KISAH INSPIRATIF : Anak Penjaga SD Asal Sragen Jadi Lulusan Terbaik dengan IPK 3,92

Lupi Wulandari, mahasiswi Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) FKIP Univet Bantara Sukoharjo, meraih predikat cumlaude tertinggi dengan nilai 3,92. (Trianto Hery Suryono/JIBI - Solopos)
30 Oktober 2017 12:15 WIB Rohmah Ermawati Sukoharjo Share :

Kisah inspiratif, anak penjaga SD bangga meraih predikat cum laude dari Univet Bantara Sukoharjo.

Solopos.com, SUKOHARJO -- Sejumlah 729 mahasiswa Universitas Veteran Bangun Nusantara (Univet Bantara) Sukoharjo, Sabtu (28/10/2017), diwisuda dalam sidang senat terbuka dipimpin Rektor Univet Bantara, Ali Mursyid.

Dari ratusan wisudawan dan wisudawati itu, tampak wajah ceria Lupi Wulandari, mahasiswi Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) FKIP Univet Bantara. Mengenakan kebaya dan bertopi wisudawan berselendang warna merah berpinggir kuning emas bertuliskan wisudawan, Lupi menebarkan senyum saat namanya dipanggil untuk maju untuk diwisuda.

Lupi meraih predikat lulusan terbaik dari 729 wisudawan yang dilepas Rektor Univet. "Saya sangat bahagia atas predikat yang saya terima [cumlaude] karena tidak pernah terbayangkan,” katanya.

Warga Ringinanom RT 017/006, Karangpelem, Desa Kedawung, Kabupaten Sragen itu, bercerita ibunya seorang penjahit dan ayahnya seorang penjaga sekolah dasar (SD). Menurutnya, prestasi yang diraihnya merupakan penghargaan terbaik dirinya yang dipersembahkan kepada kedua orang tuanya.

“Saya bisa meraih gelar kesarjanaan berkat kerja keras kedua orang tua. Prestasi ini saya persembahkan kepada orang tua saya," ucapnya dengan kata-kata sedikit tersendat sembari mengusapkan air di pelupuk matanya.

Lebih lanjut guru di SDN 3 Mojodoyong, Sragen, bercerita tak ada strategi atau cara belajar meraih Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) tersebut. Menurutnya menyelesaikan tugas dan terus belajar menjadi kunci meraih prestasinya saat ini.

“Belajar awal waktu, mendisiplinkan diri dan membagi tugas di setiap kegiatan. Guru merupakan profesi mulia karena mendidik dan menyiapkan generasi penerus bangsa," ungkap dia.

Sementara itu, Rektor Univet Bantara Sukoharjo, Ali Mursyid, mengibaratkan seremonial wisuda adalah sebuah buah.

“Hari ini, buah manis datang. Suka cita menyapa insan-insan bertoga. Semanis apapun rasa buah, tidak bisa dinikmati berlama-lama apabila bakteri pembusuk telah menyerang. Wisudawan, jangan terbuai manisnya hari ini. Esok hari, singsingkan lengan baju, tantangan telah mengadang,” ungkap dia.

Menurut dia, lulus kuliah hanyalah sebuah titik kecil tahapan keberhasilan sementara kesuksesan hidup merupakan titik-titik kecil keberhasilan yang berkesinambungan sampai ajal.

Rektor meminta alumni Univet Bantara tidak minder dan berkecil hati hidup di tengah-tengah masyarakat. “Ciptakan peluang untuk diri sendiri dan orang lain karena semua mahasiswa Univet Bantara dibekali life skill,” tandasnya.

Pada bagian lain, Rektor menyebutkan di Jateng, Univet Bantara menduduki peringkat 19 dari 70 PTS/PTN.

“Klasifikasi peringkat oleh Kemenristek Dikti RI yang dirilis 2016, Univet Bantara masuk klaster III dengan peringkat 222 dari 3.320 perguruan tinggi. Univet Bantara di bidang penelitian dan pengembangan masuk klaster madya yang mendapatkan kucuran bantuan senilai Rp4 miliar tanpa harus berkompetisi dengan perguruan tinggi lain,” kata dia.