Wonogiri Siaga Kekeringan, Pemerintah Ambil Sikap

Ilustrasi kekeringan Wonogiri (Solopos)
05 Mei 2018 13:30 WIB Ichsan Kholif Rahman Wonogiri Share :

Solopos.com, WONOGIRI – Berdasarkan info prakiraan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) musim kemarau di Kabupaten Wonogiri telah berlangsung pada dasarian ketiga bulan April 2018 atau akhir bulan April 2018.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bambang Haryanto saat dihubungi Solopos.com, Jumat (4/5/2018) mengatakan prakiraan BMKG Kabupaten Wonogiri akan mengalami musim kemarau yakni 21 dasarian atau sekitar tujuh bulan lamannya.

“Untuk itu mohon bantuan kepada seluruh masyarakat secara keseluruhan mengenai kesiapsiagaan dan kewaspadaan terkait dampak musim kemarau yakni ketersediaan air irigasi pertanian serta kebakaran pemukiman, lahan, dan hutan,” ujar Bambang Haryanto.

Ia juga menambahkan rata-rata Provinsi Jawa Tengah akan mengalami musim kemarau selama enam bulan sedangkan Kabupaten Wonogiri akan mengalami kemarau selama tujuh bulan. Dari 25 Kecamatan yang ada di Kabupaten Wonogiri delapan kecamatan di antaranya rawan mengalami kekeringan yakni Kecamatan Giritontro, Kecamatan Pracimantoro,

Kecamatan Paranggupito, Kecamatan Manyaran, Kecamatan Eromoko, Kecamatan Nguntoronadi, Kecamatan Giriwoyo, dan Kecamatan Selogiri (32%) dan 38 desa (12,93%). Sedangkan daerah rawan kebakaran terdapat 12 kecamatan (48%) dan 18 desa (6,12%).

Upaya Pemerintah
Program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas) Kabupaten Wonogiri akan diarahkan ke wilayah selatan kabupaten tersebut, tahun ini. Hal itu dilakukan untuk mengatasi secara permanen bencana kekeringan yang dialami wilayah selatan Wonogiri setiap musim kemarau tiba.

Bupati Wonogiri, Joko Sutopo saat ditemui Solopos.com di ruang kerjanya, Rabu (2/5/2018) mengatakan, Kabupaten Wonogiri tahun ini menerima alokasi Pamsimas dari Dana Alokasi Khusus (DAK) untuk 12 lokasi dan dari dana pendampingan sebanyak 13 lokaso. Total dana yang digelontorkan untuk menjalankan program Pamsimas di kabupaten tersebut mencapai Rp 12 miliar. 

"Sekitar 20 lokasi akan kami arahkan ke selatan. Terutama delapan kecamatan yang sering mengalami kekeringan. Jadi, nanti sosialisasinya cukup untuk delapan kecamatan itu," ujar Joko Sutopo.

Program Pamsimas dari pemerintah pusat akan dikombinasikan dengan program dari Pemkab Wonogiri untuk mengatasi kekeringan secara permanen. 

Sebelumnya, Pemkab Wonogiri tahun 2017 telah mengalokasikan anggaran sebesar Rp 2,6 miliar untuk membangun Instalasi Pengolahan Air di Luweng Kuthah, Kecamatan Paranggupito. Dengan cara itu, air bisa disalurkan kepada 554 keluarga yang terdiri atas 1.300 jiwa.

Tahun 2018 ini pihaknya mengalokasikan dana sebesar Rp10 miliar. Sebagian besar atau sebanyak Rp 6 miliar digunakan untuk memaksimalkan Sumber Waru. Dana sebesar Rp1 miliar lainnya diarahkan untuk mengatasi kekeringan di Gua Tirto, Kecamatan Giritontro dan Rp1 miliar lagi untuk Desa Basuhan, Kecamatan Eromoko dan sisanya akan di bangun sumur-sumur artesis di wilayah yang berpotensi.