Pedagang sekitar Joglo Sriwedari Solo Harus Angkat Kaki setelah Lebaran

Taman Sriwedari Solo. (Solopos/M. Ferri Setiawan)
21 Mei 2018 23:15 WIB Indah Septiyaning Wardhani Solo Share :

Solopos.com, SOLO -- Pemerintah Kota (Pemkot) Solo memberi batas waktu bagi pemilik kios dan pedagang kaki lima (PKL) di barat Joglo Sriwedari untuk angkat kaki setelah Lebaran. Hal ini seiring bakal dimulainya pembangunan Masjid Taman Sriwedari.

Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Solo Hasta Gunawan menyampaikan hal tersebut saat memimpin Sosialisasi Penataan Kawasan Sriwedari di Gedung Graha Wisata Niaga, Senin (21/5/2018). Sosialisasi dihadiri Satpol PP, Dinas Perdagangan (Disdag), dan diikuti pemilik kios dan PKL terdampak pembangunan Masjid Taman Sriwedari.

“Material pembangunan diperkirakan tiba di lokasi setelah Lebaran. Otomatis juga akan dipasang pagar di sekeliling lokasi pembangunan masjid,” kata Hasta.

Setidaknya terdapat 12 kios mengantongi surat izin penempatan (SIP) di barat Joglo Sriwedari yang bakal terdampak pembangunan masjid. Pembongkaran 12 kios tersebut menjadi skala prioritas Pemkot untuk pembongkaran menjelang dimulainya pembangunan Masjid Taman Sriwedari.

Selain ongkos bongkar, Pemkot Solo menyiapkan solusi penempatan sementara di selter Sriwedari sampai Pemkot membuatkan kios permanen untuk mereka. Opsi lainnya, Pemkot membuatkan kios darurat di lokasi lain.

“Ini baru solusi sementara, belum diputuskan. Yang jelas mereka dapat ongkos bongkar,” katanya.

Kepala Bidang (Kabid) PKL Disdag Solo Didik Anggono mengatakan selter kuliner Sriwedari ditawarkan bagi pemilik kios yang berminat. Pemkot kesulitan jika harus membuatkan kios darurat untuk menampung 12 pemilik kios terdampak pembangunan masjid.

“Kita tidak punya anggaran untuk membangun kios darurat. Jadi tawaran kami solusinya hanya selter kuliner Sriwedari,” katanya.

Usulan penempatan sementara di selter kuliner Sriwedari langsung ditolak para pemilik kios di barat Joglo Sriwedari. Mereka menilai ukuran kios selter kuliner Sriwedari terlalu kecil dan tidak mampu menampung barang dagangan mereka.

“Kondisi selter juga terbuka. Padahal dagangan kami seperti mainan, gerabah, dan lain-lain, nanti bagaimana?” kata salah satu pemilik kios, Joko Sukamto.

Pemilik kios akan membahas lebih lanjut untuk menyikapi kebijakan Pemkot merelokasi mereka ke selter kuliner Sriwedari. Sikap tersebut bukanlah bentuk penolakan terhadap kebijakan Pemkot dalam menata kawasan Sriwedari.

“Kami mendukung Pemkot menata Sriwedari. Tapi untuk masalah dipindah sementara ke selter Sriwedari perlu kami bahas lebih lanjut,” katanya.

Dia tetap meminta Pemkot mempertimbangkan kembali rencana penempatan sementara ke selter kuliner Sriwedari. Mereka mengajukan opsi alternatif seperti timur Panahan sebagai lokasi sementara bagi mereka.

Hal senada disampaikan PKL Sriwedari lainnya, Semi, yang meminta Pemkot tidak merelokasi pedagang ke selter kuliner Sriwedari. “Lokasinya terlalu sempit, jadi saya mohon pertimbangkan lagi,” pintanya.