Krisis Air di Kemalang Klaten, Truk Tangki Kebanjiran Order

Sopir truk mengambil air bersih dari sumber mata air Kali Brondong, Dukuh/Desa Kadilajo, Kecamatan Karangnongko, Klaten, Selasa (22/5 - 2018). (Solopos/Taufiq Sidik Prakoso)
23 Mei 2018 09:40 WIB Taufik Sidik Prakoso Klaten Share :

Solopos.com, KLATEN -- Permintaan air bersih di wilayah Kecamatan Kemalang, Klaten, meningkat seiring musim kemarau. Sumber mata air pun kebanjiran truk tangki yang mengambil air bersih pesanan warga.

Salah satu sumber mata air yang ramai didatangi truk tangki yakni Kali Brondong di Dukuh/Desa Kadilajo, Kecamatan Karangnongko, Klaten. Sumber mata air itu berada tak jauh dari Pasar Kembang, Desa Keputran, Kecamatan Kemalang.

Salah satu penyedia jasa pembelian air bersih, Dalisih, 42, mengatakan permintaan pembelian air ramai sepekan terakhir. Kebanyakan pesanan dari warga Desa Kendalsari dan Sidorejo, Kecamatan Kemalang.

“Hari ini ada delapan permintaan pembelian air bersih. Kemungkinan permintaan meningkat pada pertengahan Ramadan,” kata Dalisih saat berbincang dengan Solopos.com di Kali Brondong, Selasa (22/5/2018).

Saban hari, Dalisih bisa lima kali bolak balik ke Kali Brondong. Rata-rata, air bersih ia jual seharga Rp170.000 per tangki berkapasitas 6.600 liter. Harga itu untuk wilayah Desa Sidorejo hingga Desa Tlogowatu. Sementara untuk wilayah Desa Tegalmulyo, harganya lebih tinggi lantaran lokasinya lebih jauh.

Dalam menjalankan usaha jual beli air bersih itu, Dalisih menuturkan ia dan kernet mengambil keuntungan sepertiga dari pendapatan yang diperoleh saban hari. “Sepertiga digunakan untuk operasional,” urai dia.

Setiap pengambilan air, Dalisih mengeluarkan biaya Rp10.000 kepada warga yang ditugaskan di sekitar Kali Brondong. Saat melayani pesanan air bersih, Dalisih mengaku hanya terkendala akses jalan utama yang rusak seperti ruas antara Desa Kemalang dan Desa Dompol.

Petugas penjaga portal tangki air RW 001, Dukuh/Desa Kadilajo, Andri, 30, mengatakan truk tangki mulai berdatangan ke Kali Brondong dua pekan terakhir. Rata-rata per hari ada 10 truk tangki yang mengambil air dari sumber mata air tersebut.

Andri menjelaskan biaya yang dibebankan kepada sopir truk untuk pengambilan air senilai Rp10.000 bukan untuk pembelian air. Biaya itu dibebankan oleh warga sebagai kompensasi lantaran truk melintasi jalan perkampungan.

“Kami tidak menarik biaya airnya melainkan karena truk ini lewat jalan kampung tentu berdampak pada kerusakan jalan. Dari beban biaya itu, nanti dikembalikan lagi untuk perawatan jalan,” urai dia.