Inilah Potensi Desa-Desa di Tawangsari Sukoharjo

17 Januari 2018 10:15 WIB Trianto Heri Suryono Sukoharjo Share :

Potensi desa di Tawangsari Sukoharjo belum digarap dengan baik.

Solopos.com, SUKOHARJO—Potensi beberapa desa di Kecamatan Tawangsari, Sukoharjo, sudah ada, tetapi pengelolaannya belum tertangani dengan baik. Berikut sejumlah potensi desa seiring dengan dorongan dari pemerintah kecamatan setempat untuk segera membentuk Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) di 12 desa di Tawangsari.

Koordinator Kepala Desa Se-Tawangsari, Rudi Hartono, mengatakan potensi di beberapa desa di Kecamatan Tawangsari sudah terlihat, tetapi belum ditangani secara maksimal.

Kepala Desa Majasto ini mencontohkan di Desa Pojok punya kampung warna warni Dukuh Selo. Sedangkan di Desa Watubonang memiliki wisata gunung Taruwongso, di Desa Pundungsari dengan potensi alam pegunungan, sementara di Desa Majasto punya objek wisata Bumi Arum dan kolam ikan. (baca: http://solopos.com/?p=593249" target="_blank">GEDUNG PROMOSI SUKOHARJO : GPPPD Graha Wijaya Segera Dimanfaatkan)

“Karang Taruna akan dilibatkan dalam pengelolaan potensi desa. Tokoh-tokoh masyarakat dalam waktu dekat segera diajak bertemu untuk membentuk kepengurusan BUMDes Majasto. Kolam ikan akan dibenahi dan dioptimalkan, luas kolam ikan nanti 3.000 meter persegi menggunakan lahan desa,” katanya, saat ditemui Solopos.com, Selasa (16/1/2018).

Lebih lanjut ia mengungkapkan lokasi objek wisata spiritual Bumi Arum akan dilengkapi dengan museum benda pusaka peninggalan masa lalu.

Kepala Desa Pojok, Tukiman, menjelaskan pemerintahan desa mendukung ide yang datang dari para pemuda Dukuh Selo untuk menjadikan dukuh ini sebagai pilot project dukuh wisata. Namun demikian, akses jalan dan sarana pendukung segera dibangun sehingga pengunjung nyaman dan aman datang ke Selo.

“Kami menilai kreativitas warga Selo merupakan aset desa yang harus didukung,” katanya.

Selain ada rumah kaca tanaman organik di Dukuh Selo juga terdapat perajin sarung goyor. Menurutnya, sentra kerajinan sarung goyor ini juga bisa ditemui di Dusun Kenteng dan Dusun Selo.

“Potensi lokal itu akan dilestarikan menjadi aset daerah sehingga produksi sarung goyor bisa berlanjut. Saat ini, pemuda [Dukuh] Selo juga sudah ada yang tertarik menenun sarung goyor. Di rumah-rumah penduduk terdapat mesin pembuat tenun sarung goyor. Jadi kerajinan sarung goyor ini menjadi kerja sampingan,” imbuhnya.

Tukiman menyebutkan Dukuh Selo dihuni oleh 130-an kepala keluarga (KK) dengan jumlah tenaga kerja tenun sarung goyor sejumlah 500-an orang. Menurutnya, dulu tenun sarung goyor sempat mati kalah bersaing dengan batik cap.

“Cikal bakal tenun sarung goyor di Dukuh Kenteng dan Selo. Bahan baku benang,” jelasnya.