Tawon Renggut Nyawa 3 Warga Klaten, Ratusan Sarang Dimusnahkan

Petugas Damkar Klaten memusnahkan sarang tawon di rumah salah satu warga. (Solopos/Dok)
27 April 2018 21:35 WIB Taufik Sidik Prakoso Klaten Share :

Solopos.com, KLATEN -- Tiga orang menjadi korban keganasan tawon di Klaten selama dua tahun terakhir. Mereka tersengat hingga meningal dunia.

Sementara itu, Unit Pemadam Kebakaran (Damkar) Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Klaten sejauh ini menerima 390 laporan permintaan pemusnahan sarang tawon. Anggota unit Damkar Klaten, Farizal Efendi, mengatakan selama 2017 ada 300 permintaan penanganan sarang tawon.

Sementara hingga Januari 2018 ada 90 permintaan penanganan sarang tawon yang masuk ke Damkar Klaten. “Pada 2017 itu sudah tertangani semua sementara yang 2018 sudah separuh tertangani,” kata Fendi saat berbincang dengan Solopos.com, Jumat (27/4/2018).

Dari jumlah kejadian itu, tiga orang yakni dua orang anak-anak  dan satu orang dewasa meninggal dunia lantaran tersengat tawon dari sarang yang sudah terlampau besar. Mereka meninggal dunia lantaran banyaknya sengatan tawon.

“Pada 2017 itu ada dua orang meninggal dunia dan 2018 ada satu orang. Biasanya tersengat lebih dari delapan sengatan dan penanganan awal tidak langsung dibawa ke rumah sakit,” urai Fendi yang juga koordinator tim operasi tangkap tawon (OTT) Unit Damkar.

Penanganan sarang tawon masih terkendala minimnya personel serta peralatan. Selama ini penanganan dilakukan dengan memanfaatkan peralatan seperti blower untuk mengisap tawon dari sarangnya. Proses penanganan dilakukan saat malam hingga dini hari. Dalam sehari, Damkar menangani tiga sarang tawon dari laporan yang diterima.

Unit Damkar sudah berkoordinasi dengan petugas Linmas desa agar mereka ikut terlibat penanganan awal. Soal munculnya kelompok masyarakat yang menawarkan jasa penanganan sarang tawon, Fendi menjelaskan hal itu sangat membantu namun ia mengingatkan soal jaminan keselamatan saat penanganan.

“Linmas desa dan pemangku desa sudah kami koordinasikan agar bisa menangani sejak awal ketika diketahui ada sarang tawon yang masih kecil. Untuk kelompok-kelompok masyarakat yang menangani sarang tawon sebenarnya sangat membantu tetapi kami mengimbau agar lebih memperhatikan faktor keamanan jangan sampai si penolong malah jadi yang ditolong,” katanya.

Terkait bermunculannya sarang tawon berukuran besar dua tahun belakangan ini, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) berencana melakukan penelitian. Dari pengamatan awal, jenis tawon yang bermunculan dengan sarang raksasa itu memiliki nama latin Vespa affinis.

Ciri khas tawon itu berwarna gelap dan memiliki sabuk berwarna kuning pada bagian perut. Tawon tersebut bersifat predator serta pengendali hama pertanian, salah satunya memangsa ulat.

Peneliti dari Pusat Penelitian Biologi LIPI, Hari Nugroho, mengatakan tim dari LIPI akan mulai intensif meneliti tawon di Klaten pada Agustus 2018. Hari mengatakan penelitian itu salah satunya dengan memasang perangkap tawon untuk mengurangi populasi jika ratu tawon bisa terperangkap.

Selain itu, LIPI juga akan mengidentifikasi siklus hidup tawon tersebut. Hasil penelitian bakal menjadi rekomendasi untuk pengendalian populasi tawon.

“Harapan kami nanti ada rekomendasi pengelolaannya untuk mengontrol populasi. Kalau pemusnahan itu yang ditakutkan justru ada ledakan hama karena tidak ada predator yang memangsa hama-hama tanaman,” katanya.