2 Peneliti UNS Solo Kembangkan Tangan Bionik yang Diklaim Jauh Lebih Murah

Dosen UNS Solo, Ilham Priadythama (kiri), memeragakan cara kerja tangan bionik di Kampus UNS, Rabu (4/4 - 2018). (Solopos/Septhia Riyanthie)
04 April 2018 22:35 WIB Septhia Ryantie Solo Share :

Solopos.com, SOLO -- Dua peneliti dari Fakultas Teknik (FT) Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo mengembangkan tangan bionik atau bionic hand yang menggunakan sensor otot. Mereka adalah Lobes Herdiman dan Ilham Priadythama, dosen Program Studi (Prodi) Teknik Industri FT UNS Solo.

Tangan bionik merupakan pengembangan dari tangan prostetik atau prosthetic hand. Bedanya, tangan bionik merupakan alat bantu organ tubuh yang dipakai terus menerus dan menjadi bagian tubuh, sementara tangan prostetik bisa dilepas dan dipasang kembali.

Tangan bionik digerakkan sinyal otot dan tidak perlu pengendalian eksternal. Otot memiliki saraf motorik yang sinyalnya dipakai mengoperasikan gerakannya. Alat ini juga memiliki kabel untuk power data yang terhubung ke pengendali untuk mengolah sinyal dari otak ke otot.

Pada otot terdapat saraf motorik yang ada sinyal listriknya meski lemah. Sinyal itu ditangkap oleh modul khusus biopotensial amplifier. Selanjutnya sinyal diperbesar menggerakkan tangan palsu.

Ditemui wartawan di Kampus UNS Solo, Rabu (4/4/2018), Lobes menerangkan penelitian tersebut dilatarbelakangi antara lain karena keprihatinan terhadap mahalnya peralatan ortopedi. Sementara pasien di bidang tersebut mayoritas dari kalangan menengah ke bawah.

"Kami melihat jika hampir semua alat bantu ortopedi masih impor sehingga harganya sangat mahal. Peralatan tersebut tidak bisa terjangkau oleh masyarakat bahkan yang tergolong mampu, apalagi menengah ke bawah," ungkap Lobes.

Ilham menambahkan penelitian tentang tangan bionik mereka mulai sekitar 2008 dengan melibatkan pakar ortopedi. Setiap perkembangan penelitian juga dikonsultasikan pada pakar maupun asosiasi ortopedi agar lebih tepat dalam penggunaan.

Kendati memiliki berbagai kelebihan, tangan bionik yang mereka kembangkan diklaim memiliki harga yang jauh lebih murah dibanding alat hampir serupa di pasaran, yakni hampir sepersepuluhnya.

"Di pasaran berkisar Rp200 juta. Yang kami kembangkan biaya produksinya hanya sekitar Rp20 juta dan jika diproduksi massal bisa ditekan lagi biayanya," imbuh Lobes.

Pada awalnya, pembuatan tangan bionik menggunakan bahan fiber. Namun karena fiber dinilai terlalu pejal dan susah menyesuaikan bentuk tangan, dipilihlah bahan plastik daur ulang (PLA).

"Selain harganya lebih murah, lebih ringan dan awet, PLA juga lebih mudah dibentuk sesuai anatomi tangan manusia," paparnya.

Sebagai pengganti anggota tubuh yang bisa difungsikan gerakannya, tangan bionik ini tidak bisa lepas pakai dan harus terpasang pada tubuh. Namun, teknik pemasangan pada tubuh bisa dilakukan dokter bedah tulang karena saat pengembangan, mereka juga berkonsultasi pada ahlinya.