Pembunuhan Klaten: Kasus Anak Bunuh Ibu Tunggu Hasil RS Jiwa

Kabagops Polres Klaten, Kompol Rohadi Pamungkas, menunjukkan barang bukti sebilah golok yang digunakan Budi, 33, warga Dukuh/Desa Pepe, Kecamatan Ngawen untuk membunuh ibunya, Juwariyah, 60. Foto diambil Senin (30/4 - 2018). (Solopos/Taufiq Sidik Prakoso)
30 April 2018 18:30 WIB Taufik Sidik Prakoso Klaten Share :

Solopos.com, KLATEN – Polres Klaten menunggu hasil observasi kejiwaan anak yang menggorok leher ibunya hingga meninggal dunia. Hal itu untuk memastikan kelanjutan proses hukum kepada pelaku.

Seperti diberitakan sebelumnya, Juwariyah, 60, warga Dukuh/Desa Pepe, Kecamatan Ngawen, Klaten ditemukan dalam kondisi meninggal dunia  bersimbah darah di ruang utama rumahnya dengan posisi leher terputus, Minggu (29/4/2018) malam. Kepada warga, anak korban bernama Budi, 33, mengaku membunuh ibunya dengan menggorok leher. Dari peristiwa itu, polisi menyita satu bilah golok sebagai barang bukti.

Kapolres Klaten, AKBP Juli Agung Pramono, melalui Kasatreskrim Polres Klaten, AKP Suardi Jumaing, menjelaskan Budi sudah dibawa ke RSJD Dr. RM. Soedjarwadi guna menjalani observasi kejiwaan.

“Observasi kejiwaan itu minimal 21 hari. Kalau memang RSJD masih membutuhkan observasi lanjutan, nanti akan menyampaikan. Untuk proses hukum lebih lanjut, kami menunggu hasil observasi. Statusnya [Budi] saat ini masih sebagai terlapor,” kata Kasatreskrim saat ditemui wartawan di mapolres, Senin (30/4/2018).

Dari hasil catatan di RSJD, Budi diketahui pernah dirawat di rumah sakit tersebut dan kali terakhir kontrol pada 9 Februari 2018. Ia mulai rutin kontrol kejiwaan di RSJD sejak 2013 silam. “Dia juga masih tercatat dirawat di Dinas Sosial,” katanya.

Kasatreskrim menjelaskan berdasarkan keterangan warga setempat Budi terindikasi mengalami gangguan kejiwaan sejak lulus SMK pada 2003 lalu. Pelaku kerap menyampaikan keinginan untuk bunuh diri. Kali terakhir ia menyampaikan keinginan bunuh diri pada Sabtu (29/4/2018).

“Selama ini kegiatannya [Budi] membantu orangtua di rumah. Kalau mengobrol dengan warga sekitar itu biasa. Namun, kadangkala apa yang diomongkan itu tidak terlalu ditanggapi karena warga sudah tahu kondisinya. Satu hari sebelum kejadian, pelaku menyampaikan akan bunuh diri. Oleh kerabatnya diingatkan jangan melakukan hal itu,” urai dia.

Kasatreskrim mengatakan belum diketahui motif pelaku membunuh ibunya. Saat ditanya polisi, jawaban yang disampaikan Budi tak nyambung dengan pertanyaan yang diajukan. “Untuk motif hingga saat ini belum bisa disampaikan. Belum ada saksi yang melihat langsung kejadian itu. Pelaku juga belum dalam kondisi normal. Ketika ditanya ia berulang kali menyebut bau kembang. Sementara, suami korban masih syok belum bisa dimintai keterangan,” jelas Kasatreskrim.