Satwa Liar Boyolali: 6 Ular Piton Ditemukan di Kawasan Kota

Ular/ular piton yang ditemukan warga Kampung Ledoksari, Desa Karanggeneng, Boyolali. (Solopos/Akhmad Ludiyanto)
08 April 2018 15:35 WIB Akhmad Ludiyanto Boyolali Share :

Solopos.com, BOYOLALI -- Enam ular sanca kembang atau piton ditangkap warga di kawasan kota Boyolali dalam sepekan terakhir. Setelah penemuan dua ular piton di selokan Kampung Ledoksari, Desa Karanggeneng, Kecamatan Boyolali, Sabtu (31/3/2018), empat ular lagi ditemukan di lokasi yang sama.

Namun demikian, hal ini dianggap wajar menjelang musim kemarau. Panjang ular-ular yang ditemukan beragam mulai 1 meter hingga 3,5 meter. Terakhir, ular ditemukan Jumat (6/4/2018) malam di selokan yang membelah kampung tersebut.

Selokan ini bermuara ke Kali Gedhe yang mengalir di tengah kota Boyolali. Sejumlah warga setempat mengungkapkan setelah ular terbesar temuan warga sepanjang sekitar 3,5 meter ditangkap pekan lalu, warga kian intensif melakukan pengamatan ke selokan tersebut, khusunya di malam hari.

Hasilnya, ular-ular lain ditemukan pada hari-hari berikutnya di lokasi yang sama. Sekarang binatang melata yang sudah ditangkap ini ni dimasukkan ke dalam satu kandang.

Banyaknya ular yang ditemukan membuat warga kian resah. Apalagi, diperkirakan masih ada ular lebih besar yang belum tertangkap.

Marni, 53, mengaku pernah melihat ular cukup besar melintas di jembatan selokan itu. Dia tidak bisa memperkirakan ukuran ular tersebut, namun menurutnya lebih besar dibandingkan ular terbesar yang ditemukan pekan lalu (3,5 meter).

“Sekitar tiga bulan lalu ada orang memanggil saya katanya ada ular besar sedang melintas di jembatan. Lalu saya keluar tumah dan lari melihat. Ternyata besar sekali. Lutut saya langsung terasa lemas saking takutnya, tapi hanya bisa melihat ular itu pergi,” ujar warga RT1/RW9 Ledoksari ini saat ditemui Solopos.com, Sabtu (7/4/2018).

Meski khawatir, warga tetap beraktivitas seperti biasa. Hanya saat ini perhatian mereka terhadap aliran selokan menjadi lebih besar.

Seorang warga kampung lain, Tinuk, 65, yang tinggal di RT2/RW6 mengaku lebih waspada saat momong cucu-cucunya di sekitar jembatan/selokan itu. “Rumah saya agak jauh, tapi cucu biasanya main ke daerah sini. Sekarang jadi agak takut kalau lewat jembatan karena ternyata banyak ularnya,” kata Tinuk sambil sesekali menengok ke arah selokan.

Sementara itu, Kepala Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Tengah Suharman mengatakan dari ukurannya yang mencapai 3,5 meter, ular-ular di Boyolali ini sudah termasuk dewasa. Kemunculan ular merupakan fenomena biasa dan bisa disebabkan habitatnya terusik alam misalnya banjir, longsor, dan sebagainya.

Selain itu, kemunculannya yang bersamaan bisa jadi karena kondisi udara panas yang cukup lama dan kemudian hujan. “Ular sanca phyton reticulstus keluar dari sarang merupakan fenomena yang biasa memasuki musim kemarau. Bagi seorang biolog/herpetolog, ini menjadi penanda masuknya musim itu,” ujarnya kepada Solopos.com, Minggu (8/4/2018).

Untuk hidup normal ular sanca harus menjaga kelembapan tubuhnya. Dia mempunyai sistem penanda suhu dalam tubuhnya. Ketika suhu lingkungannya di atas normal ular harus segera melakukan adaptasi dengan cara keluar sarang mencari air untuk menjaga suhu tubuhnya.

“Jadi kemungkinan di lokasi sekitar tempat penemuan merupakan habitat ular sanca karena mungkin sudah mau memasuki musim kemarau maka agak panas jadi ular sanca butuh keluar untuk menyesuaikan dengan kondisi lingkungannya,” jelasnya.