Putra-Putri Lurik 2018 Justru dari Luar Klaten

Bupati Klaten, Sri Mulyani (kanan), menyematkan mahkota kepada Lala Yesica Halim, asal Sukoharjo, sebagai Putri Lurik 2018, berpasangan dengan Peter Guntara asal Grobogan pada malam Grand Final Putra-Putri Lurik 2018 di Alun-alun Klaten, Sabtu (7/4 - 2018) malam. (Istimewa/Dokumentasi Humas Setda Klaten)
15 April 2018 04:20 WIB Cahyadi Kurniawan Klaten Share :

Solopos.com, KLATEN- Peter Guntara dinobatkan sebagai Putra Lurik 2018 dalam puncak pemilihan Putra-Putri Lurik Klaten 2018 di Alun-alun Klaten, Sabtu (7/4/2018) malam. Sementara gelar Putri Lurik 2018 disematkan kepada Lala Yesica Halim asal Sukoharjo.

Peter adalah lelaki asal Grobogan. Sedangkan Lala adalah perempuan asal Sukoharjo. Kendati tak ada wakil Klaten yang meraih juara, Bupati Klaten, Sri Mulyani mengapresiasi penilaian dewan juri. Ia menilai hal itu menandakan independensi juri yang bebas kepentingan.

"Kecewa ada, tapi saya mengapresiasi berarti ajang ini fair play. Dewan juri independen dalam memberikan penilaian," tutur Sri Mulyani, saat ditemui wartawan seusai acara.

Rinai yang membasahi tak menyurutkan antusiasme warga menonton malam . Malam itu, 20 grand finalis beradu bakat dan ide untuk memajukan lurik Klaten.

Dari 20 peserta disaring lagi menjadi lima pasang putra dan putri. Mereka diminta menjawab pertanyaan yang diambil secara acak dari setoples yang tersedia. Ada lima pertanyaan untuk lima pasangan, salah satunya pertanyaan tanggapan soal lurik yang dianggap kuno dan monoton beserta alasannya.

Agna Wikantara, peserta asal Klaten, menyatakan kendati berkesan kuna dan monoton, lurik sarat dengan nilai-nilai budaya bangsa dan filosofis yang luar biasa. Jika lurik dikembangkan dengan mode kontemporer atau "zaman now", ia menjadi produk yang luar biasa dan mampu bersaing di kancah global.

Hal berbeda disampaikan Rizka Ramana Putri asal Karanganyar. Bagi dia, lurik bisa dipadupadankan dan dimodifikasi mengikuti fashion kontemporer. Hal itu menjauhkan lurik dari kesan kuno dan monoton.

Pertanyaain lain dibacakan oleh Ketua DPRD Klaten, Agus Riyanto. Ia bertanya, dengan segala kemudahan teknologi, apa yang akan anda lakukan untuk mengenalkan lurik kepada masyarakat selain melalui media sosial?

"Selain melalui media sosial, saya akan memperkenalkan lurik bagi generasi muda khsususnya masyarakat Klaten dengan tiga bukti cinta, yakni mengenalkan, mencintai, dan menyebarluaskan. Sebab, dengan tiga bukti cinta itu masyarakat klaten akan lebih mengenal lurik," sahut Ardian Adi Nugroho, asal Sukoharjo.

Pertanyaan itu direspons Lala Yesica Halim, asal Sukoharjo, dengan membikin website tentang lurik. Di laman itu setiap orang bisa belajar mengenal lurik. Ia juga akan menggunakan strategi marketing yang ia pelajari untuk memperkenalkan lurik lebih jauh.

Pasangan Peter Guntara asal Grobogan dan Maria Rosa Kemala asal Klaten giliran menerima pertanyaan dari Bupati Klaten, Sri Mulyani. Bupati bertanya, "Apabila anda terpilih sebagai putra-putri lurik, inovasi apa yang akan anda lakukan untuk memajukan lurik Klaten?"

"Inovasi yang akan saya lalukan dimulai dari hal-hal sederhana seperti mengenalkan lurik dalam aktifitas sehari-hari seperti pakaian, sandal, sepatu dari lurik, dan seragam sekolah yang bisa dipadupadankan dengan batik supaya lebih sejajar," balas Peter.

Sedangkan, Maria menjawab, "Saya akan memajukan dengan mengenalkan lurik kepada rekan, sahabat di luar kota Klaten bahwa lurik itu menarik, tak hanya batik. Lurik juga akan dimasukkan 100 persen ke dalam kegiatan seni atau kegiatan yang melibatkan banyak orang, sehingga orang mengenal lurik khas Klaten."

Peserta juga ditanya soal bagaimana cara mengangkat citra lurik agar sejajar dengan batik. Peserta asal Solo, Irizal Suryanto, menyatakan upaya itu harus dimulai dari diri sendiri untuk mencitai lurik. Jika lurik menyatu dengan tubuh, orang-orang terdekat akan mengenal lurik. Lurik juga memilik banyak filosofi. Dengan kekayaan filosofi itu lurik akan sejajar dengan batik.

Veronika Dinda Zerlina, asal Klaten, menyatakan perlu melakukan inovasi dan kreasi lurik sehingga bisa mengikuti tren dan tidak terkesab kuno. "Selain itu, ketika ada pameran batik, di sana juga ditampilkan lurik. Dengan begitu, masyarakat juga tidak hanya mengenal batik tetapi juga lurik sehingga lurik bisa sejajar dengan batik," tutur Veronika.