RSUD Semanggi Mulai Dibangun, Wali Kota Solo Pesan Jangan Ada yang Merecoki

Pekerja menyelesaikan pemasangan tiang pancang seusai Ground Breaking RSUD Semanggi, Pasar Kliwon, Solo, Jumat (22/12/2017). (M. Ferri Setiawan/JIBI - Solopos)
22 Desember 2017 22:35 WIB Indah Septiyaning Wardhani Solo Share :

Wali Kota Solo berpesan jangan sampai ada warga atau pihak tertentu yang merecoki atau mengganggu proses pembangunan RSUD Semanggi.

Solopos.com, SOLO -- Pemerintah Kota (Pemkot) Solo mempercepat target penyelesaian pembangunan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Semanggi. RSUD itu ditarget rampung akhir 2018.

Wali Kota Solo F.X. Hadi Rudyatmo meminta warga atau pihak mana pun tidak merecoki proses pembangunan rumah sakit tersebut sehingga membuat proyek itu tersendat gara-gara permasalahan di luar teknis. Jika nanti ada laporan terkait gangguan dalam pelaksanaan proyek oleh oknum warga atau lainnya, Wali Kota tak segan-segan menerjunkan tim Sapu Bersih Pungutan Liar (Saber Pungli).

“Saya titip kepada masyarakat mohon proyeknya tidak direcoki. Kalau nanti sampai terjadi, saya terjunkan Tim Saber Pungli,” kata Wali Kota akrab disapa Rudy dalam sambutannya saat ground breaking atau peletakan batu pertama proyek RSUD Semanggi, Jumat (22/12/2017). (Baca: http://solopos.com/?p=878921">Hari Ini Groundbreaking, Pembangunan RSUD Semanggi Senilai Rp200 Miliar Dimulai)

Namun, Rudy tidak menjelaskan secara gamblang maksud merecoki (mengganggu) tersebut. Rudy hanya menginginkan proyek pembangunan RSUD Semanggi berjalan lancar tanpa ada hambatan.

Jangan sampai saat pelaksanaan pembangunan warga menuntut beragam kompensasi kepada pelaksana proyek. Misalnya kompensasi atas jalan rusak akibat kendaraan proyek selama pembangunan. Hal ini, menurut Rudy, akan membuat preseden buruk bagi investasi di Kota Solo.

“Saya sampaikan masyarakat, jalan rusak itu nanti dibiarkan dulu sampai proyek selesai. Setelah itu akan dikerjakan perbaikan jalan termasuk drainasenya,” kata dia.

Rudy tidak ingin selama proyek pembangunan rumah sakit berjalan terdapat pungutan liar (pungli) oleh oknum-oknum tertentu. Rudy berpesan kepada seluruh warga Solo, termasuk anggota DPRD, Lurah Semanggi, Camat Pasar Kliwon, serta tokoh masyarakat ikut menjaga pelaksanaan proyek RSUD tersebut.

Harapannya proyek pembangunan rampung akhir 2018. Pembangunan RSUD Semanggi dikerjakan secara multiyears (tahun jamak) dengan nilai kontrak Rp192,7 miliar dan jangka waktu pelaksanaan 18 bulan terhitung sejak 8 Desember 2017 hingga 30 Mei 2019. (Baca: http://solopos.com/?p=858788">Legislator Sangsi Dana Rp25 Miliar untuk RSUD Semanggi Terserap Habis Tahun Ini)

Skema pembayaran dilakukan tiga tahap, di tahun ini Pemkot mengalokasikan anggaran Rp24 miliar. Di 2018 senilai Rp99 miliar, lalu 2019 senilai Rp69 miliar. “Kalau bisa selesai akhir 2018 itu lebih baik. Nanti dananya kami usahakan di Perubahan [APBD Perubahan] 2018, jadi tidak perlu sampai 2019,” katanya.

Rudy mengatakan pembangunan RSUD Semanggi akan membuka lapangan pekerjaan bagi warga Kota Bengawan. Setidaknya potensi serapan pekerja bisa mencapai 1.000 orang. Warga di lingkungan sekitar juga dilibatkan dalam pembangunan tersebut.

Kepala Dinas Kesehatan Kota (DKK) Solo, Siti Wahyuningsih menjelaskan RSUD Semanggi akan dibangun enam lantai dengan luas total mencapai 18.639 meter persegi. Untuk jumlah bed atau kamar tidurnya mencapai 200 bed.