Ular Piton Gentayangan, Warga Ledoksari Boyolali Khawatirkan Ternak & Anak

Seorang anak Ledoksari, Karanggeneng, Boyolali Kota, Minggu (1/4 - 2018), menunjukkan ular piton. (Solopos/Akhmad Ludiyanto)
01 April 2018 20:35 WIB Akhmad Ludiyanto Boyolali Share :

Solopos.com, BOYOLALI -- Penemuan dua ekor ular sanca kembang atau piton di Ledoksari, Desa Karanggeneng, Kecamatan Boyolali Kota, Sabtu (31/3/2018), bukan kali pertama. Warga pun resah dan khawatir ternak mereka, bahkan anak-anak mereka, dimangsa ular piton.

Warga mengungkapkan ular dengan berbagai ukuran pernah ditemukan di kampung yang kini bernama Kampung Pelangi Ledoksari tersebut. Kebanyakan ular yang ditangkap warga tersebut berjenis piton.

Pominin, 48, mengatakan dalam beberapa tahun terakhir, warga menemukan puluhan ular di berbagai tempat, antara lain di selokan, di jalan, maupun di dalam rumah. Namun diakuinya, ular sepanjang 3,5 meter yang ditemukan Sabtu lalu merupakan ular terbesar yang pernah ditangkap warga.

“Puluhan kali ada lah ular ditemukan di sini. Kadang di sungai [selokan], kadang di dalam rumah,” ujarnya saat ditemui di lingkungannya, Minggu (1/4/2018).

Pengakuan Ponimin ini dibenarkan Ketua RW IX, Sarjono, 46. Menurutnya, ukuran ular yang pernah ditemukan cukup beragam. Ular yang ukurannya kecil sering ditemukan di dalam rumah, sedangkan ular besar biasanya ditemukan di luar rumah.

“Yang cukup besar biasanya ada di sungai [selokan]. Selokan di kampung ini bermuara di Kali Gedhe,” ujar Sarjono yang ikut menangkap ular piton 3,5 meter itu pada Sabtu lalu.

Warga meyakini masih ada ular yang lebih besar yang ada di kawasan tersebut. “Kelihatannya masih ada yang lebih besar di sini karena pernah ada yang melihat tapi tidak sempat ditangkap,” ujarnya.

Sarjono mengaku warga menjadi resah dengan seringnya ditemukan ular-ular di kampungnya. Selain dikhawatirkan memangsa ternak, ular-ular itu juga membahayakan anak-anak.

“Warga mulai resah. Di sini kan banyak ternak ayam. Dan yang paling penting adalah banyak anak-kecil, takutnya memangsa mereka juga. Sejauh ini sih belum ada laporan kehilangan ternak,” ujarnya.

Warga lain, Mardi, 45 mengatakan hal senada dengan Sarjono. “Kami mulai resah karena boleh jadi dareah sini bukan hanya tempat ular cari mangsa, tetapi malah habitat mereka,” kata dia.