Grand Canyon & Socokongsi Dijadikan Wisata Spiritual Klaten

Kepala Desa (Kades) Socokangsi, Wingsang Trenggono, meninjau lokasi wisata Grand Canyon Kali Gethuk di Desa Socokangsi, Kecamatan Jatinom, Jumat (18/5 - 2018). (Solopos/Cahyadi Kurniawan)
19 Mei 2018 01:00 WIB Cahyadi Kurniawan Klaten Share :

Solopos.com, KLATEN--Nama Socokangsi, Kecamatan Jatinom, Kabupaten Klaten, mulai populer di masyarakat sejak dibukanya objek wisata Grand Canyon Socokangsi. Wisata itu memanfaatkan tebing Kali Gethuk yang menyerupai Grand Canyon ditambah airnya yang mengalir jernih.

Di desa berpenduduk 5.000 jiwa itu juga terdapat makam tokoh setempat Somodirjo atau dikenal Makam Mbah Jubah Ijo. Makam itu kerap menjadi jujugan tokoh-tokoh berziarah. Tak jauh dari makam, ada sebuah pancuran dan gua peninggalan Belanda.

"Dari Grand Canyon ke Kali Gethuk ke makam ada satu kesatuan yang tak bisa dipisahkan secara spiritual. Ini yang akan kami kembangkan sebagai wisata spiritual mendatang," kata Kepala Desa (Kades) Socokangsi, Wingsang Trenggono, saat ditemui Solopos.com di kantornya, Jumat (18/5/2018).

Tak hanya itu, di desa seluas 298,335 hektare itu juga terdapat puing-puing bekas pabrik kapas peninggalan Belanda. Pilar dan cerobong masih bisa dijumpai tak jauh dari Grand Canyon. Keberadaan puing-puing itu menambah potensi wisata Socokangsi untuk diperluas konsepnya menjadi wisata sejarah atau wisata edukasi.

"Berhubung desa belum punya master plan pembangunan, saya sedang susun master plan desa terlebih dahulu. Dokumen itu tidak hanya pengembangan wisata, termasuk sektor lainnya seperti ekonomi, kesehatan, pendidikan, dan lainnya. Hal ini akan memudahkan siapapun yang memerintah di Socokangsi bisa menjalankannya," imbuh Wingsang.

Kades yang membawahi tiga kadus, 51 RT, dan 25 RW itu mencontohkan rencana pengembangan itu misalnya di sebelah pancuran ada lahan cukup luas untuk dikembangkan jadi hutan desa. Di kawasan itu juga digelar kegiatan outbond, flying fox, dan lainnya.

"Program ini diharapkan bisa berkelanjutan. Apalagi didukung masyarakat yang mampu berpikir panjang dan kritis," tutur Kades.

Pengembangan wisata di Socokangsi tidaklah mudah. Kades menuturkan masyarakat di sekitar lokasi banyak menggantungkan hidupnya dari pasir Kali Gethuk. Perlu proses panjang untuk mengubah paradigma masyarakat agar beralih profesi dan medapatkan nilai lebih. Mereka perlu dibekali keterampilan guna memberikan nilai tambah dari potensi lokal seperti bambu dan singkong.

"Kami perlahan-lahan mulai pendekatan dengan warga agar berpartisipasi dalam pengembangan wisata. Tahun ini, kami fokus dahulu pada pembenahan infrastruktur. Pengembangan wisata Socokangsi baru bisa diusulkan tahun depan setelah master plan jadi. Butuh investasi untuk menuju kemandirian desa. Hal itu harus dimulai sejak sekarang," ujar Wingsang.