3 Kasus Asusila Terjadi dalam Sepekan di Wonogiri

ilustrasi pencabulan. (Solopos/Whisnu Paksa)
12 April 2018 20:35 WIB Rudi Hartono Wonogiri Share :

Solopos.com, WONOGIRI -- Tiga kasus dugaan tindak asusila  terjadi di Wonogiri dalam sepekan ini. Kasus tersebut meliputi siswi kelas IX SMP asal Kecamatan Wonogiri yang diduga dicabuli teman dekatnya, seorang perangkat desa di Kecamatan Girimarto tepergok warga berbuat tak senonoh dengan kekasihnya di dalam mobil, dan seorang guru SMP di Puhpelem diduga mencabuli siswinya.

Kasatreskrim Polres Wonogiri, AKP M. Kariri, kepada Solopos.com, Kamis (12/4/2018), menyampaikan telah menetapkan seorang warga asal Ngadirojo, IS alias Boleng, sebagai tersangka pencabulan. Remaja 19 tahun itu diduga mencabuli siswi kelas IX SMP berumur 14 tahun asal Kecamatan Wonogiri, Selasa (10/4/2018) lalu.

Kasus itu dilaporkan keluarga korban setelah korban ditemukan berada di rumah Wu, teman IS, di Jatimarto, Ngadirojo, bersama IS. IS mengaku telah berhubungan intim dengan siswi SMP itu di rumah Wu saat sepi.

“Pelaku kami tahan untuk kepentingan penyidikan lebih lanjut,” kata Kariri mewakili Kapolres Wonogiri, AKBP Robertho Pardede.

Siswi SMP yang menjadi korban itu sebelumnya dikabarkan hilang. Bahkan, informasi tersebut tersebar di media sosial. Orang tuanya sudah mencarinya ke mana-mana.

Pada Selasa pagi pelajar tersebut pamit pergi ke sekolah dengan menumpang angkutan umum. Tetapi, hingga sore dia tak pulang. Setelah ditelusuri ternyata dia pergi bersama IS. Keduanya bertemu di Pasar Pokoh lalu pergi ke rumah Wu. Mereka menginap semalam.

Sehari sebelumnya, Senin (9/4/2018), polisi menerima aduan ada seorang laki-laki dan perempuan diduga berbuat mesum di mobil sedan yang diparkir di dekat SMPN 1 Wonogiri, pukul 15.30 WIB. Saat itu warga sekitar memergoki mereka berbuat tak senonoh di mobil.

Selanjutnya warga menggerebek mobil itu dan menyerahkan keduanya kepada aparat Polres Wonogiri. Mereka adalah SW, 38, seorang lelaki warga Girimarto dan teman dekatnya, RA, 30, warga Ngadirojo.

Menurut Kariri, SW merupakan perangkat desa dan sudah beristri. RA juga sudah bersuami. Diduga mereka menjalin asmara. Namun, kasus itu tidak sampai ke proses hukum karena tidak ada pihak yang melapor. Kasus perzinahan merupakan delik aduan.

“Keluarga mereka mau menyelesaikannya secara kekeluargaan,” ulas Kariri.

Di sisi lain, Kapolsek Puhpelem, Iptu Sukarjo, mendapat informasi ada guru SMP yang diduga mencabuli siswinya kelas IX. Namun, petugas Polsek tersebut hingga Kamis belum mendapat laporan.

Iptu Sukarjo akan berkoordinasi dengan sekolah dan orang tua siswi yang diduga menjadi korban setelah siswi bersangkutan menjalani ujian nasional. Hal itu agar tidak mengganggu konsentrasinya.

Pendamping Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Wonogiri, Ririn Riadiningsih, menyatakan siap mendampingi korban jika diminta. Dia mengaku sudah berkoordinasi dengan polisi.

P2TP2A mencatat tahun lalu terdapat 27 kasus kekerasan seksual terhadap anak dengan korban mencapai 77 orang. Satgas Perlindungan Perempuan dan Anak terus berupaya mencegah terjadinya kasus tersebut.