BKSDA Jateng Sita 2 Buaya dari Warga Sukoharjo

Petugas BKSDA Jateng membawa buaya muara milik Kuncoro di Dusun Jagang, Desa Gadingan, Kecamatan Mojolaban, Sukoharjo, Selasa (24/4 - 2018). (Solopos/Bony Eko Wicaksono)
25 April 2018 01:35 WIB R Bony Eko Wicaksono Sukoharjo Share :

Solopos.com, SUKOHARJO -- Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Tengah (Jateng) menerima dua biaya peliharaan  warga di Desa Gadingan, Kecamatan Mojolaban, dan Desa Kagokan, Kecamatan Gatak, Sukoharjo. Dua buaya jens muara itu kemudian dititipkan di penangkaran Desa Dawuhan Kulon, Kabupaten Banyumas.

Tim dari BKSDA Jateng bersama aparat kepolisian mendatangi lokasi kandang buaya di pinggir Sungai Bengawan Solo di Dusun Jagang, Desa Gadingan, Kecamatan Mojolaban, Selasa (24/4/2018). Buaya itu dipelihara di kandang dari seng berukuran 5 meter x 4 meter. Buaya itu milik Kuncoro, warga Kelurahan Kampung Sewu, Kecamatan Jebres, Kota Solo.

Karena Kuncoro sedang sakit, buaya sepanjang 2,2 meter itu dipelihara teman karibnya, Tristanto, warga Desa Gadingan, Mojolaban. Dari Mojolaban, tim dari BKSDA Jateng bergerak mendatangi kandang buaya di Desa Kagokan, Kecamatan Gatak.

Kedua buaya  itu dibawa dan dititipkan ke penangkaran di Desa Dawuhan Kulon, Kabupaten Banyumas. “Pemilik buaya menyerahkan hewan peliharaan mereka ke BKSDA Jateng. Kedua buaya itu langsung dibawa ke lokasi penangkaran di Kabupaten Banyumas,” kata seorang petugas pengendali ekosistem hutan BKSDA Jateng, Agung Budi Riyanto, Selasa.

Kedua buaya itu dipelihara warga selama bertahun-tahun. Warga itu tak mengantongi izin memelihara buaya dari BKSDA Jateng. Buaya muara merupakan salah satu satwa liar yang dilindungi sesuai UU No. 5/1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem.

Menurut Agung, praktik jual beli satwa liar yang dilindungi masih terjadi di sejumlah lokasi Soloraya. Praktik jual beli satwa liar seperti burung elang dan buaya dilakukan secara online.

“Kami baru saja menyita 19 ekor satwa liar berbagai jenis di Kabupaten Sragen. Ada sindikat jual beli satwa liar yang masih berkeliaran di wilayah Soloraya,” ujar dia.

Lebih jauh, Agung menambahkan bakal memperketat pengawasan satwa liar di wilayah Jateng. Hal ini untuk melindungi satwa liar yang kerap diburu masyarakat. Masyarakat yang ingin memelihara satwa liar yang dilindungi wajib mengajukan izin kepada instansi terkait.

Sementara itu, seorang pemelihara buaya  di Desa Gadingan, Mojolaban, Tristanto, mengatakan biaya operasional untuk memelihara buaya cukup tinggi. Tristanto harus menyiapkan tiga kilogram ikan sapu-sapu atau ayam potong untuk makan buaya setiap hari.

Dia tak mempermasalahkan buaya peliharaannya disita BKSDA Jateng dan dibawa ke lokasi penangkaran. “Buaya itu berumur sekitar lima tahun. Saya justru senang buaya itu dibawa BKSDA Jateng. Saya selalu waswas buaya itu keluar dari kandang saat turun hujan lebat atau banjir,” kata dia.