Jelang Ujian Seleksi Perdes Klaten, Jumlah Orang Kungkum di Umbul Meningkat

Umbul Gedaren di Jatinom, Klaten. (Solopos/Taufiq Sidik Prakoso)
28 April 2018 05:35 WIB Taufik Sidik Prakoso Klaten Share :

Solopos.com, SOLO -- Sejumlah umbul dan tempat permakaman umum di wilayah Klaten belakangan ini ramai dikunjungi orang untuk melakukan ritual. Jumlah kunjungan ke tempat-tempat itu melonjak terutama menjelang ujian seleksi pengisian jabatan perangkat desa, Minggu (29/4/2018).

Hal itu bisa dilihat salah satunya di Umbul Gedaren, Kecamatan Jatinom. Umbul itu masih kerap digunakan untuk ritual berendam saat malam atau biasa disebut kungkum. Kaur Perencanaan dan Pembangunan Desa Gedaren, Sukrisna Setyanta, mengatakan jumlah pengunjung yang kungkum melonjak sejak dibukanya pendaftaran calon perangkat desa pada 1 April lalu.

Jika kunjungan saat malam Jumat Kliwon atau Selasa Kliwon biasanya 25-50 orang, belakangan meningkat menjadi 75-100 orang. Ritual kungkum biasa dilakukan antara pukul 00.00 WIB hingga 03.00 WIB.

“Di luar malam Jumat Kliwon dan Selasa Kliwon pun sekarang ada yang berkunjung rata-rata 25 orang,” kata Sukrisna saat ditemui di sekitar Umbul Gedaren, Jumat.

Sukrisna mengatakan ada beragam alasan orang melakukan ritual kungkum. Namun, beberapa orang mengaku melakukan ritual itu untuk mendapat kelancaran menghadapi ujian seleksi perangkat desa. “Ya sekitar 25 persen memiliki tujuan menjadi perangkat desa. Rata-rata dari luar desa,” katanya.

Sukrisna kerap mengingatkan para pengunjung agar tak salah persepsi dengan kegiatan kungkum di umbul tersebut sebagai tempat meminta mengabulkan keinginan. Ia mengatakan berendam di umbul sebatas menyucikan diri dan penenang agar lebih dekat dengan Sang Pencipta.

“Kalau mau meminta ya tetap kepada Allah, jangan kepada umbul. Ini hanya tempat berendam agar mendapatkan ketenangan,” katanya.

Makam Kiai Melati di Kampung Sekalekan, Kelurahan Kabupaten, Kecamatan Klaten Tengah, sebulan terakhir juga ramai dikunjungi warga dari berbagai daerah. Kiai Melati dipercaya merupakan cikal bakal Klaten.

“Memang ada keyakinan dari sebagian masyarakat. Setiap menjelang pemilihan DPRD, kepala desa, atau kepala daerah makam ini banyak dikunjungi peziarah,” ungkap ketua RW 005 Kampung sekalekan, Edy Setyoko, saat ditemui di rumahnya.

Edy mengatakan para peziarah biasa datang saat malam. Dari beberapa pengunjung, Edy menjelaskan berziarah ke makam itu bermaksud mendapatkan kelancaran mengikuti seleksi perangkat desa. “Biasanya datang berombongan. Kalau usia [pengunjung] itu di bawah 40 tahun,” ungkapnya.

Edy menuturkan kerap mengingatkan para peziarah agar tak salah mengartikan keberadaan makam tersebut. “Kerap kami ingatkan agar datang ke makam untuk mendoakan Eyang Melati dijauhkan dari siksa kubur dan mendapat tempat yang lebih baik. Kalau mau meminta permohonan ya kepada Allah bukan di makam,” kata Takmir Masjid Joglo Sekalekan itu.