CAGAR BUDAYA SOLO : Kisah Arca di Lahan Eks THR Sriwedari

29 Januari 2018 17:35 WIB Hijriyah Al Wakhidah Solo Share :

Dua arca berwarna merah di lahan eks THR Sriwedari Solo menyimpan cerita tersendiri.

Solopos.com, SOLO -- Tak ada aktivitas di lahan bekas Taman Hiburan Remaja THR) Sriwedari, Senin (29/1/2018) pagi. Hanya terlihat dua-tiga pekerja yang sedang mengukur lahan dan ada pula yang duduk-duduk di dekat alat berat yang sebelumnya dipakai mengosongkan lahan.

Areal yang rencananya dibangun Masjid Raya Taman Sriwedari itu kini sudah rata dengan tanah. Di antara puing-puing sisa bangunan THR Sriwedari, ada dua patung arca berdiri tegak. Arca itu berwarna merah dan menghadap timur.

Konon, dua arca itu adalah satu-satunya benda bersejarah yang masih tertinggal di kawasan itu. “Patung arca ini bahkan sudah ada sejak sebelum THR Sriwedari masuk,” kata pedagang di kawasan Taman Sriwedari, Joko Sukamto, yang juga Ketua Paguyuban Rukun Santosa, kepada Solopos.com, kemarin.

Seperti diketahui, THR Sriwedari mulai masuk ke kawasan Bon Raja itu sekitar tahun 1985. Komunitas Laku Lampah Solo mendapatkan foto yang diperkirakan dari tahun 1970. Dalam foto tersebut terlihat tiga remaja putri dan satu anak dengan model baju zadul (zaman dulu) berpose di dekat patung arca merah itu.

Baca:

http://solopos.com/?p=889184">DSKS Tolak Pembangunan Masjid Taman Sriwedari, Kenapa?

http://solopos.com/?p=887748">Masjid dan Memori tentang Bon Raja Sriwedari

“Dulu patung arca itu ada di pintu masuk Bon Raja. Terakhir kami menyambangi THR Sriwedari sebelum tutup, dua arca merah itu ada di pintu masuk wahana rumah hantu,” kata Pegiat Laku Lampah Solo, Fendy Fawzi Alfiansyah.

Oleh masyarakat penghuni kawasan Sriwedari, kedua arca itu dikenal sebagai arca gupala atau penjaga karena kedua arca itu biasanya diletakkan di depan bangunan sebelah kanan dan kiri. Seperti arca gupala lainnya kedua arca itu juga membawa gada.

Joko menyinggung cerita magis dari kedua arca itu. Konon, banyak orang yang tidak berani memindahkan arca itu sehingga selama puluhan tahun kawasan itu menjadi bagian dari tempat hiburan, kedua arca itu tetap di sana.

“Beberapa kejadian magis pernah menimpa orang yang ingin memindahkan arca tanpa laku atau syarat,” ujar Joko.

Joko berharap kedua arca itu diselamatkan dengan disimpan paling tidak di Museum Radya Pustaka. Jangan sampai patung arca yang diduga peninggalan Paku Buwono (PB) X itu menjadi milik perorangan atau kolektor benda antik.

Perataan tanah eks THR Sriwedari dilakukan petugas di bawah tanggung jawab Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR). Kabid Cipta Karya Dinas PUPR Solo, Taufan Basuki, membenarkan perataan tanah untuk proyek Masjid Raya Taman Sriwedari masih meninggalkan dua patung arca merah.

Dia tidak memungkiri banyak mitos tentang kedua arca itu sehingga sampai saat ini petugasnya di lapangan belum memindahkan dua arca tersebut. “Ya coba nanti kami komunikasikan dengan pengelola Museum Radya Pustaka. Memang banyak mitos soal arca itu, bahkan cerita itu dulu juga bagian dari arca di belakang Kantor Dinas Pariwisata. Katanya arca itu sering bertengkar jadi yang dua dipisah,” kata Taufan.

Taufan kurang tahu persis nama dan usia arca itu. “Nanti kami simpan di Museum Radya Pustaka,” ujar dia.