19 Pusaka Dikirab Malam 1 Sura Keraton Solo, Mbak Moeng Marah-Marah

Kebo bule mulai diarak keluar dari depan Kompeks Keraton Kasunanan Surakarta, jelang Kirab Malam 1 Sura, Kamis (21/9/2017) malam. (Ahmad Baihaqi/JIBI - Solopos)
22 September 2017 08:05 WIB Hijriyah Al Wakhidah Solo Share :

Solopos.com, SOLO -- Sebanyak 19 pusaka milik Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat dikeluarkan dalam Kirab Malam 1 Suro Kamis (21/9/2017) malam.

Kendati Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat berhasil memberikan kejutan kepada ribuan warga Solo dengan mengeluarkan sembilan belas pusaka, namun diketahui pelaksanaan kirab pusaka kali ini terlihat kurang koordinasi di antara para putra-putri raja Paku Buwana (PB) XII.

Bahkan KRAy Koes Moertiyah atau Mbak Moeng sempat terlihat marah-marah setelah akhirnya K.G.P.H Benowo berhasil mengeluarkan pusaka ke-19 tanpa diikuti sesaji. Bahkan informasi dari K.G.P.H.Hadi Prabowo, Sinuhun PB XIII sebenarnya hanya memberikan perintah untuk mengeluarkan 17 pusaka.

"Tadi itu Sinuhun dawuh hanya 17 pusaka. Tapi kalau hanya 17 yang tiga ini ndak boleh ditinggal harus diikutsertakan. Kalau tidak takutnya ada terjadi hal-hal yang tidak baik," kata Hadi Prabowo.

Jika Hadi menyebut 20 pusaka, namun Benowo yang bertanggung jawab penuh pada acara Kirab Malam 1 Suro tadi malam memastikan hanya 19 pusaka yang keluar. "Ya, Sinuhun dawuhnya 17 pusaka tapi yang disiapkan ada 25. Berkaitan dengan abdi dalem yang memenuhi syarat untuk membawa pusaka itu terbatas akhirnya yang dikirab hanya 19," ujar Benowo.

Pusaka yang terakhir dikeluarkan mendadak saat pintu utama Kori Kamandungan sudah ditutup. Benowo secara terburu buru meminta petugas untuk membuka kembali pintu karena pusaka yang ke-19 akan dikeluarkan. Pusaka yang ke-19 ini dikirab tanpa ada sesaji.

Jumlah pusaka yang dikeluarkan dalam kirab tadi malam merupakan terbanyak dari kirab yang sebelumnya yang paling banyak pernah mengeluarkan 13 pusaka. Mbak Moeng menilai peringatan Malam 1 Suro kali ini tak terkoordinasi dengan baik. "Jumlah pusaka yang dikeluarkan berapa ndak tau saya tadi. Jangan tanya saya. Kalau begini saya itu jadi anyel, ndak terkoordinir sama sekali," kata Moeng.

Menurut Moeng jumlah pusaka yang akan dikeluarkan semestinya dipersiapkan pula jumlah sesajinya. "Jadi ndak seperti ini kok ada yang ndak pakai sesaji."

Kirab pusaka keraton dimulai lebih awal dari biasanya. Pukul 22.55 WIB, kebo bule Kyai Slamet mulai keluar di arak diikuti pusaka pertama berupa trisula. Delapan belas pusaka lainnya bentuknya tombak. Antusias warga Solo begitu luar biasa terlihat padatnya Kori Kamandungan hingga jalur-jalur rute kirab.

Rute kirab dimulai dari Jl.Paku Boewono, Gladak, simpang empat Bank Indonesia Solo, Jl Mayor Kusmanto (Telkom Indonesia), Jl. Kapten Mulyadi, Jl. Veteran, Jl. Yos Sudarso kawasan Nonongan dan Jl. Slamet Riyadi kembali ke Keraton Solo. Kebo Kyai Slamet masih menjadi magnet utama kirab. Keraton mengeluarkan tujuh ekor kebo keturunan Kyai Slamet.

Menurut Benowo Kebo Kyai Slamet adalah kerbau biasa namun banyak yang menyebut sebagai kerbau pusaka. "Itu sebenarnya hanya ingon-ingon, hadiah dari Raja Bone yang terus beranak pinak sampai sekarang. Kalau masyarakat mensyakralkan kerbau itu ya mangga saja sebenarnya itu hanya kerbau biasa," papar Benowo.