Masyarakat Klaten Lebih Berdaya Berkat LKMS

Kegiatan Lembaga Keuangan Mikro Syariah (LKMS) Bank Wakaf Alpansa di Pondok Pesantren Al Muttaqien Pancasila Sakti (Alpansa), Dukuh Sumberejo Wangi, Desa Troso, Kecamatan Karanganom, Klaten. Foto diambil Maret lalu. (Istimewa/Dokumentasi Ponpes Al Muttaqien Pancasila Sakti)
23 April 2018 01:00 WIB Cahyadi Kurniawan Klaten Share :

Solopos.com, KLATEN--Senyum semringah Susmaniar, 47, tak pernah sirna saat Solopos.com menemuinya, Rabu (11/4/2018) pagi. Ia merasa senang usaha berjualan gorengan di kantin Pondok Pesantren Al Muttaqien Pancasila (Alpansa) Sakti lebih maju. Kompleks Ponpes Alpansa berada di Dukuh Sumberejo Wangi, Desa Troso, Karanganom, Klaten.

Semua itu bermula saat ia menerima kabar Ponpes Alpansa melalui Lembaga Keuangan Mikro Syariah (LMKS) Bank Wakaf Alpansa memberikan layanan kredit mikro untuk usahanya. Kredit tanpa agunan itu senilai Rp1 juta untuk peminjaman kali pertama.

Kredit diangsur sebesar Rp23.000 per pekan selama 50 pekan. Kredit tanpa bunga dan tanpa potongan itu hanya dikenai biaya administrasi sebesar tiga persen per tahun. Kelebihan angsuran yang dibayarkannya dimasukkan ke dalam tabungan.

"Waktu saya menerima itu utuh Rp1 juta. Enggak ada potongan," ujar dia.

Uang itu ia belanjakan untuk membeli kompor gas, tabung gas, wajan penggorengan, dan lainnya. Alhasil, ia kini bisa menggoreng tempe mendoan, bakwan, hingga kepelan langsung di kantin. Biasanya, ia goreng terlebih dahulu di rumah, lalu dibawa ke kantin. Tiba di kantin, gorengan menjadi dingin.

"Padahal, gorengan enak dinikmati selagi panas. Sekarang saya bisa menyajikan gorengan masih panas saat siswa istirahat," tutur warga Dukuh Sumberejo Wangi, RT 008/RW 007, Desa Troso, Kecamatan Karanganom tersebut.

Tak hanya itu, gorengan panas yang disajikannya itu turut meningkatkan omzet. Kali ini, ia bisa mengantongi pendapatan Rp100.000 - Rp150.000 per hari dari hasil mengolah hampir lima kilogram terigu. Sebelumnya, ia hanya bikin sekitar tiga kilogram terigu dengan pendapatan maksimal Rp100.000 per hari.

"Saya juga bisa terhindar dari bank plecit atau rentenir. Saya enggak pakai sertifikat atau BPKB sebagai jaminan. Saya sangat sangat bersyukur bisa dibantu," ujar dia.

Kawan berjualan Susmaniar, Sinem, 52, mengungkapkan perubahan serupa. Bantuan modal dari LKMS Bank Wakaf Alpansa turut meningkatkan usaha minuman dan siomay miliknya. Kini, Sinem bisa mendapatkan omzet per hari Rp100.000 - Rp150.000. Sebelumnya, ia hanya bisa mengantongi Rp60.000 - Rp70.000 per hari.

"Kula inggih bingah angsal pinjaman. Cicilane inggih gampil [Saya senang dapat pinjaman. cicilannya juga mudah]," ujar perempuan tetangga Susmaniar itu.

Ketua Yayasan Alpansa, A. Ch. Saifudin Zuhri A., mengatakan pembentukan LKMS BW Alpansa bermula saat kunjungan Ketua Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso ke Ponpes Alpansa, 5 Agustus 2017. Kunjungan OJK ini dilanjutkan dengan undangan menemui Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Istana Negara. Jokowi berpesan agar masyarakat sekitar pesantren dengan mudah mengakses permodalan berskala mikro, tanpa agunan, tanpa bunga, dan hanya dikenai biaya administrasi tiga persen per tahun.

"Pesantren dirasa tepat menjalankan program ini karena sangat dekat dan langsung berhubungan dengan masyarakat kecil di pedesaan," kata pria yang akrab disapa Gus Zuhri saat ditemui Solopos.com di rumahnya di kompleks pondok setempat.

Untuk mengakses modal LKMS, nasabah cukup membawa salinan Kartu Keluarga dan KTP. Mereka akan dibagi ke dalam kelompok berisi lima orang. Kelompok itu akan mendapatkan pelatihan keterampilan terlebih dahulu sebelum menerima dana. Satu periode pelatihan dilakukan minimal empat kelompok atau 20 nasabah. Hingga kini, LKMS BW Alpansa berhasil menyalurkan Rp180 juta untuk 180 nasabah yang tersebar di tiga kecamatan.

"Semuanya alhamdulillah sudah menangsur di atas sepuluh kali. Artinya, usaha mereka bisa dikatakan lancar," terang dia.

Zuhri berharap keberadaan LKMS BW Alpansa bisa berperan serta meningkatkan taraf hidup masyarakat di sekitar ponpes dan di Klaten pada umumnya. Hal itu mendorong terwujudnya NKRI Pancasila Aman Makmur dan Damai (NKRI PAMD).

"Kalau aman dan makmur, insyaallah gampang damai. Alhamdulillah, pesantren dipercaya. Kalau kesejahteraaan dan ekonomi di pesantren meningkat, insyaallah fastabikul khairat lebih mudah," harap dia.