Serapan Gabah Petani Klaten Tahun 2018 Ditargetkan Capai 13.750 Ton

17 Maret 2018 15:30 WIB Taufik Sidik Prakoso Klaten Share :

Gabah petani Klaten diharapkan terserap 13.750 ton tahun ini.

Solopos.com, KLATEN – Target serapan gabah (sergab) di Klaten pada 2018 dipatok 13.750 ton. Sementara, total luas tanam padi di Klaten tahun ini ditarget mencapai 78.000 hektare (ha).

Komandan Kodim (Dandim) 0723/Klaten, Letkol Inf. Eko Setyawan, mengatakan pendampingan program Sergab dari Kodim berlanjut. Saat ini capaian serapan diperkirakan hampir mencapai 20 persen dari total target.

“Di Klaten tidak bisa panen raya bareng. Mana yang duluan kami dekati. Kami sebenarnya pendampingan. Harapan kami dari pendampingan ini bisa 100 persen tercapai bahkan surplus. Jelas, penyerapan tetap melibatkan mitra Bulog,” kata Dandim saat ditemui di sela panen raya di Desa Gaden, Kecamatan Trucuk, Rabu (14/3/2018).

Kabid Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian Ketahanan Pangan dan Perikanan (DPKPP) Klaten, Joko Siswanto, mengatakan 10.350 ha sawah memasuki masa panen. Wilayah yang memasuki musim panen seperti di Cawas dan Trucuk.

“Dari hasil ubinan produksi padi itu sekitar 8,6 ton/ha. Hasilnya lumayan bagus dengan cuaca sangat mendukung,” kata Joko.

Soal harga panen, Joko mengatakan DPKPP tak bisa menentukan lantaran tergantung pasar. Ia berharap Bulog dan Kodim bisa segera bergerak menyerap gabah petani yang memasuki musim panen.

“Untuk petani saya harapkan hasil panen itu bisa dijual kiloan untuk gabah kering panen karena dari Kodim dan Bulog sudah siap menyerap. Hasilnya cukup lumayan. Kalau langsung ditebaskan hitungannya itu rugi. Apalagi hasil panen saat ini bagus,” urai dia.

Terkait target luas tanam padi di Klaten pada 2018, Joko menuturkan seluas 78.000 ha. Sementara, sawah lestari di Kabupaten Bersinar seluas 31.111 ha. “Dari sisi produksi, target produktivitas rata-rata 6,5 ton/ha,” ungkapnya.

Joko mengatakan dari hasil panen sepanjang 2017, produksi padi mencapai 475.000 ton gabah kering giling atau setara 350.000 ton beras. Dari hasil perhitungan kebutuhan padi warga Klaten, angka produksi itu surplus dengan angka 142.500 ton beras.

Lantaran hal itu, Joko sepakat tak ada impor beras untuk Klaten. soal target produksi tahun ini, ia optimistis Klaten tetap surplus. “Selama ini di Klaten setiap tahunnya surplus beras. Tentu optimistis dengan target tahun ini,” ungkapnya.

Salah satu petani di Desa Gaden, Kecamatan Trucuk, Muhidin, mengatakan harga jual padi dari petani di wilayahnya kepada para penebas berkisar Rp4 juta hingga Rp4,5 juta per patok (1.800-2.000 meter persegi luas tanam).

Sementara, biaya produksi untuk satu patok lahan pertanian dalam satu musim tanam sekitar Rp2 juta. Muhidin mengatakan harga jual hasil panen saat ini terhitung bagus bagi para petani. “Kalau harga masih bagus. Untuk penentuan harganya itu dari penebas,” urai dia.

Disinggung soal kebijakan impor beras, Muhidin mengatakan keberatan. Ketimbang melakukan impor beras, pemerintah diminta membantu petani meningkatkan produksi pertanian hingga menstabilkan harga panen padi. “Kalau impor beras, kami dari petani itu khawatir harga padi yang kami tanam akan turun,” katanya.