KISAH INSPIRATIF : Guru di Klaten Pelopori Perilaku Hidup Bersih dengan Babon Ciliberi

03 Maret 2018 18:00 WIB Cahyadi Kurniawan Klaten Share :

Kisah inspiratif, guru SMPN 1 Trucuk memelopori budaya bersih di sekolah setempat.

Solopos.com, KLATEN -- Terkesan dengan budaya bersih orang-orang Australia mendorong F.X. Suparmi menularkan budaya itu kepada anak didiknya di SMPN 1 Trucuk, Kabupaten Klaten. Usaha itu ia kemas dalam sebuah gerakan sosial bernama Babon Ciliberi, April tahun 2017 lalu.

Hasilnya, bisa dinikmati jika kita berjalan menelusuri koridor-koridor kelas di SMPN Trucuk. Di sepanjang koridor, taman-taman berisi bunga anggrek, bunga sepatu, dan aneka bunga lainnya seolah menyapa.

Di sekolah itu lantai dan taman nyaris tak ditemui sampah bungkus permen, kemasan makanan ringan, bekas bungkus cilok atau bekas botol air mineral, yang lazim dikonsumsi anak sekolah saat istirahat. Padahal, SMPN 1 Trucuk bukanlah sekolah adiwiyata atau sekolah yang diklaim peduli terhadap lingkungan.

Solopos.com lalu berusaha membuka beberapa tempat sampah di depan kelas. Di dalamnya masih terlihat bagian dasar tempat sampah berwarna putih. Tempat sampah dari bekas ember cat itu hanya diisi beberapa bekas bungkus makanan ringan. Tak ada bau dan lalat beterbangan dari tempat sampah yang tertutup rapat itu.

Semua itu diiniasi dari gerakan sosial bertajuk Babon Ciliberi. Babon Ciliberi merupakan singkatan dari bawa botol minum untuk menciptakan lingkungan bersih asri. Gerakan itu mewajibkan setiap siswa membawa botol minum dan tempat makan sendiri dari rumah.

Tak hanya itu, manajemen sekolah juga meminta kantin menyediakan gelas dan piring atau mangkuk sebagai pengganti plastik.

"Tujuannya adalah mengurangi penggunaan plastik untuk bungkus makanan. Dulu, tempat-tempat sampah di sini selalu overload [kelebihan kapasitas]. Plastik bungkus cilok yang ada sausnya itu kerap terlihat di sekitar tempat sampah," kata perempuan yang akrab disapa FX itu saat ditemui wartawan di kantornya, Jumat (2/3/2018).

Gayung bersambut, untuk mempermudah pengelolaan sampah, kantin sekolah yang semula menyebar di beberapa lokasi di sudut-sudut sekolah, dikumpulkan dalam satu lokasi.

Kepala Sekolah, Eguh Setyo Surono, berinisiatif membangun sebuah selter sebagai lapak penjual jajanan di sekolah. Selain itu, setiap siswa yang jajan juga harus membuang sampah di tempat sampah yang disediakan di dekat selter.

Tak cukup sampai di situ, komitmen menjaga kebersihan juga digalakkan di dalam kelas. Guru kelas dan semua siswa membikin kesepakatan jika membuang sampah sembarangan, pelaku dikenai denda. Dendan yang diterapkan bervariasi ada yang harus dibayarkan sesuai harga makanan atau minuman yang dibeli atau denda tarif flat, misalnya apapun jenis sampahnya, dendanya Rp1.000.

Denda dikumpulkan dalam tabungan plastik berbentuk menyerupai ayam betina atau babon. "Kalau ada sampah dan guru bertanya ini sampah siapa, ada siswa yang mengaku. Jika tidak ada, seluruh siswa satu kelas kena denda," ujar pengajar Pendidikan Kewarganegaraan (PKn).

Menurut FX, dampak Babon Ciliberi mulai dirasakan dengan lingkungan sekolah yang lebih tertata dan bersih. Gerakan itu juga dinilai ikut membentuk karakter anak khususnya soal spiritual bahwa kebersihan sebagian dari iman.

"Tak hanya itu, anak juga dituntut jujur. Mereka mengakui kesalahan, bersedia membayar denda, semuanya dilandasi kejujuran. Berikutnya adalah disiplin," beber Alumnus SMAN 1 Purworejo.

Salah satu siswa, Ryan Bagus, Kelas IXD, mengaku sangat senang dengan gerakan Babon Ciliberi. Bagi dia, gerakan itu kini terbilang membuahkan hasil. "Babon Ciliberi di SMPN 1 Trucuk telah membuahkan hasil yang baik. Lingkungan di Estu [singkatan SMPN 1 Trucuk] makin bersih tanpa sampah," ujar dia.

Camat Trucuk, Bambang Haryoko, pernah menyambangi SMPN 1 Trucuk. Ia mengapresiasi keberadaan tanaman yang terawat dan sampah yang dikelola secara mandiri oleh sekolah sekaligus untuk pengenalan awal anak didik terhadap kesehatan lingkungan.

Sebelum Pemerintah Kabupaten Klaten gencar membikin program pengolahan sampah, guru di sekolah itu lebih dahulu mengembangkan gagasan mewujudkan sekolah berwawasan lingkungan. "Hal itu terbukti nyata mampu membuat kerasan peserta didik dan dewan guru dalam kegiatan kegiatan belajar mengajar," kata Camat.