INFRASTRUKTUR BOYOLALI : Gara-Gara Kerap Dilewati Truk Pasir, Rangka Jembatan Darurat Grawah Kini Patah

19 Februari 2018 19:45 WIB Akhmad Ludiyanto Boyolali Share :

Truk pengangkut pasir dilarang melintas di jembatan darurat Grawah, Cepogo, Boyolali, karena rangkanya patah.

Solopos.com, BOYOLALI -- Salah satu rangka jembatan darurat Grawah di Desa/Kecamatan Cepogo, Boyolali, patah. Akibatnya, truk pasir dan batu saat ini dilarang melintas di jembatan bailey tersebut.

Tidak diketahui secara pasti kapan rangka jembatan Grawah tersebut patah, namun diduga sudah terjadi sejak beberapa hari lalu. Dua petugas Bina Marga Jawa Tengah (Jateng) pada Senin (19/2/2018) datang ke lokasi untuk memeriksa.

Mereka memeriksa secara seksama jembatan sepanjang 27 meter dan lebar 5 meter tersebut. Mereka menemukan satu rangka yang patah berada di bawah lantai jembatan.

Berdasarkan pengamatan Solopos.com, rangka yang patah tersebut bergerak saat jembatan dilintasi mobil berukuran kecil. Untuk diketahui, jembatan darurat Grawah dioperasikan sejak pertengahan Maret 2017.

Baca:


Jembatan darurat ini sebagai jembatan sementara karena salah satu lajur jembatan yang berada di jalur wisata Solo-Selo-Borobudur (SSB) itu patah 6 Maret 2017. Jembatan darurat ini sebenarnya hanya boleh dilintasi kendaraan kecil atau kendaraan lain dengan berat maksimal 10 ton.

Namun kenyataannya, jembatan tersebut dilintasi truk pengangkut pasir dan batu yang diperkirakan beratnya mencapai belasan ton. Kondisi inilah yang menyebabkan jembatan menerima beban teralu berat terus menerus hingga akhirnya patah salah satu rangkanya.

Pengawas proyek dari Bina Marga Jateng di jalur SSB tersebut, Sumarwan, mengatakan dengan terjadinya peristiwa tersebut, truk bermuatan pasir dan batu atau bermuatan lain yang terlalu berat dilarang melintas di jembatan tersebut.

“Itu memang ada yang patah, truk pasir dan batu tidak boleh melintas,” ujarnya saat dihubungi melalui telepon.

Sementara itu, sejumlah warga mengungkapkan larangan truk bertonase berat melintas di jembatan tersebut sebenarnya sudah diterapkan sejak awal jembatan darurat itu dioperasikan. Namun nyatanya banyak sopir yang tidak mengindahkan larangan tersebut.

Salah satu warga setempat, Muh, mengungkakan beberapa kali petugas merazia truk-truk tersebut dan memaksa awak truk mengurangi muatan sebelum melintas. “Tapi meski sudah dirazia, besoknya ada lagi truk [pengangkut pasir dan batu] yang melintas,” ujarnya.

Disinggung mengenai penutupan akses untuk truk pasir, dia bersyukur karena merasa tidak terbebani perasaan waswas. “Malah kebetulan karena jembatan ini memang untuk kendaraan pengangkut sayuran,” imbuhnya.

Sementara itu, Ketua RT 004/RW 001 Dukuh Bendosari, Desa Cepogo, Gatot Nugroho, mengatakan hal senada dengan Muh. Bahkan, warganya yang mengatur lalu lintas sempat diisukan menarik pungutan liar (pungli) kepada setiap truk pasir yang melintas.

“Padahal tidak ada pungli. Memang ada warga yang mengatur lalu lintas supaya kendaraan bisa melintas bergantian karena hanya satu lajur tapi tidak mengungut. Mereka hanya menerima serelanya saja. Uangnya juga dipakai untuk kesejahteraan lingkungan misalnya pembelian pipa air dan tenda kajang dan sebagainya,” ujarnya.