Kisah Pohon Jati Jadi Asale Desa Sukomangu Wonogiri

Pengunjung mengamati kawasan Punden Ki Ageng Donoloyo di Desa Watusomo, Slogohimo, Wonogiri, belum lama ini. (Istimewa/Bagian Humas Setda Wonogiri)
06 Mei 2018 12:15 WIB Rudi Hartono Wonogiri Share :

Solopos.com, WONOGIRI -- Punden Ki Ageng Donoloyo di kawasan hutan jati Donoloyo di Desa Watusomo, Slogohimo, Wonogiri, menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Wonogiri. Punden itu erat kaitannya dengan dua punden lainnya, yakni Punden Sukomangu di Desa Sukomangu, Kecamatan Purwantoro, dan Punden Jati Denok di Desa Made, Slogohimo.

Keduanya berwujud pohon jati. Keberadaan ketiga punden tak terlepas dari kisah perjalanan Danakusuma, seorang pangeran dari Kerajaan Majapahit, dari Sokoboyo, Slogohimo, ke Watusomo. Masyarakat sekitar masih melestarikan ketiga tempat tersebut hingga sekarang. Bahkan, saat malam Jumat Legi banyak warga dari berbagai daerah bertirakat di Punden Ki Ageng Donoloyo.

Pemerhati seni dan budaya dari Slogohimo, Kun Prastowo, kepada Solopos.com, Jumat (4/5/2018), menceritakan ketiga punden tersebut dipercaya dibangun pada masa menjelang berakhirnya Kerajaan Majapahit hingga dibangunnya Masjid Agung Demak. Kisah bermula  saat Pangeran Danakusuma bersama kakak perempuannya, Raden Ayu Banawati, meninggalkan Kerajaan Majapahit bersama teman seperguruan Danakusuma, Raden Meleng, menuju barat.

Suatu ketika mereka menetap di sebuah desa bernama Sokoboyo. Seiring berjalannya waktu Raden Meleng menikah dengan Banawati. Sementara Danakusuma memilih menetap di wilayah bernama Watusomo (yang berjarak sekitar 10 km dari Sokoboyo).

Suatu hari saat berjalan di suatu daerah sambil membawa janggleng atau biji buah pohon jati, Meleng dan istrinya dicegat dua begal, Braja Geni dan Braja Lintang. Namun, Meleng berhasil mengalahkan mereka dan kedua begal dijadikan pengawal.

Singkat cerita Meleng menanam janggleng di Sokoboyo. Tahun demi tahun berlalu kawasan Sokoboyo menjadi kawasan hutan jati. Mendengar kabar itu, Danakusuma pergi ke Sokoboyo menemui Meleng untuk meminta pohon jati.

Namun, Meleng tak membolehkannya. Melihat adik kandungnya kecewa, Banawati tak tega. Dia diam-diam memberi Danakusuma tiga janggleng dan dimasukkan ke bambu wulung yang digunakan Danakusuma sebagai tongkat. Setelah mendapat janggleng, Danakusuma meninggalkan Sokoboyo.

“Dalam perjalanan Danakusuma termangu atau bingung mau pergi ke Watusomo atau ke Majapahit. Di suatu tempat satu biji janggleng jatuh. Suatu ketika janggleng itu tumbuh hingga menjadi pohon jati besar. Sampai akhirnya jati itu disebut jati sukomangu dan sekarang menjadi punden [latar belakang Desa Sukomangu],” kata lelaki yang akrab disapa Ikun itu.

Setelah berpikir panjang, Danakusuma memutuskan kembeli ke Watusomo. Dalam perjalanan, satu biji janggleng jatuh di suatu tempat. Suatu hari Janggleng itu tumbuh dan menjadi jati besar yang disebut jati denok atau jati wedok (perempuan).

Setelah berjalan lama Danakusuma sampai juga di Watusomo. Dia menanam janggleng yang tinggal satu biji di depan rumahnya hingga tumbuh menjadi pohon besar dan lurus. Jati itu disebut jati cempurung. Masa demi masa berlalu hingga akhirnya Watusomo menjadi kawasan hutan jati.

Suatu hari Meleng mendengar kabar itu dan melabrak Danakusuma karena curiga bibit jati miliknya dicuri. “Saat itu Meleng mengutuk siapa pun yang membawa daun, ranting, atau pohon jati dari Watusomo ke Sokoboyo, Watusomo akan terjadi bencana. Selain itu orang Sokoboyo dilarang dijodohkan dengan orang Watusomo. Apabila kutukan itu dilanggar, kemalangan akan menimpa pasangan dari kedua wilayah tersebut. Sampai sekarang masih ada warga yang meyakininya,” imbuh Kun Prastowo.

Suatu hari Kerajaan Demak mendengar ada pohon jati besar dan berkualitas bagus di Watusomo. Lalu Raja Demak mengutus Sunan Giri mencari pohon jati itu untuk material masjid  agung di Demak.

Setelah menyampaikan niat, Danakusuma mempersilakan Sunan Giri menebang jati cempurung miliknya. Setelah mendapatkan pohon sesuai keinginannya, Sunan Giri memberi Danakusuma sebuah nama, yakni Ki Ageng Danalaya yang kebanyakan orang menyebutnya Donoloyo. Dana berarti pemberian dan laya berarti tempat.

Danalaya diartikan tempat diberikannya jati cempurung. Pohon jati cempurung kini diyakini menjadi salah satu saka guru Masjid Agung Demak. “Jadi, wujud Punden Ki Ageng Donoloyo bukan makam, tapi tunggak [pangkal] jati cempurung milik Pangeran Danakusuma,” ulas Kun Prastowo.