di rumah sakit. Ketiga nenek-nenek terbaring di amben mereka masing-masing.

Mereka adalah Satiyem, 91, Wagiyem, 75, dan Sarmi, 73. Mereka masih bersaudara kandung. Mangun adalah suami Wagiyem. Sementara pemuda yang mengalami gangguan kejiwaan bernama Hariyanto, 26.

Ketiga nenek-nenek itu dibawa ke ambulans, satu ambulans untuk satu orang. Setelah siap semua, ambulans itu membawa mereka ke RSUD dr. Soeratno Gemolong, Sragen, untuk perawatan lebih lanjut.

Semua biaya pengobatan dan biaya hidup di rumah sakit ditanggung Lazismu Sragen karena mereka keluarga miskin. Mangun turut serta di ambulans itu didampingi saudaranya, Harni, 64.

“Gejala awalnya istri saya ini pengapuran tulang. Kalau Mbok Satiyem itu lututnya kaku dan tidak bisa jalan. Mbok Sarmi sakitnya saraf kejepit dan pengapuran. Ya, baru kali ini dibawa untuk berobat ke rumah sakit,” kata Mangun saat ditanya Solopos.com, Senin (21/8/2017).

Mangun lah yang selama ini meladeni kebutuhan makan dan minum ketiga nenek-nenek itu. Semua hidangannya dimasak Harni yang tinggal tak jauh dari rumah mereka.

“Kalau mau buang hajat ya dipondong ke belakang. Biasanya Hariyanto itu yang membantu. Kalau waras, anak itu mau diminta ini dan itu. Tetapi kalau kambuh ya hanya diam dan kalau malam sering ngomong sendiri,” tuturnya.

Mangun mengungkapkan Hariyanto sempat dirawat ke rumah sakit jiwa (RSJ) dan sembuh. Namun, setelah pulang dari merantau di Jakarta, kata Mangun, pemuda itu kembali kambuh lagi sampai sekarang.

Mangun sebenarnya memiliki lima orang anak tetapi kelima anaknya jarang menjenguknya. Manager Program Lazismu Sragen, Ronny Megas Sukarno, mendapat laporan kondisi keluarga itu dari pengurus Lazismu Kecamatan Sumberlawang.

Ronny menyampaikan sebenarnya masih ada satu anak yang masih rajin mengirim dana dari perantauan untuk menghidupi lima orang itu lewat Harni. Sebenarnya rumah itu milik Satiyem dan empat orang lainnya hanya menumpang karena tidak ada yang mengurusi.

“Domisili anak-anak mereka itu jauh-jauh. Untungnya masih ada saudara di dekat itu, yakni Bu Harni yang mau memasak makanan untuk mereka. Saya kaget juga waktu masuk rumah ternyata ketiga nenek-nenek itu terbaring. Jadi di rumah itu tidak ada ruang tamunya. Setelah kamar ya langsung ke dapur,” tuturnya.

Ronny menyampaikan dari ketiga nenek-nenek itu hanya Wagiyem yang tidak memiliki kartu peserta Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS). Ronny mengtakan Lazismu Sragen berkomitmen menanggung semua biaya pengobatan mereka.

Untuk kebutuhan hidup mereka juga akan mendapat bantuan rutin bulanan dari Lazismu. “Kemudian rumahnya juga akan diberikan bantuan bedah rumah senilai Rp5 juta dan dibantu dari Lazismu Sumberlawang,” tuturnya.