Kekeringan, Sawah di Mondokan Sragen Gagal Panen

Seorang petani menyunggi ikatan tanaman padi yang habis dipangkas karena mengalami kekeringan di lahan pertanian Desa Kedawung, Mondokan, Sragen, Minggu (6/5 - 2018). (Solopos/Tri Rahayu)
07 Mei 2018 05:00 WIB Tri Rahayu Sragen Share :

Solopos.com, SRAGEN—Sebanyak 50 hektare tanaman padi tadah hujan di wilayah Kecamatan Mondokan, Sragen mengalami gagal panen karena kekurangan air. Ratusan petani di kecamatan tersebut mengalami kerugian sampai ratusan juta rupiah.

Rata-rata padi yang gagal panen sudah berumur 2 bulan. Tak sedikit petani yang terpaksa harus memanen dini meskipun hasilnya tak bisa diharapkan karena banyak gabah yang kosong. Tumiyem, warga Desa Kedawung, Mondokan, Sragen, saat ditemui Solopos.com di sawahnya, Minggu (6/5/2018), mengaku tanaman padinya dipangkasi sendiri dan dibawa pulang dengan menggunakan motor. Tumiyem mengaku mengalami rugi besar karena prediksinya hanya bisa menikmati hasil sepertiga dari panennya.

“Ini kekurangan air sehingga tanamannya mengering dan gabahnya banyak yang tidak berisi. Kejadian ini terjadi sejak dua bulan yang lalu. Banyak petani lain yang harus memangkas tanaman padinya untuk pakan ternak,” ujarnya.

Koordinator Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Mondokan, Sragen, Nyono Hari, mengatakan secara umum selama tiga pekan terakhir tidak terjadi hujan di Mondokan. Dari luas lahan untuk bertanam padi 1.600 hektare di Mondokan, sebut dia, hanya 50 hektare di antaranya yang sudah mengalami gagal panen. Dia menjelaskan para petani di Mondokan praktis hanya mengandalkan air hujan. Pengalaman tahun-tahun sebelumnya, kata Nyono, pada April-Mei masih ada hujan yang diandalkan petani tetapi pada April-Mei 2018 nyaris tak ada hujan.

“Dampaknya ya tanaman padi yang siap menunggu panen tidak bisa panen. Selama bertahun-tahun, ya baru kali ini terjadi. Alam ini menunjukkan musim kemarau akan berlangsung panjang. Cuaca tahun ini di luar prediksi petani,” ujarnya.

Sebanyak 50 hektare tanaman padi itu tak ada yang diikutkan program asuransi tani. Nyono menyampaikan kalau kekeringannya saat setelah tanam itu tak banyak kerugian tetapi petani sudah tanam dan memupuk dua kali. Rata-rata biaya yang dikeluarkan, kata dia, mencapai Rp5 juta-Rp6 juta per hektare.

“Jadi kerugiannya ya tinggal mengalikan, Rp5 juta kali 50 hektare. Rp250 juta kerugian yang bisa dihitung. Kalau 20 tahun lalu ada kompensasi kekeringan dari pemerintah. Tetapi tahun ini tidak ada kompensasi itu,” terangnya.

Nyono berharap ada perhatian dari pemerintah agar ada solusi untuk petani Mondokan. Dia mencatat ada lima embung di Mondokan tetapi tidak ada airnya karena hanya mengandalkan tangkapan air hujan. Selain itu, Nyono juga mencatat ada dua sumur dalam tetapi hanya tinggal satu sumur yang berfungsi.

“Sumur itu disedot dengan generator sehingga membutuhkan beban biaya tinggi,” tuturnya.