Penataan Semanggi Solo I 23 Bangunan Bakal Dipindah

Aktivitas warga permukiman RW 23 Semanggi, Pasar Kliwon, Solo, Senin (19/3 - 2018). (Solopos/Nicolous Irawan)
08 April 2018 00:00 WIB Ivan Andimuhtarom Solo Share :

Solopos.com, Solo --Program penataan Kawasan Semanggi, Kecamatan Pasar Kliwon segera dimulai. Tim mendata terdapat 23 bangunan yang bakal dipindah dalam pelaksanaan penataan Kawasan Semanggi Paket I.

Lurah Semanggi, Sularso, mengatakan jumlah rumah yang harus dipindah untuk kegiatan Penataan Semanggi Paket I adalah 23 bangunan. Ia memerinci, 22 bangunan adalah rumah warga. Sementara satu bangunan lainnya adalah Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Ar Ridho di Kampung Kenteng.

"Penataan awal memang dilakukan dari Pertigaan Jl. Sungai Serang ke selatan sampai mentok ke tanggul," kata dia saat diwawancara Solopos.com, Sabtu (31/3/2018).

Selain itu, secara simultan pembangunan juga dilakukan di RW 023 atau di selatan Jembatan Mojo. Menurutnya, sesuai pendataan dan verifikasi yang sudah dilakukan, terdapat 63 bangunan rumah tinggal warga.

Askot Urban Planner Kota Tanpa Kumuh (Kotaku) Semanggi, Totok Setiawan, menjelaskan pekerjaan di Blok Semanggi Selatan saat ini adalah pekerjaan pembuatan drainase. Menurutnya, drainase dari ujung Jl. Sungai Serang sampai Pintu Air Kenteng di RW 007 Semanggi adalah sepanjang sekitar 1. 350 meter.

"Satu unit rumah pompa beserta pompa banjir berkapasitas 500 liter per detik dan penataan bantaran atau ruang terbuka hijau (RTH) akan segera dikerjakan dalam waktu dekat oleh kontraktor pemenang lelang," kata dia saat dihubungi Espos, Sabtu.

Menurut dia, pihak yang melelang adalah Satuan Kerja (Satker) PKP Provinsi Jawa Tengah. Alokasi anggaran untuk proyek tahap I tersebut adalah Rp11 miliar.

"Proyek itu menggunakan dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN)," ungkapnya.

Sedangkan pekerjaan drainase di RW 023 Semanggi, pekerjaan drainase sabuk di Semanggi Utara, dan penataan bantaran masih dalam tahap perencanaan. Ia mengatakan proyek tersebut rencananya bakal dikerjakan menggunakan pinjaman luar negeri (loan) dari World Bank (Bank Dunia).

"Ini masih menunggu persetujuan dengan World Bank," tuturnya.