Peserta Seleksi Perdes Kwaren Klaten Tuntut Ujian Ulang

Ilustrasi tes seleksi perangkat desa. (Solopos/Dok)
02 Mei 2018 12:15 WIB Taufik Sidik Prakoso Klaten Share :

Solopos.com, KLATEN -- Sejumlah peserta ujian pengisian perangkat desa  (perdes) di Kecamatan Ngawen, Klaten, menuntut ujian diulang. Mereka menilai ada kejanggalan dalam ujian, Minggu (29/4/2018).

Salah satu peserta seleksi perangkat desa asal Desa Kwaren, Kecamatan Ngawen, Abdul Muslih, menilai ada sejumlah kejanggalan dalam ujian seleksi perangkat desa di tempatnya. Salah satu kejanggalan yakni terkait molornya waktu pengumuman dari rencana awal pukul 16.00 WIB.

Hasil ujian baru diumumkan hampir pukul 24.00 WIB. "Apa yang sebenarnya terjadi? Kalau beralasan pesertanya banyak, semestinya sejak awal sudah diantisipasi dengan menambah tim korektor," kata Muslih saat ditemui wartawan di kantor Kecamatan Ngawen, Senin (30/4/2018).

Selain masalah molornya waktu pengumuman hasil ujian perangkat desa, Muslih menilai ada kejanggalan pada penilaian hasil ujian praktik komputer. Ia menuturkan mengerjakan seluruh materi ujian dari microsoft word, excel, serta power point. Hasil kerjaannya sudah disimpan sesuai instruksi.

"Saya sudah mengerjakan soal word dan sudah dikumpulkan melalui flashdisk. Tetapi di sana disampaikan file tidak ada. Lantas ke mana? Padahal jika file tidak sesuai mekanisme ada klarifikasi. Sementara saya tidak dimintai klarifikasi," urai dia.

Karena itulah, ia mempertanyakan validasi hasil ujian. Muslih meminta ujian di seluruh Kecamatan Ngawen diulang. "Saya sudah siapkan pengajuan gugatan ke PTUN," urai dia.

Peserta ujian lainnya asal Desa Kwaren, Cikal, menilai ada pembiaran dari pengawas kepada para peserta yang curang. "Ada sebagian yang tidak bisa mengerjakan saat ujian praktik kemudian berusaha menyontek temannya. Ada juga yang meminta salinan hasil ujian. Itu dilakukan secara terang-terangan. Bahkan di dalam ruangan itu ada pengawas dan itu dibiarkan," katanya.

Koordinator penguji wilayah Kecamatan Ngawen, Yulinda, mengatakan ada sejumlah kesulitan selama proses koreksi hingga membutuhkan waktu cukup lama. Ia mencontohkan ada peserta yang tidak memberikan nama file hasil ujian praktik komputer dengan nomor peserta.

Sebagian peserta memberikan nama file yang akan dikoreksi dengan nama peserta. “Sesuai SOP tanda untuk peserta adalah nomor peserta bukan nama. Kami tidak memegang nama sehingga ketika menemui kendala itu harus mencari dan mencocokkan nomor berapa. Kami selalu konfirmasikan ke TP3D,” kata penguji dari Unwidha itu.

Yulinda mengatakan ada 14 pengoreksi hasil ujian peserta seleksi perangkat desa. Sementara jumlah total peserta seleksi di Kecamatan Ngawen ada 280 orang untuk 31 lowongan perangkat desa.

Disinggung kecurigaan ada pemoloran waktu penyampain hasil koreksi, Yulinda menegaskan tak ada kesengajaan terkait hal itu. Ia kembali menjelaskan butuh waktu untuk melakukan koreksi apalagi jika data peserta dalam hasil pengerjaan tak komplet.

“Kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Ketika ditanya koreksi selesai jam berapa? Kami tidak sampaikan waktunya sampai jam berapa mengingat proses koreksi itu membutuhkan waktu lama. Tak ada sama sekali jeda waktu antara proses koreksi hingga pengumuman hasil ujian,” katanya.