Bakal Hidup Siang Malam, Begini Gambaran Lansekap Taman Bantaran Kali Anyar Solo

Gambar 3D rencana penataan lansekap wilayah bantaran Kali Anyar. (Istimewa)
19 Desember 2017 22:15 WIB Irawan Sapto Adhi Solo Share :

BBWSBS berencana membangun taman dengan berbagai fasilitas publik di bantaran Kali Anyar Solo.

Solopos.com, SOLO -- Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (BBWSBS) bakal menata bantaran Kali Anyar mulai dari Bendung Tirtonadi hingga Jembatan Batas Kota di Kelurahan Banyuayar, Banjarsari, Solo, menjadi ruang publik dengan beragam fasilitas.

Konsultan Supervisi Proyek Penanganan Banjir Kota Solo Paket 3 (Kali Pepe Hulu), Mohammad Abdullah, menyampaikan lahan bantaran Kali Pepe hulu sepanjang 3,96 kilometer (km) dari Bendung Tirtonadi hingga Jembatan Batas Kota akan ditata untuk dijadikan lansekap.

Dia menyebut lahan bantaran Kali Anyar, termasuk di wilayah Kampung Minapadi, Tapen, Praon di Kelurahan Nusukan dan Kampung Gondang di Kelurahan Manahan yang masih dipakai untuk hunian akan ditata menjadi taman terbesar di Solo. (Baca: http://solopos.com/?p=877855">Bendung Tirtonadi Solo bakal Dilengkapi Jembatan Kaca untuk Wisatawan)

“Lahan bantaran nantinya untuk lansekap. Jadi sebenarnya sini itu sudah punya potensi plus cukup besar. Stasiun Solo Balapan kini sudah connect dengan Terminal Tirtnado. Orang tidak perlu didatangkan, mestinya sudah ke sini. Kenapa tidak dimanfaatkan? Makanya kami sampaikan ke Pemkot, taman terbesar di Bengawan Solo nantinya mesti di Tirtonadi karena kami punya lahan,” kata Abdullah saat diwawancara Solopos.com, Selasa (19/12/2017).

Abdullah membeberkan sejumlah fasilitas yang bakal disediakan di bantaran Kali Anyar yakni jogging track, gazebo, tanaman atau taman, dermaga, ruang pameran seni, hingga panggung pertunjukan.

Dia menyebut dalam penataan lansekap bantaran Kali Anyar, BBWSBS akan menyediakan juga lampu penerangan sehingga kawasan tersebut akan tetap hidup pada malam hari. BBWSBS berharap program penataan itu makin menyadarkan masyarakat untuk peduli terhadap kelestarian dan kebersihan sungai.

“Kami jamin wilayah bantaran Kali Pepe hulu tidak akan banjir lagi. Kami sudah merehabilitasi Bendung Tirtonadi yang mampu menurunkan elevasi muka air banjir 50 tahunan di Kali Pepe hulu dari semula 95,5 menjadi 93,35. Kalau dulu sebelum kami merehab Bendung Tirtonadi, elevasi muka air banjir lebih tinggi ketimbang jalan sehingga menyebabkan kawasan Minapadi, Tapen, Praon, bisa kebanjiran,” jelas Abdullah. (baca: http://solopos.com/?p=874914">Bendung Karet Tirtonadi Segera Punya Dermaga)

Abdullah menjelaskan dengan rehabilitasi Bendung Tirtonadi sekarang, elevasi muka air Kali Anyar bisa dijaga meski pada musim kemarau. Dia mengatakan elevasi air di Bendung Tirtonadi bisa diupayakan untuk konsisten pada angka 93,35.

Kondisi itu, menurut Abdullah, bisa dimanfaatkan untuk banyak keperluan mulai penyediaan sumber air baku hingga keperluan wisata. Air yang tertampung di Bendung Tirtonadi secara berkala bisa digelontorkan juga ke Kali Pepe hilir.

Jika dulu tingkat elevasi muka air banjir saat hujan dan kemarau bedanya cukup jauh, ke depan hal itu diharapkan tak terjadi lagi. "Pak Wali Kota juga ingin Kali Pepe hilir nantinya dimanfaatkan untuk wisata air. Dengan kondisi saat ini, rencana itu kan bisa dikatakan memaksa karena kalau enggak ada hujan, Kali Pepe hilir enggak ada air. Tapi kalau hujan, airnya meluber ke mana-mana,” terang Abdullah.

Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) dalam pengadaan proyek Penanganan Banjir Kota Solo Paket 3 (Kali Pepe Hulu), Arlendovega Satria N., sebelumnya menyampaikan BBWSBS bakal membangun dermaga di sekitar Bendung Tirtonadi salah satunya untuk menunjang pengembangan wisata air.

Rencana pembangunan dermaga tersebut tidak terlepas dari usulan Pemkot Solo yang ingin menyediakan destinasi wisata air di kawasan itu. Dia menyampaikan dermaga bisa dimanfaatkan sebagai tempat tambatan kapal untuk wisatawan.