Misteri Arca Dwarapala Sriwedari Solo, 3 Jin Penunggu Tak Mau Dipindah

Arca Dwarapala Sriwedari Solo, 2018 (kiri) dan kondisi pada 1976. (Solopos/Istimewa)
30 April 2018 20:00 WIB Ivan Andimuhtarom Solo Share :

Solopos.com, SOLO -- Kisah misteri menyelimuti pemindahan Arca Dwarapala  saat THR Sriwedari dibongkar pada Februati 2018 lalu. Saking tidak bisanya dibongkat dan dipindah meski sudah digempur menggunakan alat berat, Pemkot Solo akhirnya mengadakan acara Wilujengan--selamatan untuk memindah Arca pada Senin (12/2/2018) lalu.

Tokoh spiritual dari Abdi Dalem Ngulama Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, Kanjeng Raden Tumenggung (K.R.T) Puja Sentanadipura komat-kamit membacakan doa dan berkomunikasi dengan makhluk tak kasat mata yang dipercaya bersemayam pada Arca Dwarapala di lahan bekas Taman Hiburan Remaja (THR) Sriwedari, Senin (12/2/2018) pagi sekitar pukul 08.00 WIB. Ia mengenakan busana Jawa berupa beskap putih lengkap dengan jarit dan blangkon. Ia ditemani dua orang abdi dalem keraton.

Di depannya tersaji nasi tumpeng lengkap dengan ingkung ayam, buah-buahan dan aneka kembang. Para aparatur sipil negara (ASN) dari Dinas Kebudayaan (Disbud) Kota Solo dan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kota Solo turut serta di sana.

Selamatan bernama wilujengan itu memang dimaksudkan untuk memperlancar proses pemindahan dua arca ke Museum Radya Pustaka.  K.R.T Puja Sentanadipura  mengatakan upacara itu dilakukan untuk memperlancar pemindahan dua arca untuk pembangunan Masjid Taman Sriwedari. Menurutnya, arca yang dipindah adalah barang antik sehingga biasanya memiliki kekuatan lain.

“Ini memindah yang menunggu arca. Memang semua dalam kekuasaan Tuhan. Tujuan utama minta keselamatan bisa lancar,” kata dia saat ditemui Solopos.com seusai wilujengan.

Meski sudah berhasil mengangkutnya ke truk, pekerjaan itu belumlah usai. Mereka harus menempatkan arca di depan Museum Radya Pustaka. Proses pemasangan bukan perkara mudah. Banjir harus berkali-kali mengganti posisi eksvator sehingga dapat menempatkan dua arca di bagian paling depan bangunan museum. Arca laki-laki ditempatkan di sisi timur. Sementara arca perempuan ditempatkan di sisi barat. Penempatan dua arca yang juga disebut Reca Abang itu selesai sekitar pukul 09.30 WIB.

Selama masa pemindahan, salah seorang ASN yang tak ingin disebutkan identitasnya, mengatakan jin penunggu arca dan kawasan bekas THR mulanya tidak terima dengan pemindahan tersebut. Perempuan yang bisa melihat makhluk halus itu mengatakan jin laki-laki besar penunggu Arca Dwarapala memang memiliki sifat keras.

“Waktu proses pengangkutan, yang besar itu malah bersandar ke saya. Badannya berat. Saya enggak kuat makanya saya menghindar,” tutur dia saat berbincang dengan Solopos.com

Kemudian, saat arca dipasang di depan Museum Radya Pustaka, para jin itu sebenarnya hendak menggeruduk museum. Namun, mereka takut sehingga hanya berhenti di area Sriwedari.

Perempuan itu tak menjelaskan alasan ketakutan para jin. Ia hanya mengatakan ada tiga jin kuat yaitu sesosok lelaki besar, sesosok jin perempuan yang menempati arca perempuan dan sesosok jin yang bertugas menjadi semacam patih. Mereka sebenarnya memiliki prajurit yang jumlahnya sangat banyak.

“Mereka enggak akan kemari,” terangnya.

Kepala Disbud Solo Kinkin Sultanul Hakim yang juga hadir dalam proses pemindahan arca mengatakan dua arca itu adalah arca tua. Namun keduanya belum masuk objek penelitian.

“Kami sudah mengusahakan memindah dua arca ini sejak sebulan lalu. Tapi selalu gagal,” kata dia.

Pihaknya menduga dua arca ini sebagai benda cagar budaya (BCB). Tim akan segera mengkaji terkait sejarah dan lainnya.

“Semua benda berusia lebih dari 50 tahun patut diduga sebagai BCB. Kalau benar itu BCB, nanti akan ditetapkan melalui SK Wali Kota,” terangnya.

Kabid Pelestarian Cagar Budaya dan Permusiuman Disbud Solo, Mufti Raharjo, mengatakan dua arca itu dulunya mbegegek [berdiri tegak]. Namun, setelah dilakukan selamatan wilujangan, hanya disenggol sedikit saja, arca bisa menggelimpang.

“Arca Dwarapala itu kalau menurut orang Jawa Timur disebut Reca Penthung. Dia tugasnya penjaga gerbang, penjaga serambi, penjaga teras, penjaga pintu depan. Makanya nanti di Radya Pustaka dimuliakan dengan ditempatkan di depan sebagai penjaga,” ujarnya.

Ia mengatakan sebelum berada di kawasan THR, dua arca itu dulunya berada di Bon Raja, dekat kandang gajah. Hal itu kemungkinan sudah terjadi sejak zaman Sampeyandalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan (SIKS) Paku Buwana (PB) X.

“Wilujengan ini untuk memuliakan. Yang menjawab [interaksi dengan penunggu arca] adalah Ngulama Keraton karena ini dulu tlatahnya keraton. Niatnya dimuliakan, tidak disia-sia,” terangnya.