Tidak Lagi Oranye dan Lurik, Ini Seragam Baru Jukir Solo

Wali Kota Solo, F.X. Hadi Rudyatmo memperkenalkan seragam baru jukir di Swiss-Belinn Saipetojo Solo, Rabu (25/4/2018) pagi. (Istimewa - Dishub Solo)
26 April 2018 04:35 WIB Irawan Sapto Adhi Solo Share :

Solopos.com, SOLO -- Pemerintah Kota (Pemkot) Solo mengganti seragam bagi para juru parkir (jukir) di seluruh Kota Bengawan. Seragam baru tersebut kali pertama diperkenalkan kepada para jukir oleh Wali Kota Solo F.X. Hadi Rudyatmo saat acara Diklat Pemberdayaan Masyarakat di Balai Pendidikan dan Pelatihan Transportasi Darat (BPPDT) Kementerian Perhubungan (Kemenhub) di Swiss-Belinn Saipetojo Solo, Rabu (25/4/2018) pagi.

Wali Kota kemudian secara simbolis menyerahkan seragam baru tersebut kepada jukir dengan cara memakaikannya kepada tiga perwakilan jukir yang hadir mengikuti diklat. Rudy menyampaikan seragam jukir diganti demi menjaga kualitas pelayanan parkir kepada masyarakat.

Dia ingin mengantisipasi adanya jukir ilegal yang bersembunyi di balik seragam jukir resmi. Rudy menyebut seragam jukir baru ini cenderung sukar untuk diduplikat atau didapat sembarang orang. Dengan demikian, hanya jukir resmi yang bisa memiliki seragam model baru dengan cara mengaksesnya ke Dinas Perhubungan (Dishub) Solo.

Rudy menyampaikan seragam jukir lawas yang dibuat dengan bahan kain batik bermotif lurik berwarna cokelat tua terlalu mudah ditiru. Masyarakat bahkan dengan gampang memperolehnya dengan cara membeli di penjual pakaian batik.

Kondisi itu memicu tumbuhnya jukir ilegal. Masyarakat yang notabene belum pernah mendapat pembinaan parkir akhirnya bisa memberikan pelayanan hanya dengan modal membeli baju lurik.

Dia tak mau hal itu terjadi lagi di Kota Solo karena rawan menimbulkan keluhan dari masyarakat. Rudy menegaskan bahwa jukir yang memberi pelayanan parkir mesti jukir yang telah terdaftar di Dishub.

“Kalau mau membuat atau mendapatkan seragam baru jukir sekarang harus izin lebih dulu ke Dishub Solo,” kata Wali Kota saat ditemui Solopos.com setelah menghadiri Upaya Pembukaan Diklat Pemberdayan Masyarakat , Rabu.

Rudy mengatakan desain seragam jukir baru yang dibuat dengan bahan kain kombinasi warna biru muda terang dan biru donker tersebut merupakan bikinan Pemkot Solo. Dia menyebut tidak ada filosofi khusus yang digunakan dalam mempertimbangkan pemilihan warna dan desain seragam jukir baru.

Rudy menegaskan kembali yang terpenting dalam pembuatan seragam jukir baru ini adalah tidak menggunakan desain baju yang marak ditemukan atau dijual di pasaran. Seragam baru kini dilengkapi juga dengan badge nama jukir hingga zona tugas parkir.

Kepala Dishub Solo, Hari Prihatno, mengatakan pemasangan badge nama jukir di seragam baru bertujuan agar masyarakat bisa mengenal atau mengetahui identitas jukir yang melayani. Dia mempersilakan para pengguna jasa parkir yang tak puas dengan pelayanan jukir bisa saja melaporkan nama jukir tersebut kepada Dishub.

Laporan itu kemudian akan ditindaklanjuti. Hari menyampaikan desain seragam jukir baru disesuaikan juga dengan masukan dari masyarakat dan para jukir sendiri mengingat selama ini seragam lurik dianggap terlalu gelap.

"Dipilih warna biru agar tampak lebih cerah tapi tidak terlalu mencolok. Kemudian kami pasang juga fosfor di seragam agar keberadaan jukir bisa dilihat saat malah hari. Kebetulan Pak wali sendiri yang pilih desainnya," jelas Hari.

Sementara itu, Kepala BPPDT Kemenhub, Firga Ariani, menatakan diklat itu menyasar tiga kelompok masyarakat sekaligus, yakni para jukir, pegawai honorer Dishub se-Soloraya, dan para pengatur lalu lintas. Tujuan diklat untuk meningkatkan kemampuan SDM dalam pelayanan di bidang lalu lintas dan angkutan jalan.