Grebeg Penjalin Jadi Momentum Kebersamaan Antarpengrajin

Warga mengarak gunungan berisi dolanan anak saat kirab budaya Grebeg Penjalin 2018 di Desa Trangsan, Gatak, Sukoharjo, Senin (9/4 - 2018). (Solopos/Bony Eko Wicaksono)
18 April 2018 04:00 WIB R Bony Eko Wicaksono Sukoharjo Share :

Solopos.com, SUKOHARJO--Empat gunungan setinggi tiga meter diarak masyarakat melintasi jalan perkampungan di Desa Trangsan, Kecamatan Gatak, Senin (9/4/2018). Empat gunungan itu berisi berbagai dolanan anak seperti bola, keranjang dan mobil-mobilan yang terbuat dari rotan.

Arak-arakan gunungan diiringi belasan orang yang memakai kostum karnaval batik berukuran raksasa. Tak berapa lama kemudian, ratusan warga memperebutkan gunungan berisi dolanan anak itu. Mereka terlihat riang saat berebut dolanan anak.

Bahkan, salah satu gunungan nyaris ambruk lantaran masyarakat berdesak-desakan di sekitar gunungan. Gunungan itu merupakan bagian dari kirab budaya Grebeg Penjalin 2018 di Desa Trangsan, Kecamatan Gatak. Mayoritas pengrajin rotan di Desa Trangsan turut berpartisipasi meramaikan kirab budaya rotan. Selama ini, mereka mengandalkan produksi kerajinan rotan untuk mendapatkan penghasilan setiap bulan.

“Grebeg Penjalin kali pertama digelar 2016 yang bertujuan membidik pangsa pasar lokal. Kala itu, kirab budaya hanya diikuti para pengrajin rotan berskala menengah dan kecil. Nah, kini banyak perusahaan yang juga ambil bagian dalam kirab budaya,” kata Ketua Panitia Grebeg Penjalin 2018, Suryanto, saat berbincang dengan Solopos.com.

Pada era tahun 90-an merupakan masa kejayaan para pengrajin rotan. Mereka kebanjiran order dari luar negeri seperti Jerman, Inggris dan Tiongkok. Kala itu, jumlah pengrajin rotan di Desa Trangsan mencapai sekitar 500 orang. Kini, jumlah pengrajin rotan hanya tinggal separuh. Mereka berupaya menjaga eksistensi kerajinan rotan baik di level nasional maupun internasional.

Grebeg Penjalin menjadi momentum kebersamaan dan kekompakan para pengrajin lokal berskala kecil hingga besar. Dengan kekompakan dan kebersamaan, bukan mustahil kerajinan rotan bakal merajai pasar luar negeri dan lokal. Tak hanya itu, Grebeg Penjalin difokuskan untuk membranding dan mempromosikan desa wisata kerajinan rotan kepada masyarakat.

“Ada pameran produk kerajinan rotan, bazar dan wisata edukasi. Kami ingin menjaga eksistensi rotan alami dari serbuan rotan sintetis di pasaran,” papar dia.

Sementara itu, Bupati Sukoharjo, Wardoyo Wijaya, mengatakan para pengrajin rotan harus selalu aktif menambah pengetahuan baik dalam hal bisnis, produksi, desain, pemasaran dan kecenderungan selera konsumen. Mereka dituntut selalu berinovasi dalam menciptakan desain mebel rotan yang menjadi tren masa kini. Dengan inovasi itu bakal meciptakan desain mebel rotan modern dan sesuai selera pangsa pasar.

“Instansi terkait selalu menggelar pelatihan untuk memotivasi para pengrajin rotan agar produknya mampu bersaing di pasaran. Strategi promosi efektif bisa meningkatkan omzet penjualan produk kerajinan rotan,” kata dia.