Penanaman Padi Raja Lele Hasil Mutasi Genetik di Klaten Diperluas

Ilustrasi persawahan (Solopos/Dok)
07 April 2018 02:00 WIB Taufik Sidik Prakoso Klaten Share :

Solopos.com, KLATEN-- Pemkab Klaten dengan Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) bekerja sama melakukan perluasan penanaman padi varietas raja lele di 15 desa. Perluasan penanaman padi tersebut merupakan uji multilokasi sebelum benih padi dilepas secara umum.


Varietas tersebut dikenal memiliki usia panen yang lebih cepat. Namun, memiliki kualitas sama dengan padi raja lele yang selama ini dikenal harum, wangi, dan pulen.

Kepala Badan Perencanaan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Bappeda) Klaten, Bambang Sigit Sinugroho, mengatakan kali terakhir benih padi hasil penelitian diajukan untuk uji ketahanan hama di Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, Subang, Jawa Barat pada 2017. Dari hasil pengujian, benih padi raja lele hasil penelitian dinyatakan lolos uji terutama terhadap hama wereng.

“Memang sudah dinyatakan lolos uji ketahanan hama. Namun, perlu ada uji multilokasi. Perlu dicek dulu di banyak lokasi hasilnya seperti apa,” kata Bambang saat ditemui Solopos.com di Setda Klaten pekan lalu.


Perluasan tanam benih padi hasil penelitian tersebut dilakukan di 15 lokasi berbeda. Belasan lokasi itu termasuk empat lokasi yang sebelumnya digunakan untuk penanaman benih padi raja lele hasil penelitian. Desa-desa itu adalah Kokosan, Prambanan; Sembung, Wedi; Wonosari, Trucuk; Sukorini, Manisrenggo; Gempol, Karanganom; Gledeg, Karanganom; Ngrundul, Kebonarum; Bulurejo, Juwiring; Sekaran, Wonosari; Bener, Wonosari; Tlobong, Delanggu; Glagahwangi, Polanharjo; Sidowayah, Polanharjo; Karangasem, Cawas; dan Tumpukan, Karangdowo.

“Nanti terlihat di daerah mana saja yang hasilnya bagus. Itu yang nanti akan terus dikembangkan. Saat ini untuk usia padi yang ditanam sekitar 40 hari,” jelas dia.

Kasubbid Pengendalian dan Evaluasi Bidang Penelitian Pengembangan Pengendalian dan Evaluasi Bappeda Klaten, Sri Yuwana Haris Yulianta, mengatakan di masing-masing lokasi padi ditanam di sawah seluas 1.000 meter persegi. Haris mengatakan uji multilokasi perlu dilakukan selama dua kali.

“Habis tanaman ini panen sekitar pertengahan Juni, dilanjutkan uji yang kedua. Setelah itu menyusun proposal pelepasan varietas yang baru hasil pemuliaan dengan nama yang berbeda,” katanya.