Kecelakaan Klaten: 38 Orang Meninggal di Jalanan

Ilustrasi kecelakaan lalu lintas (Antara)
18 April 2018 19:07 WIB Cahyadi Kurniawan Klaten Share :

Solopos.com, KLATEN --- Sebanyak 38 orang meninggal dunia di jalanan wilayah Klaten. Data tersebut dihimpun Polres Klaten selama Januari - Maret 2018.

Ke-38 orang meninggal itu akibat kecelakaan di wilayah Klaten. Tak hanya itu, pada periode yang sama, satu orang mengalami luka berat dan 300 orang mengalami luka ringan. Total kerugian materi mecapai Rp347.100.000.

KBO Satlantas Polres Klaten, Iptu Sarwoko, mewakili Kapolres Klaten, AKBP Juli Agung Pramono, mengatakan penyebab kecelakaan yang umumnya terjadi karena ada pihak yang melanggar aturan lalu lintas baik marka, rambu, dan lainnya.

Kecelakaan hampir terjadi di seluruh wilayah Klaten. Ia juga memetakan lokasi rawan kecelakaan atau black spot di wilayah Klaten. "Ada lima lokasi rawan kecelakaan yang perlu diperhatikan pengguna jalan di Klaten," kata dia, saat ditemui wartawan di kantornya, Rabu (18/4/2018).

Secara terperinci, kelima lokasi itu meliputi: Jl. Pedan-Cawas, Desa Plosowangi, Kecamatan Cawas; Jl. Jogja-Solo, Desa Klepu, Kecamatan Ceper; Jl. Jogja-Solo, Desa Kraguman, Kecamatan Jogonalan; Jl. Jogja-Solo Desa Kemudo, Kecamatan Prambanan; dan terakhir Jl. Perintis Kemerdekaan, samping SPBU Jonggrangan.

"Di kelima lokasi itu dalam radius 500 meter mungkin sering terjadi kecelakaan," urai dia.

Kelima lokasi itu, lanjut Sarwoko, memiliki kondisi jalan lurus dan berkelok. Polisi terus melakukan evaluasi untuk memastikan penyebab pasti kerap terjadi kecelakaan di kawasan itu khususnya saat jam-jam rawan kecelakaan pada pagi dan sore hari.

Untuk menekan angka kecelakaan, Polres Klaten rutin menggelar operasi penertiban lalu lintas dengan sasaran pengendara tak mengenakan helm, pengemudi tak menggunakan sabuk pengaman, melawan arus, dan pelanggarab lainnya.

Polisi juga memperluas sosialisasi keselamatan berlalu lintas bersama BPJS, Jasa Raharja, dan Dinas Kesehatan, dengan sasaran ke tingkat kecamatan.

Sosialisi melibatkan kepala desa, tokoh agama, tokoh masyarakat dan elemen lain, demi peningkaan kepatuhan terhadap aturan saat berlalu lintas. "Kami berharap melalui para tokoh itu bisa mengajak masyarakat untuk lebih tertib saat berlalu lintas," harap Sarwoko.