Bisnis Sejak SD, Omzet Mahasiswa UNS Ini Rp70 Juta Sebulan

Muhammad Yahya Ayyasy (tengah) bersama para pengusaha muda saat mini seminar Life Begins at 20 Di Warung Sate Lawu, Minggu (29/4 - 2018). (Solopos/Nadia Lutia Mawarni)
02 Mei 2018 06:00 WIB Nadia Lutfiana Mawarni Solo Share :

Solopos.com, SOLO--Muhammad Yahya Ayyasy, 21, menemukan jiwa enterpreneurship-nya saat duduk di Kelas V SD. Awalnya, bersama sang ibu, laki-laki yang akrab disapa Ayas ini menghadiri sebuah seminar dengan pembicara pakar bisnis sekaligus penulis buku Jangan Mau Gajian Seumur Hidup, Valentino Dinsi.

Pulang dari acara, dia merasa tertantang menjual buku garapan Dinsi itu. Ayas bahkan dijanjikan sejumlah hadiah uang jika bisa meraup penjualan paling banyak di antara para penjual lain. Tak kehilangan akal, saat itu dia menawarkan buku kepada guru dan pegawai tata usaha di sekolah.

"Saya pernah membuntuti guru itu dan menegosiasikan bisa dibayar setelah gajian," tulis Ayas di bagian awal bukunya Life Begins at 20.

Melalui seminar itu pula, hafiz 30 juz Alquran ini mengenal kosakata baru dalam dunia usaha, seperti marketing, profit, komisi, dan kompetisi.Dalam seminar mini bertajuk serupa, Ayas meragukan ungkapan populer “Hidup yang sebenarnya dimulai pada usia 40 tahun”.

"Kita bisa kok membangun hidup kita sejak muda. Kuncinya kalau kita tidak menyetir sendiri kehidupan, maka kehidupan yang akan menyetir kita," kata mahasiswa Program Studi Manajemen Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo ini.

Dia mengimbau puluhan anak muda yang menghadiri seminar untuk memikirkan rencana masa depan sejak saat ini."Kalian setuju enggak sih, kalau bisnis paling laku saat ini adalah bisnis kafe? Itu karena hobi kita yang lebih suka nongkrong. Merasa masih muda, lalu tiba umur 21, 22, 23, dan hidup masih gini-gini aja, " ungkap pemuda kelahiran Jakarta ini.

Singkat cerita, setelah berhasil menjadi pemenang dalam "kompetisi" menjual buku, Ayas menjajal beragam barang dagangan ketika duduk di bangku SMP, mulai dari pembalut wanita hingga minyak wangi. Passion bisnis itu berlanjut hingga duduk di bangku kuliah. Pada 2015, awal menjejaki dunia kampus, Ayas menjajal berbagai sekolah bisnis, hingga akhirnya sebuah sekolah bisnis mengantarkannya pada usaha medical device yang dia geluti sejak 17 Juli 2017 sampai sekarang.

Medical device merupakan bisnis waralaba (kerja sama bagi hasil) di bidang ekspor-impor penjualan alat-alat kesehatan secara daring (dalam jaringan). Saat awal membangun bisnisnya, Ayas harus mencari dana talangan dengan berbagai cara, termasuk berutang. Cara ini sempat diragukan oleh kedua orang tuanya.

"Saat itu emang keadaan ekonomi keluarga belum begitu baik 'kamu enggak akan bisa' begitu kata orang tua saya," ungkap Ayas.

Namun, omzet yang mencapai Rp70 juta itu mematahkan anggapan orang tuanya.

Lika-Liku perjalanan bisnis Ayas semuanya tertuang dalam buku Life Begins at 20 terbitan Lembayung Embun Cendikala. Buku yang merupakan catatannya sejak duduk di bangku SMA ini dia terbitkan sendiri (self publishing).

"Memang sudah menulis sejak lama, namun baru berkesempatan menerbitkannya saat kuliah, " jelas Ayas.

Saat membuka pre-order, tim marketing berhasil menjual 250 buku, bahkan menembus pasar Malaysia. Akhirnya Ayas menginisiasi seminar mini sekaligus launching buku garapannya di Warung Sate Lawu, Jajar, Laweyan, Minggu (29/4/2018). Dalam acara itu, dia mengajak empat anak muda berusia 20 tahun yang sedang membangun bisnis masing-masing.

Ada Tsabita Galuh Izzati dan Ria Puji Lestari, mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris UNS yang merintis usaha Destination Jannah sejak 2015, sebuah brand pakaian muslimah. Ria dan Tsabita sama-sama meyakini dengan bisnis ini mereka dapat membawa manfaat untuk teman-temannya sesama muslimah. Dasarnya, mereka berdua merasa prihatin melihat tren pakaian muslimah kekinian yang lebih banyak berkiblat ke Korea, atau akrab disebut Korean waves.

Ada juga Arina Vahrina, mahasiswa tingkat akhir Program Studi Kriya Tekstil UNS. Dia membuka jasa foto Arina Memotret sejak 2015. Awalnya nekat dia memakai kamera pinjaman. Arina meyakini memotret adalah passion yang benar-benar dia temukan di dalam dirinya.

"Jadi walau enggak punya kamera tetep nekat motret aja," tutur Arina.

Pengusaha muda lainnya adalah Althofa Khoironi yang membuka jasa U-Jek sejak akhir 2017. Mahasiswa D3 Program Studi Manajemen Perdagangan ini memulai usahanya karena sering melihat perempuan yang lebih memilih berjalan kaki atau naik sepeda ketimbang membonceng lawan jenis. Dari sana, pria yang aktif dalam lembaga dakwah kampus ini menginisiasi ojek khusus perempuan dengan pengemudi ojek yang juga perempuan.

"Memang acara bisnis ini sekaligus menjadi media promosi teman-teman seperjuangan, " ujar Ayas.