Bupati Sragen Ingatkan Kartini Milenial sebagai Agent of Change

Para pejabat dan pegawai Pemkab Sragen mengikuti upacara peringatan Hari Kartini, Jumat (20/4 - 2018) pagi. (Istimewa)
20 April 2018 13:10 WIB Kurniawan Sragen Share :

Solopos.com, SRAGEN - Peringatan Hari Kartini di Kabupaten Sragen dilakukan dengan menggelar upacara di halaman Kompleks Sekretariat Daerah (Setda) Sragen, Jumat (20/4/2018) pukul 07.15 WIB.

Upacara dihadiri para pejabat Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkompinda) Sragen dan diikuti pegawai di lingkungan Setda Sragen. Mereka mengenakan busana tradisional Jawa.

"Yang putri pakai kebaya, kalau yang kakung pakai beskap. Itu untuk pejabat eselon II, III, dan IV. Kalau staf pakai sorjan," ujar Bupati Sragen, Kusdinar Untung Yuni Sukowati seusai upacara.

Dia memastikan keharusan bagi para staf di jajaran Pemkab Sragen agar mengenakan sorjan, tak merepotkan. Selama ini saat peringatan HUT Sragen mereka biasa memakai sorjan.
Yuni, panggilan akrabnya, meminta para pejabat dan staf Pemkab bisa menghayati makna peringatan Hari Kartini. Seorang perempuan Jawa yang rela berkorban demi kemajuan kaumnya.

Tonggak perjuangan Kartini telah ditancapkan 139 tahun silam. Sebuah perjalanan waktu yang menurutnya tak singkat. Dia berharap semakin banyak Kartini yang lahir di Sragen dan Tanah Air.

"Saat ini kita butuh Kartini-Kartini milenial yang turut berperan dalam kemajuan bangsa dan negara. Mereka menjadi agent of change di lingkungan atau habitat masing-masing," imbuh dia.

Tapi Yuni juga mengingatkan agar para Kartini milenial tidak melupakan kodratnya sebagai perempuan, ibu, dan istri. "Tetap lah di kodrat kita sebagai seorang ibu dan istri di keluarga," kata dia.

Menurut Yuni pemerintah telah berupaya melaksanakan pembangunan bermanfaat bagi semua pihak tanpa dikriminasi. Kongkretnya via pembukaan akses guna mewujudkan kesetaraan gender.

Tapi masih tingginya kasus kekerasan perempuan dan anak, kaum perempuan yang belum bisa membaca, kemiskinan, membutuhkan perhatian semua pihak agar bisa segera terselesaikan.

Fokus pembangunan dibutuhkan guna mewujudkan manfaat setara antara laki-laki dan perempuan. Ihwal perlindungan anak harus ada komitmen bersama mewujudkan kabupaten layak anak.

Seusai upacara dilakukan penandatanganan kerja sama pelayanan terpadu penanganan kekerasan terhadap perempuan dan anak. Kerja sama demi optimalisasi penanganan.