Warga Beri Lampu Hijau PT RUM Sukoharjo Berproduksi, Ini Syaratnya

Kepala DLH Sukoharjo, Djoko Sutarto (kanan) menunjukkan proses penanganan limbah di Pabrik PT RUM Sukoharjo, Senin (5/2 - 2018). (Solopos/Trianto Hery Suryono)
13 April 2018 19:35 WIB Trianto Heri Suryono Sukoharjo Share :

Solopos.com, SUKOHARJO -- Masyarakat terdampak bau limbah PT Rayon Utama Makmur (RUM), Desa Plesan, Kecamatan Nguter, Sukoharjo, tak mempermasalahkan jika pabrik tersebut berproduksi. Namun, warga menginginkan ada jaminan udara di lingkungan sekitar tidak tercemar, segar, tetap terjaga bersih.

Semenjak pabrik berhenti berproduksi, warga tidak ada lagi yang protes dan tidak mengeluhkan soal bau. Menurut informasi yang beredar, PT RUM akan uji coba produksi karena mesin pengolah limbah mereka akan jadi pada Juni mendatang.

Tokoh masyarakat dan Masyarakat Peduli Lingkungan (MPL) berharap mereka diundang saat manajemen pabrik melakukan uji coba pemanfaatan mesin pengolah limbah. Peristiwa demonstrasi berkali-kali diharapkan menjadi pelajaran.

Hal itu disampaikan Kepala Desa (Kades) Pengkol, Kecamatan Nguter, Kabupaten Sukoharjo, Sugiyo, saat diwawancarai Solopos.com, Jumat (13/4/2018). Menurutnya, warga terdampak dan warga sekitar pabrik berharap ketentuan Bupati yang disampaikan sebelum penghentian produksi pabrik ditaati oleh PT RUM.

“Harapan warga sesuai permintaan yaitu bau tidak ada. Tokoh masyarakat dan MPL diundang jika ingin launching sebelum produksi lagi. Selama tidak ada produksi dan tidak bau warga adem ayem. Permintaan warga hanya tidak bau, silakan saja pabrik berdiri,” tandasnya.

Yanto, 42, salah satu warga terdampak di Desa Celep, mengatakan warga tidak menuntut pabrik PT RUM ditutup. Warga hanya ingin udara tetap bersih walau pabrik berdiri. Dia mengaku sejak operasional pabrik berhenti udara menjadi segar dan dirinya tidak pusing dengan bau.

“Waktu [bau] itu, walau sudah memakai masker dan masuk rumah bau tidak hilang. Sekarang sudah segar lagi. Seperti ini yang diinginkan warga, silakan pabrik ada tetapi jangan mengganggu kesegaran udara yang dihirup warga. Permintaan warga hanya itu tidak menutup pabrik,” ujarnya.

Sementara itu, pegawai PT RUM, Atik, menyatakan pekerjaan di lokasi mesin penangkal bau di kompleks pabrik terus berlangsung. “Mesin dari Tiongkok masih dirakit. Diharapkan Juni selesai dan dipasang. Sebelum mesin dari Tiongkok datang, pekerja terus melakukan perbaikan pengolahan limbah.”

Juru bicara PT RUM, Bintoro Dibyoseputro, menambahkan pada 10 April lalu, tim sindikasi perbankan mengecek kesiapan pembangunan Wet Scrubber atau alat penangkal dan pengolah bau gas agar netral ke kompleks pabrik. “Insya Allah akhir Juni alat terpasang. Ketentuan dari Bupati tetap dipatuhi yakni sebelum uji coba dilakukan, Muspida dan semua elemen masyarakat diundang untuk melihatnya,” ujarnya.

Bintoro yang juga sekretaris di PT RUM, menjelaskan wet scrubber berfungsi menghilangkan bau dalam proses pembuatan serat rayon. Dia mengklaim wet scrubber merupakan alat canggih untuk mengendalikan polusi udara.

Wet scrubber bisa menghilangkan partikel penyebab bau pada sistim exhaust udara di pabrik-pabrik. Alat ini menyemprotkan semacam cairan pada udara di sistem exhaust, nanti cairan akan menangkap partikel-partikel penyebab bau di udara,” jelas Bintoro.

Dia menambahkan beberapa pabrik serat rayon di luar negeri telah menggunakan wet scrubber seperti yang dipasang di PT RUM sebagai fasilitas tambahan pengolahan limbah. “Kapasitas produksi serat rayon dari PT RUM nanti hingga 80.000 ton per tahun dengan fasilitas produksi seluas 65 hektare.”