Sampah Bengawan Solo Sragen Bertambah 100%

Sampah plastik, kain, dan ranting bambu serta barongan bambu menggunung di bawah Jembatan Gawan, aliran Bengawan Solo, Tanon, Sragen, Minggu (29/4 - 2018). (Solopos/Tri Rahayu)
29 April 2018 21:35 WIB Tri Rahayu Sragen Share :

Solopos.com, SRAGEN -- Sampah plastik, kain, ranting bambu, dan sampah cair (limbah) menumpuk di Bengawan Solo dengan berat yang diperkirakan mencapai puluhan ton. Volume sampah tersebut diketahui saat tim gabungan search and rescue (SAR) di bawah koordinasi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sragen  memetakan sekaligus mitigasi bencana di Bengawan Solo, Minggu (29/4/2018).

“Sampah-sampah tersebut meningkat 100% bila dibandingkan pemetaan SAR Himalawu Sragen di sungai yang sama pada 2009 dan 2010,” ujar Ketua Umum SAR Himalawu Sragen, Tri Harsono Brindil, saat berbincang dengan Solopos.com di bawah Jembatan Gawan, Tanon, Sragen yang melintang di Bengawan Solo.

Sambil menikmati jajanan, Brindil menjelaskan susur Sungai Bengawan Solo kali ini sebenarnya menjadi rangkaian Hari Ulang Tahun (HUT) ke-40 SAR Himalawu Sragen yang kebetulan dibarengkan dengan Hari Kesiapsiagaan Bencana Nasional dari BPBD. Susur sungai untuk pemetaan dan mitigasi bencana ini dilakukan kali pertama pada 2009.

Saat itu SAR Himalawu bekerja sama dengan Pemkab Wonogiri menyusuri Bengawan Solo mulai dari Jurug, Solo, sampai selat Madura selama empat hari. “Susur sungai kedua dengan agenda pemetaan potensi bencana kali kedua dilaksanakan pada 2010 mulai dari bawah Jembatan Gawan sampai perbatasan Jawa Tengah-Jawa Timur, yakni wilayah perbatasan Sragen-Ngawi. Penumpukan sampah pada dua kegiatan itu tidak separah sampah yang ada pada susur sungai kali ketiga ini. Sampahnya luar biasa,” ujarnya.

Brindil melihat kesadaran masyarakat sekitar sungai untuk menjaga kebersihan masih kurang. Di sisi lain, Brindil memetakan potensi bencana juga meningkat. Dia mencatat potensi longsor pada tebing sungai yang mengancam rumah warga meningkat 20%.

Sekretaris SAR Himalawu Sragen Agus Muji Widodo mengatakan peningkatan potensi longsor itu meningkat 20% bila dibandingkan pada susur sungai yang dilakukan SAR Himalawu pada 2009 dan 2010. "Meningkatnya potensi longsor disebabkan pendangkalan sungai disertai debit air Bengawan Solo yang bertambah. Selain dua faktor itu, jumlah penduduk yang meningkat berdampak pada bertambahnya rumah atau tempat bermukim warga di wilayah bantaran Bengawan Solo,” tuturnya.

Agus menyampaikan dua hal tersebut menjadi rekomendasi SAR Himalawu Sragen  agar menjadi perhatian masyarakat, terutama di bantaran Bengawan Solo di wilayah Sragen. Hasil pemetaan dan mitigasi ini menjadi bahan sosialisasi kepada masyarakat agar bisa menjaga lingkungan sungai.

Selain itu, hasil pemetaan dan mitigasi itu, ujarnya, juga bisa mengetahui lokasi-lokasi pendaratan perahu karet dan lokasi-lokasi kedung sebagai pertimbangan ketika terjadi penyelamatan kecelakaan air dan bencana alam.