Akses Keluar Masuk Taman Sriwedari Solo Ditata Ulang

Pengendara motor melintas di kompleks Taman Sriwedari, Solo, Selasa (3/4 - 2018). (Solopos/M. Ferri Setiawan)
31 Mei 2018 03:00 WIB Indah Septiyaning Wardhani Solo Share :

Solopos.com, SOLO--Pemerintah Kota (Pemkot) Solo akan menata ulang akses keluar masuk bagi pengunjung kawasan Sriwedari. Hal ini seiring bakal dimulainya pembangunan Masjid Taman Sriwedari seusai Lebaran nanti.

Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Solo Hasta Gunawan mengatakan pembangunan Masjid Taman Sriwedari akan berdampak terhadap akses keluar masuk pengunjung kawasan setempat. Dengan demikian Pemkot perlu menata ulang akses pengunjung, agar pembangunan berjalan lancar.

“Jadi saat pembangunan [Masjid Taman Sriwedari] akses pintu masuk dari arah utara akan ditutup,” kata dia ketika berbincang dengan Solopos.com, Minggu (27/5/2018).

Sebagai pengganti, akses keluar masuk pengunjung dari arah utara hendak ke selatan atau sebaliknya nanti akan dialihkan melalui pintu selatan. Hal ini pun secara otomatis akses bagi pengunjung Gedung Wayang Orang (GWO) dialihkan dari pintu selatan. Padahal akses jalan sisi selatan GWO kondisinya memprihatinkan, yakni berlubang.

Tidak ada perbaikan sejak beberapa tahun terakhir. Selama ini perawatan hanya berupa pengurukan dengan pasir dan batu. Jika diguyur hujan, jalan selebar enam meter itu menjadi genangan yang sangat membahayakan.

“Nanti kami coba untuk diperbaiki sementara oleh Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPU PR). Kami akan koordinasikan,” katanya.

Hasta memastikan GWO tetap beroperasi selama proyek pembangunan Masjid Taman Sriwedari mulai berjalan. Para seniman GWO akan pentas setiap hari hingga Pemkot membangun gedung GWO baru yang tak jauh dari lokasi lama. Meski akses masuk dari sisi utara ditutup, Hasta menyakini pengunjung GWO tidak berkurang.

“Joglo Sriwedari juga masih bisa untuk aktivitas. Jadi GWO dan Joglo masih belum dibongkar,” katanya.

Pemkot tengah menyiapkan pembangunan gedung GWO baru. Sumber pendanaan melalui corporate social responsibility (CSR) dipayakan Pemkot Solo untuk pembangunan GWO hingga penataan taman di kawasan tersebut.

Kepala Badan Perencanaan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Bappeda) Solo Ahyani mengatakan Pemkot akan membangun ulang GWO Sriwedari dengan kualitas internasional yang tidak kehilangan karakter tradisional dan budaya. Pembangunan GWO akan dikerjakan tahun ini melalui sumber pendanaan dari CSR.

“Butuh anggaran besar untuk membangun GWO. Gedungnya saja butuh Rp64 miliar, belum fasilitas pendukungnya. Kalau mengandalkan APBD tidak mungkin, sehingga kami mencari dana CSR,” kata dia.

Sesuai konsep, GWO akan dibangun lebih modern dengan ruang panggung yang dinamis, penataan akustik baik dan diperhitungkan dengan detail. Selain itu tatanan kursi yang nyaman, dan fasilitas penunjang yang bagi untuk pemain. Semua peningkatan ini guna meningkatkan kualitas pertunjukan Wayang Orang Sriwedari dimasa datang serta meningkatkan antusiasme dan jumlah pengunjung.

Menurutnya, Solo memiliki banyak potensi pariwisata yang menarik, salah satunya Wayang Orang Sriwedari. Wayang Orang Sriwedari merupakan contoh kesenian tradisional yang telah bertahan lebih dari 107 tahun dan kini memerlukan perhatian khusus dari masyarakat dan Pemkot Solo. Partisipasi publik serta kolaborasi multidisiplin dalam merancang bentuk desain ideal GWO Sriwedari inilah memberikan pendekatan baru masyarakat dalam mendukung program kerja Pemkot Solo.

“Kami menargetkan GWO Sriwedari mulai dibangun 2018,” katanya.