Konser Europe Tandai Akhir Riwayat Stadion Sonolayu Boyolali

Pengendara sepeda motor melintas di sekitar Stadion Pandanarang atau Stadion Sonolayu, Boyolali, Selasa (10/4 - 2018). (Solopos/Akhmad Ludiyanto)
11 April 2018 23:35 WIB Akhmad Ludiyanto Boyolali Share :

Solopos.com, BOYOLALI -- Grup band legendaris asal Swedia, Europe, akan menggelar konser di Stadion Pandanarang, Boyolali, 12 Mei mendatang. Boleh jadi konser ini akan menjadi konser terakhir di stadion yang juga dikenal dengan nama Stadion Sonolayu ini.

Setelah penampilan Europe dalam rangkaian tur dunia Walk The Earth tersebut, stadion tersebut akan dirobohkan sebagai penanda dimulai pembangunan mal di lahan tersebut yang akan dimulai 31 Mei.

“Bisa jadi konser ini adalah konser terakhir di stadion itu karena setelah itu stadion akan dirobohkan,” ujar Kasi Ilmu Pengetahuan dan Industri Olahraga Dinas pemuda Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Boyolali, Agus Sucipto, saat berbincang dengan wartawan di lokasi pembangunan sirkuit gokart di Kelurahan/Kecamatan Mojosongo beberapa waktu lalu.

Selanjutnya, stadion ini akan dipindah ke Desa Paras, Kecamatan Cepogo. Sedangkan untuk mengganti lintasan altetik, Pemkab membangun lintasan baru di Kelurahan Mojosongo, berdampingan dengan sirkuit gokart.

Agus mengatakan sebelum dibongkar, rumput Stadion Sonolayu ini akan dipindahkan ke lintasan atletik yang baru. “Dengan begitu kami tak perlu pengadaan rumput lagi di lintasan baru,” imbuhnya.

Stadion Pandanarang mulai dibangun pada masa Bupati Moch. Hasbi yang menjabat 1984-1994. Selain sebagai markas Persatuan Sepak Bola Indonesia Boyolali (Persebi), stadion ini juga menjadi tempat beragam kegiatan. Kegiatan itu antara lain konser Slank pada 2014, Popda Soloraya pada 2015, dan lainnya.

Pada masa kepemimpinan Bupati Seno Samodro ini, keberadaan stadion di sisi utara Jl. Perintis Kemerdekaan tersebut akan diakhiri. Lokasi tersebut akan dijadikan mal. Sebagai gantinya, Pemkab Boyolali membangun stadion baru di Desa Paras, Kecamatan Cepogo.

Pembangunan stadion baru yang sebelumnya dianggarkan sekitar Rp31 miliar kemudian menjadi Rp25 miliar itu dimulai 2018. Catatan Solopos.com, Seno mengatakan dipilihnya Paras sebagai lokasi stadion karena cukup tinggi.

Diperkirakan, oksigen di lereng Gunung Merapi itu tipis sehingga bagus untuk menempa ketahanan fisik para atlet. Selain itu, dia terinspirasi sekolah sepak bola La Paz Bolivia yang berada di ketinggian.

“Para pemain La Paz terbiasa berlatih pada oksigen tipis sehingga tangguh dan saat mereka bermain di lokasi ekstrem, mereka sudah terbiasa,” ujar Seno.

Seno menembahkan jalan menuju stadion itu dibangun selebar 20 meter. Sementara itu, Camat Cepogo Agus Darmawan mengatakan stadion itu akan menggunakan tanah kas desa seluas 20 hektare (ha). Lokasi stadion Paras berjarak sekitar 300 meter di selatan jalur Solo-Selo-Borobudur (SSB).