Mengenal Sosok 3 Penari 24 Jam di Solo Menari

Tiga penari 24 Jam, Wirastuti Susilaningtyas, 35, (Solo, Tengah), Agatha Irena Praditya, 23, (Yogyakarta,kanan), dan Sri Anjani Safitri, 21, (Bandung, Kiri). (Solopos/Ika Yuniati)
29 April 2018 10:35 WIB Ika Yuniati Solo Share :

Solopos.com, SOLO -- Tiga penari akan beraksi nonstop selama 24 jam dalam acara Solo Menari 24 Jam  yang digelar Institut Seni Indonesia (ISI) Solo untuk memperingati Hari Tari Sedunia 2018 di kompleks kampus tersebut, Minggu (29/4/2018) pagi sampai Senin (30/4/2018) pagi.

Kegiatan itu juga dimeriahkan ribuan peserta umum. Memasuki tahun ke-12, Solo Menari 24 Jam menyuguhkan konsep berbeda. Panitia menggandeng tiga penari perempuan muda dari Solo, Yogyakarta, dan Bandung sebagai ikon utama.

Ketiganya adalah Wirastuti Susilaningtyas, 35, (Solo), Agatha Irena Praditya, 23, (Yogyakarta), dan paling muda, Sri Anjani Safitri, 21, (Bandung). “Masih muda bahkan ada yang masih kuliah semester awal di Bandung. Ini merupakan salah satu cara kami untuk memberikan ruang bagi perempuan dan anak muda [di Solo 24 Jam Menari],” terang Ketua Panitia Solo Menari  24 Jam, Tubagus Mulyadi, beberapa waktu lalu.

Lalu siapakah sosok ketiga penari itu? Wirastuti atau Tutut mengenal dan mempelajari tari sejak usia delapan tahun di sanggar Soeryo Soemirat Puro Mangkunegaran Solo. Alumnus ISI Solo telah berkolaborasi dengan sejumlah seniman lokal maupun internasional. Sebut saja Eko Supriyanto, Fajar Satriadi, Soeprapto Suryodarmo, Chen Shi-Zeng, dan Gondrong Gunarto.

Beberapa karya yang pernah digarap antara lain Hunter and Hunted (Solo, 2005), Rendezvous (Jakarta, 2017), Dawai Sunyi (Solo, 2017), dan The Lady (Jakarta, 2018). Agatha yang sekarang menjadi pengajar beberapa kali mengikuti workshop program tari di dalam dan luar negeri.

Ia juga berpartisipasi sebagai pengisi dan instruktur workshop dalam acara The 7th Asian Youth tahun lalu. Karya tari Agatha di antaranya Badut (2011), Appa (2015), dan Adhidaiva (2017).

Sementara Sri Anjani Safitri atau Anjani masih menjalani pendidikan di Jurusan Tari Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung. Meski masih muda ia aktif menggarap tari sejak 2015. Tutut saat diwawancarai Solopos.com, Selasa, mengatakan salah satu tarian yang akan dibawakan Dawai Sunyi.

Ia juga akan menampilkan pentas kolaborasi Salju bersama komposer Gondrong Gunarto. “Selebihnya saya akan tetap bergerak dengan konten menari sesuai interpretasi saya menyambut 24 jam menari. Di sini saya menempatkan diri saya sebagai bentuk loyalitas kepada dunia seni tari yang telah memberikan pengalaman empiris yang luar biasa dari mulai umur delapan tahun hingga 35 tahun. Itu sih motivasi saya menari 24 jam tahun ini,” terangnya.

Acara Solo Menari  24 Jam dibuka Rektor ISI, Guntur, Minggu pukul 06.00 WIB dengan diiringi tarian massal yang melibatkan 500 orang. Ada 160-an kelompok tari dalam dan luar negeri yang bakal memeriahkan acara. Pentas tahunan tersebut kemudian ditutup pada Senin pagi dengan orasi budaya oleh Garin Nugroho.