Air Mata dan Lambaian Tangan Keluarga Tersangka Iringi Rekonstruksi Perusakan Fasilitas PT RUM Sukoharjo

23 Maret 2018 03:35 WIB Trianto Heri Suryono Sukoharjo Share :

Keluarga para tersangka kasus perusakan fasilitas PT RUM datang untuk menyaksikan proses rekonstruksi.

Solopos.com, SUKOHARJO -- Tak banyak yang bisa dilakukan keluarga kelima tersangka perusakan fasilitas PT Rayon Utama Makmur (RUM), Desa Plesan, Nguter, Sukoharjo, saat http://solopos.com/?p=905032">polisi menggelar rekonstruksi di pabrik tersebut, Kamis (22/3/2018).

Keinginan keluarga bertemu para tersangka tak kesampaian. Keluarga hanya bisa melihat anak, suami, atau teman seperjuangan mereka melakukan adegan demi adegan dalam rekonstruksi di halaman pabrik tersebut.

Ada 18 adegan pokok yang diperagakan lima tersangka yang dibawa dari Polda Jateng dengan pengawalan mobil Patwal polisi. Lima tersangka yang mengenakan baju warna biru turun dari mobil dan langsung masuk di Pos Satpam PT RUM yang masih dalam perbaikan.

Kelima tersangka itu adalah Brilian Yosef Nauval, warga Desa Juron, Nguter; Sukemi, warga Desa Celep, Nguter; Kelvin Ferdiansah, warga Desa Plesan, Nguter; dan seorang mahasiswa UMS, Muhammad Hisbun Payu atau Iss; dan warga Kecamatan Jumapolo, Karanganyar, Sutarno.

Ayah Brillian, Luboy, saat bertemu Solopos.com mangatakan datang untuk bertemu dengan anaknya. “Kami mengajak semua keluarga untuk bertemu. Tadi diberi tahu untuk datang,” ujarnya.

Luboy sempat melihat Brilian sesaat mobil yang membawa Brilian tiba dan parkir di halaman PT RUM. Namun, rombongan Luboy disuruh minggir oleh polisi, diminta berdiri di belakang police line. Police line dibentangkan di halaman parkir depan pabrik.

Baca juga:


Dua tenda besar polisi dan TNI yang didirikan di halaman parkir depan pun masuk dalam lingkaran police line sehingga jarak pandang pinggir jalan raya Songgorunggi, Nguter, Sukoharjo-Wonoharjo, Wonogiri, terhalang.

Elly, ibunda Brilian berjongkok agar bisa melihat anaknya di kejauhan. Elly berjongkok karena pandangannya terhalang tenda. Sambil melambai-lambaikan tangan, Elly didampingi seorang perempuan mencoba berkomunikasi melalui isyarat dengan Brilian, anaknya. “Semangat,” ucap Elly begitu bisa bertatap wajah dengan anaknya Brilian di kejauhan.

Elly berharap anaknya dan keempat rekannya segera dibebaskan. “Alhamdulillah, sekarang kami bisa menghirup udara segar.”

Fenny Ika Anjarwati, 32, istri Sukemi, warga Dukuh Brahu RT 001/002, Desa Celep, Nguter, Sukoharjo, juga datang bersama tiga anaknya yang masih kecil untuk melihat Sukemi. Anak sulungnya masih kelas I SMP, anak keduanya kelas IV SD, dan anak bungsunya berusia tiga tahun.

Terik matahari tak dihiraukan Fenny yang menggendong anak bungsunya Dafa. Air mata Fenny menetes saat melihat suaminya bergabung bersama empat rekannya di Pos Satpam seusai melakukan rekonstruksi.

“Kami ingin dia [Sukemi] secepatnya dibebaskan. Kami tidak tahu apa yang diperbuatnya tetapi suami saya memperjuangkan agar desa kami bebas dari bau tak sedap yang terhirup setiap harinya,” ujarnya.

Penasihat hukum kelima tersangka dari Peradi Solo, Badrus Zaman, mengaku tidak mengerti dengan sikap penyidik kepolisian. “Pertimbangan bertemu antara keluarga dengan tersangka memang subjektivitas penyidik. Semestinya bisa dipertemukan karena sebelum rekonstruksi sudah dibicarakan dan akan dipertemukan tetapi kok tidak jadi.”

Pantauan Solopos.com, pengacara tersebut diperbolehkan bertemu kelima kliennya sebelum rekonstruksi dimulai. Di hadapan kelima tersangka, Badrus meminta mereka menjalankan adegan sesuai fakta. "Kalau tidak dilakukan jangan dilakukan adegan tersebut," kata Badrus.

Hingga rekonstruksi selesai, keluarga tak bisa bertemu para tersangka. Tak terkecuali keluarga Sutarno maupun Kelvin. Mereka hanya bisa pasrah dan melambaikan tangan saat mobil mengangkut para tersangka melintas lewat di depan mereka.

Warga yang melihat rekonstruksi bertepuk tangan saat mobil rombongan melaju ke arah Sukoharjo. Tepuk tangan itu sebagai pemompa semangat aktivis lingkungan yang kini terpenjara.