Mobil Patroli Polres Boyolali Dimodif ala Buldoser, Begini Jadinya

Personel Polres Boyolali menyetel alat dorong pada mobil Ford Ranger di Desa Paras, Kecamatan Cepogo, Kamis (26/4 - 2018). (Solopos/Akhmad Ludiyanto)
27 April 2018 04:35 WIB Akhmad Ludiyanto Boyolali Share :

Solopos.com, BOYOLALI -- Salah satu jenis bencana alam yang kerap terjadi di wilayah Boyolali adalah tanah longsor. Di wilayah lereng Gunung Merapi dan Gunung Merbabu, bencana ini hampir selalu terjadi setiap tahun pada musim penghujan dengan skala berbeda.

Salah satu lokasi yang menjadi langganan longsor adalah jalur Solo-Selo-Borobudur (SSB). Di Boyolali, jalur ini melintas mulai wilayah Kecamatan Boyolali Kota, Cepogo, hingga Selo. Saat terjadi longsor, material tanah dari tebing di sisi jalan tersebut menutupi sebagian atau seluruh badan jalan dan membuat lalu lintas terganggu, bahkan lumpuh.

Respons atas peristiwa ini pun cukup cepat. Personel dari Pemkab, TNI, Polri, dan warga masyarakat bahu-membahu membersihkan material itu. Tapi sayangnya membersihkan material tanah yang menggunung ini membutuhkan waktu lama karena petugas hanya bisa menggunakan peralatan sederhana seperti cangkul dan sekop.

Sementara penggunaan alat berat seperti backhoe atau buldoser sangat jarang dilakukan karena butuh waktu lama untuk mendatangkannya. Berlatar kondisi ini, Polres Boyolali  memodifikasi salah satu mobil patrolinya agar berfungsi membersihkan material tanah longsor.

Satu unit mobil Ford Ranger double cabin dipasangi sekop ala buldoser pada bagian depan. Dilihat dari bentuknya, kendaraan yang sudah dimodif ini cocok untuk mendorong material tanah di permukaan jalan beraspal.

Kasat Sabhara Polres Boyolali AKP Edi Sukamto mewakili Kapolres AKBP Aries Andhi mengatakan ide memodifikasi mobil ini muncul baru-baru ini. “Kalau ada longsor, personel kami terjunkan untuk membantu tim dari Pemkab membersihkan lokasi. Tapi kalau hanya pakai cangkul dan sekop jadi lama. Makanya kami cari ide dengan memanfaatkan mobil yang sudah ada. Kami tambahkan semacam sekop di bagian depan untuk mendorong tanah,” ujarnya saat ditemui di sela-sela acara simulasi penanganan kebencanaan  di Desa Paras, Kecamatan Cepogo, Kamis (26/4/2018).

“Sekop buldoser” yang memiliki dua lengan ini dinilai mampu mendorong beberapa kubik tanah dalam sekali dorong sehingga mempercepat pekerjaan. Hanya, pengaturan tinggi-rendah sekop ini dilakukan secara manual, tidak seperti buldoser yang bisa diatur secara otomatis dengan tuas kontrol.

“Kalau pakai elektrik harganya mahal dan yang pasti harus memodifikasi atau menambahkan mesin baru,” ujarnya.

Dia berharap dengan dukungan peralatan baru ini penanganan pascabencana longsor di Boyolali akan lebih cepat.