PERTANIAN BOYOLALI : Sebulan Rusak Terbengkalai, Baling-Baling Sumur Kincir Angin Dibal Diperbaiki

20 Maret 2018 01:35 WIB Aries Susanto Boyolali Share :

Baling-baling sumur bertenaga kincir angin di Dibal, Boyolali, yang rusak akibat angin kencang akhirnya diperbaiki.

Solopos.com, BOYOLALI -- Setelah hampir sebulan terbengkalai akibat rusak, http://solopos.com/?p=898721">sumur bertenaga kincir angin di Desa Dibal, Ngemplak, Boyolali, akhirnya diperbaiki kembali dalam pekan ini. Seluruh biaya perbaikan ditanggung tim pelaksana proyek dari Jawa Timur.

Kepala Desa Dibal, Budi Setyono, mengungkapkan hal tersebut kepada Solopos.com menanggapi rusaknya sumur bertenaga angin di desanya. Sumur tersebut rusak sekitar sebulan lalu akibat disapu angin yang cukup kencang. Padahal, sumur yang digadang-gadang menjadi percontohan itu belum diresmikan.

"Kami sudah koordinasi dengan tim pembuat sumur ini. Karena masih menjadi tanggung jawab pelaksana proyek, biaya sepenuhnya ditanggung tim," jelas Budi, Senin (19/3/2018).

Sumur bertenaga kincir angin itu rusak pada bilah baling-balingnya. Hal itu dipicu terjangan angin cukup kuat di area tengah sawah kawasan dekat Bandara Adi Soemarmo. "Beberapa waktu lalu, angin berembus cukup kencang. Saking kencangnya, baling-baling sampai muntir semua dan ringsek," jelas Budi.

Budi mengaku telah melaporkan insiden itu kepada pelaksana proyek dari Jawa Timur tak lama setelah kejadian. Pelaksana proyek berjanji mengubah semua konstruksi sumur baling-baling dan bahan-bahannya.

Perubahan konstruksi dan bahan itu mengingat karakter angin di Desa Dibal cukup kuat dan memerlukan perlakuan khusus. "Bahan dan konstruksi akan diganti semua menjadi bahan yang lebih kuat," tambahnya.

Seperti diketahui, sumur pompa pertanian bertenaga angin itu menjadi satu-satunya contoh alat penunjang pertanian yang bebas bahan bakar minyak (BBM). Beberapa waktu lalu, sumur tersebut sudah menjalani tes dan berhasil menyedot 60 liter air/menit.

Penggagas ide serta biaya sepenuhnya dari program penunjang pertanian ramah lingkungan PT Angkasa Pura. Program percontohan itu menelan anggaran sekitar Rp107 juta dan akan dikembangkan desa sebagai wisata edukasi.