Seminar Ekonomi Digital Solopos: Komunitas Remaja Simo Boyolali Rintis Marketplace

Tampilan Simosendiko.org
26 April 2018 10:25 WIB Hijriyah Al Wakhidah Solo Share :

Solopos.com, SOLO -- Kata digital seolah menjadi sesuatu yang tak mungkin bisa dijangkau oleh pemikiran orang di desa-desa seperti di wilayah Kecamatan Simo, Kabupaten Boyolali. Setiap berbicara tentang dunia digital akan diidentikan dengan internet dan perangkat komputer.

Dengan latar belakang sosial ekonomi dan pendidikan, masyarakat di wilayah ini seperti sulit untuk ditarik ikut dalam arus ekonomi digital. Komunitas remaja di Kecamatan Simo mencoba mengawali mimpi untuk membangun desa digital dengan membuat simosendiko.org berikut subdomainnya pasar.simosendiko.org.

Di website ini warga Simo yang memiliki usaha dalam bentuk apapun boleh bergabung, promosi, dan berjualan. Website ini masih terbilang sederhana karena masih sebatas media promosi. Namun, salah satu penggagas simosendiko.org, Danang Wahyu Arifbudi, sangat berkeinginan pasar.simosendiko.org bisa menjadi marketplace bagi pemilik usaha di wilayah Simo.

“Sudah ada beberapa pemilik usaha yang bergabung, ada jualan lele, kambing, tempat wisata, kerajinan bambu, dan saya sendiri jualan desain grafis. Namun, kami ingin sekali dari pasar.simosendiko.org ini juga memberikan tambahan penghasilan bagi pelaku usaha,” kata Danang, salah satu peserta Seminar Ekonomi Digital dan Masa Depan Ekonomi Kita yang diselenggarakan Solopos bersama STMIK Nusantara, di STMIK Nusantara, Rabu (25/4/2018).

Seminar Ekonomi Digital menghadirkan lima narasumber yakni Direktur Pemberitaan Bisnis Indonesia Arief Budisusilo, Kepala Tim Sistem Pembayaran Pengelolaan Uang Rupiah dan Layanan Administrasi (SPPURLA) Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Solo, Bakti Artanta, EVP Telkom Region Jateng-DIY Joko Raharjo, CEO Triponyu.com A.Adhitya Pramono, dan Pengamat Ekonomi UNS Lukman Hakim.

Seminar yang didukung Telkom Indonesia, PT Yamaha Indonesia Motor Manufacturing (YIMM), dan Bank Indonesia tersebut diikuti 200-an peserta.

Kepada para narasumber, Danang berharap bisa mendapatkan ilmu bagaimana dia bisa mendigitalisasikan bisnis dan potensi desa-desa yang ada di Simo, di tengah kendala sumber daya manusia dan lingkungan yang ada saat ini.

Sementara itu, CEO Triponyu.com, A.Adhitya Pramono, tak memungkiri bahwa lingkungan dan masalah sumber daya manusia masih menjadi tantangan berkembangnya startup saat ini, terutama peluang startup yang ada di daerah-daerah. “Jadi memang di dunia start up ini masih minim sekali sumber daya manusia yang mampu mengedukasi dan hub untuk bicara dengan investor,” kata Adhit, sapaannya.

Namun, secara sederhana saja, Adhit menyarankan kepada simosendiko.com untuk memanfaatkan media sosial sebagai jaringan distribusi untuk semakin mengenalkan situs tersebut kepada masyarakat.

Dalam seminar kemarin, Triponyu sengaja dihadirkan mengingat startup asal Solo ini baru saja mendapat penghargaan dari UNWTO di bidang pariwisata. Start up lokal ini mampu menangkap peluang pasar dari perubahan pola konsumsi traveller milenial.

“Kalau dulu orang butuh sesuatu, maka dia akan datang ke toko-toko. Tahun lalu tren mulai berubah, butuh sesuatu cari dulu di google, baru datang ke toko. Sekarang tidak, butuh sesuatu langsung masuk ke toko-toko online,” kata Adhit.

Perubahan perilaku konsumen ini, menurut Arief Budisusilo, tak lain disebabkan karena kemajuan teknologi, internet, dan smartphone. Inilah yang membuat ekonomi digital memiliki banyak peluang di masa mendatang.

Sedikitnya 50% populasi di Indonesia adalah pengguna internet dan 130 juta di antaranya adalah pengguna media sosial. Teknologi juga membuat perusahaan telekomunikasi berlomba-lomba menyediakan jasa layanan terbaik sehingga tak ada lagi istilah internet lemot. “Inilah yang mendorong transaksi online dan digital makin berkembang,” kata Arief. 

Uang yang beredar pada layanan-layanan e-commerce pun makin tinggi didominasi sektor fesyen dan kecantikan serta travelling. Sayangnya, banyaknya uang yang beredar di e-commerce ini belum signifikan berkontribusi terhadap ekonomi nasional karena 93% produk di dalamnya adalah impor. Produk lokal yang merupakan produk UMKM hanya 7%. Dengan demikian, Arief berharap arah kebijakan era ekonomi digital selanjutnya harus bisa memberikan benefit bagi ekonomi Indonesia.

Kepala Tim Sistem Pembayaran Pengelolaan Uang Rupiah dan Layanan Administrasi (SPPURLA) Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Solo, Bakti Artanta, menjelaskan otoritas di bidang keuangan ini pun terus mengikuti era digital dengan mengembangkan sistem pembayaran berbasis digital sehingga sekarang muncul banyak model pembayaran seperti dengan barcode, QR Code, RFID, NFC, perangkat internet atau mobile.

Sedangkan menurut Executive Vice President (EVP) Telkom Region Jateng-DIY, Joko Raharjo, Indonesia punya visi untuk menuju negara ekonomi digital terbesar Asean tahun 2020. Saat ini, Indonesia sudah mengawali dengan maraknya e-commerce yang pada tahun 2017 angka pertumbuhannya mencapai 155 dan transaksi secara nasional menembus nilai Rp1.444 triliun.

Pengamat Ekonomi UNS Lukman Hakim menilai era digital berpeluang mendorong ekonomi tumbuh lebih agresif lagi asalkan pemerintah tidak hanya fokus pada proyek-proyek infrastruktur yang cenderung padat modal tapi juga harus mendorong industri padat karya agar menaikkan daya beli masyarakat.