Bawa Putri Malu, Arifa Wakili UNS Solo Maju Mawapres 2018

Mahasiswa Program Diploma 3 (D3) Agribisnis, Fakultas Pertanian, Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Arifa Eviyanti, menunjukkan produk gel fungisida nabati ekstrak akar putri malu yang bernama Chilica di Gedung dr. Prakosa kompleks rektorat UNS, Solo, Senin (16/4 - 2018). (Solopos/Nicolous Irawan)
21 April 2018 07:00 WIB Septhia Ryantie Solo Share :

Solopos.com, SOLO--Penelitian tentang pemanfaatan tanaman putri malu untuk meningkatkan produktivitas cabai telah mengantarkan Arifa Eviyanti, mahasiswa Semester IV Program Diploma 3 (D3) Agribisnis Fakultas Pertanian (FP) Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo terpilih menjadi salah satu dari dua wakil UNS yang akan maju ke ajang Mahasiswa Berprestasi (Mawapres) Nasional 2018. Kompetisi tersebut diselenggarakan Kementrian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti).

Ditemui wartawan di Kampus UNS Solo, Senin (16/4/2018), Arifa mengemukakan penelitian tersebut dilakukannya dengan melihat permasalahan pada produktivitas cabai, sebagai salah satu komoditi bidang pertanian di Indonesia. Salah satu kendala dalam budi daya tanaman cabai adalah penyakit antraknosa.

“Penyakit ini disebabkan jamur Colletotrichum Spesies. Membuat cabai sering ada bercaknya. Efeknya bisa mengganggu komoditas cabai dan penurunan produktivitas panen cabai,” beber Arifa.

Untuk menanggulangi penyakit tersebut, banyak petani cabai masih menggunakan fungisida kimia. Dia mencontohkan, salah satunya di Kulon Progo dengan persentase 76 persen petani cabai menggunakan fungisida kimia untuk mengendalikan hama pada tanaman cabai itu.

“Jika dilakukan terus-menerus imbasnya menimbulkan resisten pathogen pada tanaman cabai. Juga berbahaya bagi konsumen,” paparnya.

Melalui penelitiannya, Arifa pun membuat inovasi produk gel fungisida nabati dengan ekstrak akar putri malu bernama Chilica. Produk ini diklaim mampu mengendalikan penyakit antraknosa pada cabai di daerah lahan pasir pantai.

Dia menjelaskan, pemanfaatan ekstrak akar putri malu tersebut lantaran tanaman itu mudah dan banyak didapatkan di Indonesia.

“Nah, akar putri malu mengandung mimosin. Sejenis golongan flavonoid yang berpotensi sebagai antijamur. Kandungan ini merusak dinding sel dari Colletotrichum Spesies penyebab antraknosa. Produk Chilica menggunakan konsentrasi 90 persen akar putri malu. Ini mampu menghambat penyakit antraknosa sebesar 28 persen, kejadian penyakit 0 persen, diameter bercak 0 milimeter, dengan masa inkubasi selama 12 hari,” jelas kelahiran Boyolali, 15 April 1998 ini.

Arifa menambahkan, keunggulan produknya adalah berbentuk gel. Berdasarkan penelitian, bentuk gel memiliki daya absorbsi tinggi saat diaplikasikan di media tanaman. Sehingga saat produk disemprotkan dapat cepat menyerap. Selain itu juga ramah lingkungan karena terbuat dari bahan alami.

Menurut dia, produk tersebut juga cocok digunakan di lahan pasir pantai.

“Potensi lahan pasir pantai sangat besar. Hampir 99.000 kilometer luasnya. Apabila dimanfaatkan maksimal pasti konsumsi cabai dapat tercukupi,” tandasnya.

Arifa mengaku proses pembuatan inovasi itu relatif singkat karena dimulainya sekitar Maret lalu dan belum dilakukan uji coba. Rencananya, produk ini diimplementasikan langsung di Kulon Progo. Kawasan dengan banyak lahan pasir dan kasus hama antraknosa.

“Melalui produk ini kami ingin mencapai Indonesia pertanian berkelanjutan. Kami terus berupaya mendukung agar Indonesia berinovasi berbasis ramah lingkungan untuk peningkatan produktivitas cabai,” tandasnya.

Arifa mengungkapkan, inovasi yang ia sesuai tema dalam kompetisi Mawapres 2018 yaitu Indonesia Wujudkan Sustainable Development Goals (SDG’s) 2030.

“Salah satu poinnya berbunyi Indonesia mencapai pertanian berkelanjutan. Saat ini Indonesia masih menggunakan fungisida kimia yang berbahaya. Ini tidak berkelanjutan. Sehingga harus beralih dari kimia ke nabati. Salah satu upayanya dengan produk ini,” pungkasnya.