Kisah Inpiratif: Denok Mundur dari Astra untuk Urusi Sampah Solo

Denok menunjukkan pot bunga berkarakter tokoh kartun berbahas barang bekas beberapa waktu lalu. (Solopos/Sunaryo Haryo Bayu)
25 April 2018 11:30 WIB Ivan Andimuhtarom Solo Share :

Solopos.com, SOLO--Sampah menjadi masalah yang seakan tiada habisnya di Indonesia. Fenomena itu juga terjadi di Kota Solo. Sesuai data Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Solo, sampah yang masuk ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Putri Cempo dari waktu ke waktu terus bertambah.

Pada 2015, terdapat 275 ton sampah per hari yang masuk TPA tersebut. Kemudian, rata-rata sampah masuk per hari pada 2016 meningkat menjadi 298 ton. Volume itu kembali naik pada 2017 dengan rata-rata 310 ton sampah per hari.

Penumpukan sampah di TPA yang berada di Kelurahan Mojosongo, Solo tersebut bukannya tanpa memberi masalah. Sampah yang ditumpuk tidak serta-merta terurai atau musnah tetapi menggunung. Jika tak dilakukan penanganan secara serius, bukan mustahil Solo akan menjadi hutan sampah.

Masalah itu disadari betul oleh Denok Marty Astuti, 40. Perempuan yang tinggal di Jl. Dahlia No. 28, RT 002/RW 008, Kampung Yosoroto, Kelurahan Purwosari, Kecamatan Laweyan, Solo, tersebut mengabdikan dirinya mengolah dan mengedukasi masyarakat untuk lebih peduli dan secara tepat memperlakukan sampah.

Perempuan yang akrab disapa Denok itu mengaku prihatin dengan pola pengelolaan sampah di masyarakat. Keprihatinan itu bukan hanya ia pendam. Langkah nyata dilakukannya dengan mengundurkan diri dari pekerjaannya di PT. Astra Jakarta akhir 2014 kemudian pulang ke kampung halamannya untuk bergelut dengan sampah.

Anak bungsu dari tujuh bersaudara itu berprinsip, selama tak ada yang menggerakkan masyarakat mengelola sampah, masalah sampah akan semakin kompleks. Selain itu, kalau tak dimulai sejak dini, masalah akan semakin runyam.

“Mulanya saya prihatin dengan keadaan sampah di Jakarta. Ternyata, masalah sampah di Solo tak kalah parah. Orang-orang Jakarta sudah tahu efek kalau mereka membuang sampah sembarangan, misalnya jadi banjir. Ini masalah mindset orang Solo. Kebanyakan masih berpikir sudah ada petugas sampah di masing-masing kelurahan sehinga mereka cukup membayar retribusi lalu masalah sampah di rumah mereka beres,” tuturnya saat berbincang dengan Solopos.com pekan lalu.

Untuk mengubah mindset itu, Denok bergerilya ke semua kalangan seperti sekolah Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), TK, SD, SMP, SMA, orang yang sudah bekerja tanpa memandang kelompok, suku, agama dan golongan. Bahkan, kampanye perdana ia lakukan di Lapas Solo kepada para narapidana. Hingga kini ia masih terus mengajari para narapidana membuat pupuk kompos, kerajinan tangan dari barang bekas, dan hidroponik. Ia juga membentuk Gerakan Orang Muda Peduli Sampah dan Lingkungan Hidup (Gropesh) Soloraya untuk meningkatkan daya juang dan daya sebar “virus” pengelolaan sampah.

“Masyarakat harus memahami, sampahmu itu urusanmu meskipn pemerintah punya tanggung jawab. Jadi, saya terus edukasi ke masyarakat, tetapi di sisi lain saya bersuara lantang ke Pemerintah,” ulasnya.

Dana untuk melakukan semua sosialisasi dan edukasi adalah dana mandiri. Untuk menopang kegiatan, Denok bukan tipe orang yang suka membuat proposal kegiatan lalu diajukan untuk mencairkan dana. Ia memilih berdikari dengan menjual kerajinan tangan dari barang bekas. Ia juga berhasil membuat paket wisata edukasi pengolahan sampah di kampungnya. Tak tanggung-tanggung, para tamu jauh-jauh datang dari Semarang, Sukoharjo, Bojonegoro hingga Kudus.

“Biasanya yang datang kasih kas untuk bank sampah di kampung saya. Itu untuk kegiatan bank sampah. Kami juga membuat mural di dinding warga. Selain itu, kami terbuka pada 5perusahaan yang mau menyalurkan CSR,” kata dia.

Di kampung itu, dengan dana CSR tiap dasa wisma mendapat tong sampah komunal ukuran 200 liter. Tong itu dimanfaatkan untuk menyimpan sampah organik. Setelah disemprot dengan cairan EM4 alias bakteri pengurai, warga kini bisa mendapat kompos cair dan kompos padat.

Sementara bank sampah yang dinamai Kitiran Emas bisa mengumpulkan sampah hingga 600 kg sekali angkut. Sampah-sampah itu disetorkan warga dalam kondisi terpilah. Dengan anggota mencapai 60-an keluargan, kini sudah terkumpul kas senilai Rp5 juta sejak berjalan tiga bulan lalu. Selain itu, penyetor sampah di bank sampah juga bisa membayar air, listrik dan BPJS karena bank sampah Kitiran Emas sudah bekerja sama dengan BRI.

Berkat kinerja dan kiprahnya, Denok diusulkan oleh Pemkot Solo meraih penghargaan Kalpataru. Meski demikian, capaian yang ia dapatkan bukan tanpa kendala. Denok mengaku mulanya sempat menjadi bahan pergunjingan warga karena mengurusi sampah. Tetapi kini warga ikut merasakan hasil dari jerih payah Denok selama ini.

“Untuk pengelolaan sampah, orang Solo butuh keteladanan dan contoh. Mereka emoh melakukan kalau belum ada contoh yang dianggap berhasil. Contoh sebenarnya tidak harus pemerintah. Tapi karena orang selalu melihat struktur, maka pemerintah juga perlu mencontohkan pengelolaan sampah yang baik,” kata dia.

Lurah Purwosari, Aris Nugroho, mengatakan turut bangga ada warganya yang memiliki kiprah luar biasa dalam hal persampahan. Ia berharap model pengelolaan sampah di wilayah rumah Denok bisa ditiru oleh kampung yang lain.